Masa Depan Pendidikan Pesantren Pasca Covid-19

Sabtu 30 Mei 2020 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 30 614 2221828 masa-depan-pendidikan-pesantren-pasca-covid-19-qm1Vy5781t.jpg Santri Pondok Pesantren

Pondok pesantren merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana siswa-siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan kyai atau guru.

Kompleks pondok pesantren biasanya dikelilingi oleh tembok yang membatasi antara lahan pondok pesantren dengan perkampungan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar santri tidak terganggu dalam proses belajarnya namun tetap bisa berhubungan dengan warga masyarakat sekitar pondok pesantren dikala senggang.

Kemudian dalam proses belajar dan mengajarnya, para guru atau kiai di pondok pesantren lebih sering menggunakan sistem sorogan. Dengan kitab kuning (karena kertasnya berwarna kuning) berupa kitab-kitab klasik terutama karangan-karangan ulama yang menganut paham Imam Syafi’i, Imam hanafi, Imam Hambali dan Imam Maliki sebagai pegangannya.

Sebelum memulai pengajiban kitab kuning, bagi santri terlebih dahulu diwajibkan memahami dan mengetahui seluk beluk tata bahasa Arab, mulai dari menghafal hingga pada mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari mulai dari percakapan hingga penulisan. Meskipun dalam perkembangannya banyak pondok pesantren yang juga membuka sekolah-sekolah umum. Hal ini bertujuan agar para santri tidak hanya memahami ilmu agama an sich, namun juga ilmu umum sebagaimana sekolah-sekolah diluar pondok pesantren.

(Baca Juga : Tradisi Sungkem Lebaran Selebritis, Sesuai Syariat Islam?)

Sedangkan untuk pengajian Al-qur’an sendiri, pondok pesantren umumnya menerapkan sistem setoran bacaan dimana santri langsung berhadap-hadapan dengan ustad atau guru ngajinya satu per satu. Karena para santri harus memahami betul mahrojidul huruf nya sehingga tidak mengalami kesalahan fatal dalam membaca ayat suci Al-Qur’an yang akibatnya akan berbeda makna awalnya karena berbeda dalam pelafalannya.

Munculnya COVID-19

Awal tahun 2020 dunia dikejutkan dengan munculnya wabah virus corona (covid-19) yang awalnya muncul di kota Wuhan China yang kemudian menyebar keseluruh dunia termasuk juga Indonesia. Bahkan Makkah al mukaromah yang biasanya tidak pernah sepi dari penziarah ka’bah ditutup demi menghindari terjangkitnya virus corona yang telah menelan ribuan nyawa manusia.

Virus corona juga telah meluluh lantakkan perekonomian dunia baik perekonomian yang berhubungan dengan ibadah seperti umroh dan haji, pendidikan, maupun yang murni ekonomi an sich seperti pasar, mall, gedung bioskop hingga sarana transportasi darat, udara dan laut.

(Baca Juga : Viral Video Imam Sholat Idul Fitri Lari Tinggalkan Jamaah karena Didatangi Polisi)

Virus corona atau coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti halnya penyakit flu. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virus lain pada umunya seperti melalui percikan air liur pengidap (batuk dan bersin), menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi, menyentuh mata, hidung atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona.

Begitu mudahnya virus ini menyerang sehingga akhirnya banyak negara di dunia yang menerapkan lockdown hingga yang paling ringan adalah PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) demi mencegahnya tumbuh dan berkembangnya virus corona ini.

Tidak dapat dipungkiri wabah covid-19 atau coronavirus ini telah mengubah tatanan manusia di dunia yang semula dapat dengan mudah bersosialisasi, mengadakan perkumpulan dengan jumlah banyak maupun sedikit, seminar-seminar, pegajian dan sholawatan menjadi dilarang dan berubah dengan penerapan social distancing atau juga physical distancing dengan melalui pertemuan virtual maupun obrolan dan diskusi off air berjarak minimal 1 meter. Bahkan bersalaman-pun yang dulunya wajib atau sunnah ketika bertemu kolega, sahabat atau orang tua menjadi dilarang demi menjaga menjalarnya wabah virus covid-19 ini.

Bagaimana dengan pondok pesantren?

Pesantren ini memang sistem pendidikan yang unik. Selain dikenal dengan berbiaya murah dan menjangkau segala lapisan masyarakat dari segi historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous), sebab lembaga yang serupa pesantren ini sudah ada di nusantara sejak zaman kekuasaan Hindu-Budha. Sehingga para kiai tinggal meneruskan dan mengislamkan lembaga tersebut (Ali machan moesa,2010).

(Baca Juga : 4 Nabi yang Dipercayai Masih Hidup Sampai saat Ini)

Pesantren berdiri juga sebagai upaya ulama untuk “tafaqquh fid din” yakni upaya untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan Islam kepada para santri dan juga masyarakat sekitar. Karena itulah selain fungsi tradisionalnya sebagai lembaga pendidikan yang mendidik pada santrinya, pesantren juga merupakan lembaga dakwah. Sehingga pesantren pada umumnya menempel dengan perkampungan atau desa. Fenomena ini menyebabkan model pesantren terbagi menjadi tiga, yaitu pesantren modern, semi modern dan pesantren salaf (kuno) karena tidak mengajarkan pendidikan umum sama sekali.

Dengan karakteristik pesantren seperti itu, maka wabah covid-19 ini mau tidak mau membuat para pengasuh pondok pesantren baik modern, semi modern apalagi salaf harus segera berbenah dengan melakukan modivikasi pendidikan agama di pondoknya. Karena tidak mungkin pengajaran ilmu agama selalu dilakukan secara virtual, ataupun bahkan para pengasuh pondok pesantren mengabaikan protap kesehatan yang telah ditetapkan oleh gugus covid-19 baik oleh pemerintah pusat maupun daerah karena virus ini terbukti telah merenggut ribuan korban jiwa.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Salah satu upaya tersebut adalah dengan menerapkan standart kebersihan tingkat tinggi di pondok pesantren. Perlu dibentuknya tim kesehatan khusus yang bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk terus memantau kesehatan dan kebersihan ruangan santri yang mana sebelumnya ini tidak pernah ada khususnya di pondok pesantren salaf.

Memang ini tidak mudah dan tentunya membutuhkan biaya yang tidak murah untuk menggaji petugas kesehatan, menyiapkan obat-obatan dan vitamin bagi para santri. Namun inilah ikhtiar yang paling memungkinkan dapat dilakukan dibandingkan dengan memulangkan santri dan menunda pemberlakukan proses belajar-mengajar sampai batas yang tidak dapat ditentukan. Karena ini tentunya merugikan juga bagi santri dimana seharusnya ilmu mereka bertambah namun karen dipulangkan maka konsentrasi belajar mereka berkurang apalagi hilang.

Apalagi metode pendidikan jarak jauh atau virtual dengan kondisi alam Indonesia yang beragam juga berpengaruh pada kualitas jaringan atau akses internet. Sedangkan tidak semua santri melek teknologi dan mempunyai kecukupan biaya untuk membeli kuota internet. Maka diperlukan pendidikan yang memanusiakan manusia yang setara dan memudahkan bagi semua golongan manusia.

(Baca Juga: Ketika Kening Bertakwa, Lidah Memfitnah)

Sebagaimana disebutkan oleh Paulo Freire pendidikan yang ideal seharusnya berorientasi kepada nilai-nilai humanisme. Humanisme di sini adalah manusia sebagai pelaku atau subjek bukan penderita atau objek.

Sudah saatnya negara memperhatikan secara sejajar dan adil akan kualitas pendidikan pondok pesantren dengan pendidikan formal melalui diterapkannya secara penuh UU tentang Pondok Pesantren. Wallahu a’lam

Iwan Unila

Oleh : M.Iwan Satriawan

Penulis adalah dosen Universitas Lampung (Unila)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya