Mengapa Islamophobia Juga Terjadi di Negara Mayoritas Muslim?

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Kamis 25 Juni 2020 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 25 614 2236264 mengapa-islamophobia-juga-terjadi-di-negara-mayoritas-muslim-O0lysh8Qgt.jpg Ilustrasi (Foto: Reuters)

ISLAMOPHOBIA tak hanya sebuah fenomena yang terjadi di daerah minoritas muslim, seperti Eropa misalnya, namun juga justru masih marak didapati di wilayah mayoritas umat muslim berada.

Hal ini dibuktikan dari sebuah laporan yang didanai Uni Eropa dari sebuah think tank Turki, di mana telah menyoroti banyaknya tindakan anti-muslim yang tergolong lazim, termasuk yang terjadi di wilayah Balkan.

Padahal negara-negara Balkan sendiri merupakan negara yang diketahui di mana umat muslim di sana merupakan penduduk asli Balkan lebih dari empat ratus tahun silam.

Sebut saja Albania, Kosovo dan Bosnia, tiga negara mayoritas muslim di wilayah Balkan yang seringkali menghadapi tindakan anti-muslim yang signifikan.

Tak hanya itu, golongan besar muslim di Makedonia, Serbia dan Montenegro pun turut menghadapi tantangan dalam keseharian mereka karena kurangnya rasa aman ketika menunjukkan keyakinan mereka di depan umum.

Baca juga: Cerita Mbah Moen tentang Malaikat Thawaf Kelilingi Ka'bah

Tahun 2019, rilisnya sebuah buku bertajuk 'Islamophobia in Muslim Majority Societies' seakan muncul untuk menjawab pertanyaan yang tak biasa dan terlihat saling bertentangan ini; mengapa justru di negara mayoritas pemeluk agama itu masih lazim terjadi tindakan penyerangan berbasis agama.

"Islamophobia dapat berfungsi secara berbeda tetapi, pada dasarnya, fenomena ini terhubung ke konteks politik global yang sangat terstruktur oleh tatanan pasca-kolonial dan terkait dengan hegemoni AS kontemporer di dunia," klaim penulis buku itu, dikutip dari TRT World, Kamis (25/6/2020).

AS telah menjadi salah satu sumber pendanaan pusat sebagai penyebab narasi anti-muslim tersebar secara global. Sebuah laporan pada tahun 2019 berjudul "Hijacked by Hate: American Philanthropy and the Islamophobia Network", menemukan bahwa terdapat 1.096 organisasi yang bertanggung jawab untuk mendanai 39 kelompok hingga jutaan dolar untuk menyebarkan ujaran serta aksi anti-muslim.

Sebagian besar di antaranya telah melintasi Atlantik ke Eropa dan tak sedikit yang turut masuk ke negara-negara Balkan, yang mengakibatkan peningkatan sentimen anti-Muslim.

Elite di sebagian besar negara mayoritas muslim yang dikelilingi oleh pengaruh Barat seperti Balkan, memandang regulasi Islam merupakan cara mengatur identitas yang dianggap sebagai ancaman bagi negara-negara sekuler yang mirip Barat.

Nada Dosti, yang berkontribusi pada bagian Albania dalam laporan Islamophobia 2019, berpendapat bahwa penting untuk mengidentifikasi, menganalisis dan mengatasi retorika anti-Muslim dalam realitas Albania, termasuk juga negara-negara berbahasa Albania.

“Islamophobia di Albania telah mengalami intensifikasi di berbagai bidang kehidupan, termasuk pekerjaan, pendidikan, perwakilan media, sistem peradilan, dll. Dengan opini dan stereotip negatif ini, serta banyaknya ujaran kebencian di media arus utama, media sosial, dan platform online lainnya,” tambah Dosti kepada TRT World.

Serangan teror masjid Christchurch yang pernah terjadi tahun 2019 di Selandia Baru, menewaskan 51 muslim, seorang komentator di Albania bernama Kastriot Myftaraj justru mengatakan bahwa tindakan tersebut bukanlah sebuah masalah besar terhadap muslim di Albania. Dosti menambahkan, sentimen anti-muslim di Albania sebagian besar dipicu oleh jurnalis dan politisi yang mengakibatkan wacana Islamophobia seakan menjadi suatu hal yang normal.

Kosovo, yang warganya 96 persen muslim, telah menjadi bukti bahwa tindakan Islamophobia adalah bagian dari internal, digambarkan oleh Adem Ferizaj yang menulis bagian Kosovo dalam laporan itu, sebagai suatu hal yang mengancam keberadaan Kosovo sebagai sebuah negara.

Selain itu, negara itu melihat Islamophobia semakin diperkuat secara internal ketika novelis dan penentang genosida Austria, Peter Handke dianugerahi Hadiah Nobel dalam Sastra.

"Pemberian hadiah sastra kepada penulis seperti itu tidak hanya menunjukkan adanya ketidakpedulian Euro-Atlantik yang berakar dalam terhadap nasib negara-negara Eropa yang mayoritas muslim seperti Bosnia dan Herzegovina atau Kosovo, itu juga merupakan kesempatan yang tepat untuk menormalisasi serangan Islamophobia terhadap Hak Kosovo untuk ada oleh politisi Eropa,” kata Ferizaj.

“Sementara muslim yang terlihat, yang mengenakan jilbab atau berjanggut misalnya, cenderung didiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari di Kosovo. Perlu diketahui bahwa Muslim adalah golongan yang paling banyak menjadi sasaran upaya genosida di Balkan, terutama perang di Bosnia dan Kosovo selama 90-an,”

Selama tahun 1990-an, baik Kosovo dan Bosnia melihat banyak warganya sendiri yang terbunuh hanya karena mereka adalah seorang Muslim. Memang, sentimen anti-muslim itu sudah agak surut sejak perang berakhir, namun tak menampik kenyataan bahwa diskriminasi ini masih menjadi bagian dari lanskap politik di negara-negara seperti Serbia dan wilayah Bosnia yang didominasi Serbia.

"Pemerintah Serbia dan Bosnia melanjutkan aktivitas penolakan dan institusional kelembagaan mereka yang bertujuan menciptakan narasi tentang genosida yang dilakukan terhadap orang-orang Bosnia selama periode 1992-1995," kata Hikmet Karcic di bagian Bosnia dalam laporan tersebut.

Selain itu, tindakan Islamophobia pun marak bahkan seakan lazim di wilayah Eropa. Pada tahun 2019 lalu, umat Islam di negara-negara Eropa lainnya menghadapi sasaran kebencian Islamophobia melalui serangan terhadap masjid di Perancis, Jerman, Norwegia dan Inggris.

Belum lagi ditambah dengan adanya narasi konspirasi yang dijajakan dari sayap kanan, seperti 'Great Replacement', di mana umat muslim sedang dalam perjalanan untuk menggantikan non-muslim di Eropa. Gambaran konspirasi itu menyebar secara diam-diam dan ditujukan untuk memotivasi adanya serangan terror oleh pejuang supremasi kulit putih.

Dibuatnya laporan mengenai buruknya Islamophobia yang sudah mengakar itu bertujuan menyadarkan pemerintah nasional di Eropa bahwa perlu dilakukannya pendekatan yang lebih proaktif dan dukungan untuk pendidikan inklusif.

Tercatat, lebih dari 871 kejahatan rasial yang disasarkan terhadap muslim pada tahun 2019. 58 di antaranya menentang situs-situs keagamaan muslim, serta 46 lainnya adalah kekerasan fisik oleh penggiat anti-muslim kepada para umat Islam hingga mereka terluka parah.

Demikian pula di Prancis, tercatat ada 1.043 insiden Islamophobia yang meliputi serangan fisik, ujaran kebencian serta perusakan situs suci atau tempat ibadah muslim.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini