Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan sejumlah keutamaan membaca doa atau zikir masuk pasar di tengah kelalaian masyarakat dalam mengingat Allah Subhanahu wa ta'ala. Di antaranya:
1. Zikir ini akan lebih rahasia. Sementara amal sunah yang lebih rahasia, nilainya lebih besar. Maka itu, zikir di keramaian hendaknya dibaca pelan, tanpa menggunakan tasbih.
2. Amal ini lebih berat dilakukan, karena umumnya manusia akan mengikuti apa yang dilakukan masyarakat di sekitarnya. Lalu semakin berat amal itu dikerjakan, pahalanya semakin besar.
3. Berzikir di tengah kelalaian masyarakat menjadi sebab Allah tidak menurunkan azab kepada mereka. Ibnu Rajab menyebutkan:
قال بعض السلف: ذاكر الله في الغافلين كمثل الذي يحمي الفئة المنهزمة ولولا من يذكر الله في غفلة الناس لهلك الناس
Sebagian ulama salaf mengatakan, "Berzikir mengingat Allah di tengah orang yang lupa Allah, ibarat orang yang melindungi sekelompok masyarakat yang lemah. Andaikan bukan karena keberadaan orang yang berdzikir di tengah kelalaian manusia, niscaya mereka akan binasa." (Lathaif al-Ma'arif halaman 133).

Dijelaskan, terdapat juga kisah menakjubkan mengenai doa masuk pasar ini. Diceritakan oleh seorang ulama tabiin Abu Qilabah (wafat 104H):
التقى رجلان في السوق فقال أحدهما للآخر تعال نستغفر الله في غفلة الناس ففعل فمات أحدهما فلقيه الآخر في النوم فقال علمت أن الله غفر لنا عشية التقينا في السوق
Artinya: "Ada dua orang mukmin yang ketemu di pasar. Kemudian yang satu menasihatkan kepada temannya, 'Mari kita memohon ampun kepada Allah di tengah kelalaian manusia.' Keduanya pun banyak membaca istighfar. Suatu ketika salah satu orang ini meninggal. Tiba-tiba yang hidup bertemu temannya itu dalam mimpi. Dia berpesan, 'Tahukah kamu, ternyata Allah mengampuni dosa kita sore hari ketika kita ketemu di pasar.' (At-Targhib wa at-Tarhib Nomor 2620)
(Hantoro)