Hukum Bekali Anak dengan Smartphone Menurut Pandangan Islam

Rizka Diputra, Jurnalis · Minggu 21 Juni 2020 17:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 21 614 2233873 hukum-bekali-anak-dengan-smartphone-menurut-pandangan-islam-L3i2qF8pSp.JPG ilustrasi (Foto: Freepik)

SMARTPHONE atau ponsel pintar dewasa ini kian digandrungi masyarakat, dengan berbagai inovasinya yang semakin canggih. Bahkan, anak-anak pun kini tak bisa jauh-jauh dari benda canggih ini. Meski untuk sekadar bermain game online. Di zaman serba canggih, tak dipungkiri jika smartphone menjadi salah satu kebutuhan.

Banyak orangtua memfasilitasi anaknya dengan smartphone, tablet atau papaun namanya. Tujuannya beragam, mulai untuk hiburan semata hingga sebagai media edukasi. Lantas, bagaimana Islam memandang hukum orangtua membekali anaknya dengan smartphone ini?

Baca juga: Hukum Merayakan Ulang Tahun Menurut Syariat Islam

Dikutip dari laman Pesantren Lirboyo, pengarang Kitab Ihya 'Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan:

وَيَنْبَغِي أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ بَعْدَ الِانْصِرَافِ مِنِ الْكُتَّابِ أَنْ يَلْعَبَ لَعِبًا جَمِيلًا يَسْتَرِيحُ إِلَيْهِ مِنْ تَعَبِ الْمَكْتَبِ

Artinya: “Hendaklah bagi orangtua mengizinkan anaknya setelah pulang dari sekolah untuk bermain dengan media permainan positif sehingga anaknya dapat beristirahat dari kejenuhan belajar namun tidak sampai berlebihan dalam bermain,” (Lihat: Ihya’ Ulum ad-Din, III/73).

Kendati orangtua boleh-boleh saja memberi fasilitas permainan semisal smartphone atau sejenisnya, namun tetap mereka berkewajiban mengontrol, mengarahkan, dan mengawasinya sebagai upaya agar anak dapat terhindar dari dampak negatif dari ponsel pintar tersebut. Syaikh Husein al-Halimi menegaskan:

وَأَمَّا الصِّبْيَانُ فَكُلُّ لَعْبٍ اشْتَغَلُوْا بِهِ مِمَّا لَا يُخْشٰى عَلَيْهِمْ ضَرَرٌ فِي الْعَاجِلِ وَالْآجِلِ وَيُظَنُّ أَنَّ فِيْهِ لَهُمُ انْشِرَاحُ صَدْرٍ وَتَفَرُّجُ قَلْبٍ فَإِنَّهُمْ لَا يُمْنَعُوْنَ عَنْهُ بِالْاِطْلَاقِ

Artinya: “Adapun bagi anak kecil, jika suatu permainan dapat menyibukkan mereka dan tidak dikhawatirkan adanya dampak negatif di masa sekarang maupun masa mendatang serta ada potensi menjadikan mereka lapang hati maka mereka tidak bisa dihalangi untuk memainkannya.” (Lihat: Al-Minhaj fi Syu’ab al-Iman, III/97).

Di samping memertimbangkan aspek manfaat, memfasilitasi anak bermain juga memerlukan arahan dan pendampingan orangtua guna memastikan bahwa benda itu benar-benar digunakan sebagaimana mestinya tanpa disalahgunakan untuk hal-hal negatif yang tak bernilai manfaat.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini