Share

Sejarah Mushaf Alquran yang Dicetak di Indonesia

Hantoro, Jurnalis · Rabu 24 Juni 2020 14:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 24 614 2235575 sejarah-mushaf-alquran-yang-dicetak-di-indonesia-hiB2re6lBF.jpg Kitab suci Alquran. (Foto: Unsplash)

KITAB suci Alquran menjadi dasar umat Islam dalam melakukan amal ibadah dan perbuatan lainnya. Segala kebaikan juga berawal dari firman Allah Subhanahu wa ta'ala yang tertulis dalam mushaf Alquran. Banyak manfaat didapat dari membaca serta mempelajari Alquran. Pahala berlipat ganda pun bisa diraih.

Mengutip dari Muslim.or.id, Rabu (24/6/2020), Alquran secara bahasa adalah mashdar dari قرأ-يقرأ (qara`a-yaqra`u). Maknanya ada dua, yaitu:

1. Sesuatu yang dibaca, karena Alquran dibaca lisan-lisan manusia.

2. Pengumpul, karena Alquran adalah mengumpulkan kabar dan hukum.

Adapun secara istilah syari, Alquran merupakan firman Allah Subhanahu wa ta'ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Isinya diawali Surah Al Fatihah dan ditutup Surah An-Naas. (Ushuulun fit Tafsiir, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin, halaman 6, dengan sedikit perubahan)

Baca juga: ‎Kenapa Manusia Banyak Terlena di Jalan Neraka? 

Kitab suci Alquran. (Foto: Freepik)

Sementara sejarah kitab suci Alquran yang dicetak di Indonesia berawal dari penyalinannya pada abad ke-17 hingga akhir abad ke-19. Manuskrip Alquran sangat banyak di Tanah Air. Penyalinannya terbentang sepanjang kepulauan Indonesia dari Aceh sampai Maluku. Jumlahnya mencapai ribuan manuskrip Alquran.

"Pada akhir abad ke-19 merupakan masa akhir penulisan manuskrip Alquran. Di pertengah abad ke-19, teknologi cetak-cetak naskah keagamaan merambah di Nusantara. Ini merupakan masa peralihan dari penyalinan naskah secara manual menjadi menggunakan teknik litografi atau cetak batu," jelas Tim Peneliti Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, dikutip dari unggahan di akun Youtube-nya, Rabu (24/6/2020).

Pada pertengah abad inilah, tepatnya pada 1848, mushaf cetak batu selesai diproduksi di wilayah Palembang. Mushaf tersebut kini dapat disaksikan di Museum Sultan Badarudin II, Palembang; dan di Masjid Dog Jumeneng, Cirebon.

Baca juga: Begini Hukumnya Bermualamah dengan Non-Muslim dalam Islam 

Pada akhir abad ke-19 beredar sejumlah mushaf Alquran dari luar negeri. Di antaranya adalah mushaf dari Bombay, India; Singapura; Turki; dan Mesir. Namun, mushaf yang paling banyak beredar adalah dari Bombay dan Singapura. Sementara mushaf Turki dan Mesir tidak terlalu banyak sebab biasanya hanya diperoleh melalui jamaah haji.

"Mushaf cetakan India bisa ditemui di sejumlah daerah, seperti Palembang, Demak, Madura, Bima; hingga Malaysia dan Filipina. Sedangkan mushaf Singapura bisa ditemui di wilayah Palembang, Jakarta, Cirebon, Surakarta, Bali, Palu, dan Maluku," paparnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pada awal abad ke-20 mulai muncul generasi pertama percetakan modern mushaf Alquran. Generasi pertama pencetak mushaf Nusantara adalah toko Mesir bernama Abdulah Afif (1933) di Cirebon, Salim Nabhan (1920) di Surabaya, dan Matba'ah Islamiyah (1933) di Bukittinggi.

Generasi kedua yakni Penerbit Sinar Kebudayaan Islam (1951) di Jakarta, Al Ma'arif (1948) di Bandung, dan Menara Kudus (1952).

Generasi ketiga adalah Penerbit Toha Putra (1962) di Semarang, BIR and Company (1956) di Jakarta, Yayasan Pembangunan Islam (1967) di Jakarta, Yayasan Penyelenggara Terjemahan Alquran (1967) di Jakarta, serta Al Hikmah (1979) di Jakarta. Mushaf yang diterbitkan ini semuanya menggunakan mushaf Bombay asal India.

Sebagian besar penerbit mushaf Alquran generasi pertama adalah para pendatang atau keturunan Arab Saudi. Sebagian dari penerbit itu berlokasi di Kampung Arab. Misalnya Penerbit Abdullah Afif di Panjunan, Cirebon; Salim Nabhan di Ampel, Surabaya; dan Toha Putra di Kauman, Semarang.

"Ini menunjukkan jaringan Arab yang kuat dalam penerbitan mushaf Alquran generasi pertama," terangnya.

Mushaf Alquran generasi pertama ini ditashih (dikoreksi) oleh ulama-ulama setempat yang memiliki kemampuan melakukan penashihan. Sebut saja ada KH Muhammad Usman, KH Ahmad Badawi yang menashih mushaf Abdullah Afif, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, serta Haji Abdul Malik yang menashih mushaf Matba'ah Bukittinggi.

Kitab suci Alquran. (Foto: Unsplash)

Praktis masyarakat Indonesia pada awal abad ke-20 hingga pertengahan banyak menggunakan mushaf modern asal Bombay India dengan karakter mushaf khat yang tebal, syakl, dan dhabt yang berbeda dari mushaf Arab Saudi, serta tanda wakaf yang lebih banyak.

"Karena itulah Mukernas Ulama Alquran menjadikan mushaf cetakan tahun 1960-an sebagai sandaran merumuskan mushaf standar Indonesia," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini