Haji Batal, Begini Curhat Mualaf Amerika

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Selasa 30 Juni 2020 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 30 614 2238880 haji-batal-begini-curhat-mualaf-amerika-ND2jSI5tkP.JPG Ka'bah di Kota Makkah, Arab Saudi sepi akibat pandemi Covid-19 (Foto: Reuters)

TERHITUNG sudah lima tahun lamanya, Syaikh Hassan Lachheb menjadi pemimpin dari kelompok muslim Amerika Serikat (AS) untuk berangkat ke Makkah dua kali dalam setahun, yakni saat momentum haji dan umrah. Baginya, keberangkatan haji adalah hal yang sangat dicita-citakan. Ia pun terkenang saat melihat foto ayahnya di bandara ketika hendak berhaji.

“Ibadah haji adalah manifestasi penuh dari pemaknaan Islam. Sehubungan dengan spiritualitas, merupakan ritual sakral. Sehubungan dengan bagaimana hubungan kita dengan sejarah, dan kemudian mendalami sejarah tersebut. ” kata Lachheb, yang kini adalah seorang pemimpin dan salah satu pendiri Tayseer Seminary di Knoxville, Tennessee, dilansir dari Aboutislam.net, Selasa (30/6/2020).

Tak bisa dipungkiri, haji adalah impian bagi setiap muslim untuk melakukan perjalanan sekali seumur hidup ke Makkah. Untuk mewujudkannya, tak sedikit yang harus menghemat uang selama bertahun-tahun serta berdoa agar dapat melakukan perjalanan Haji.

Baca juga: Menag: Indonesia Selalu Berdiri di Belakang Perjuangan Rakyat Palestina

Merebaknya pandemi Covid-19 ini secara tak langsung berpengaruh pada terganggunya perjalanan ibadah ini, dengan kebijakan Arab Saudi untuk menutup dua masjid suci di Makkah dan Madinah, membatalkan ibadah umrah, hingga mengumumkan pembatasan keberangkatan haji di tahun ini.

Melihat hal ini, Lachheb, dan tentunya jutaan muslim di dunia, terperangah saat mengetahui beberapa potret dari situs-situs suci ini terlihat begitu sepi, khususnya di sekitar Ka’bah yang biasanya ramai akan orang yang bertawaf.

“Ketika melihatnya (Ka’bah) sebegitu kosong, rasanya hati ini juga terasa kosong,”, katanya.

Bagi seorang mualaf asal Amerika, perjalanan haji bukanlah sekadar pemenuhan ritual sakral, sebagaimana tertulis dalam rukun Islam. Wakil Ketua Seminari Islam Amerika di Richardson, Texas, James Jones menjelaskan, haji menjadi salah satu kesempatan emas bagi para muslim, terutama mualaf, karena berada di tempat di mana semuanya adalah orang muslim.

“Kami hanya 1% dari total populasi di AS, tapi di sana, di Makkah, akan menjadi kesempatan pertama bagi umat muslim, khususnya mualaf, untuk berada di tempat di mana semuanya adalah orang muslim. Saya tak perlu khawatir tentang apa yang saya makan, saya tak perlu takut akan menyinggung siapapun jika mengatakan ‘Assalamualaikum; damai menyertaimu’. Ada rasa nyaman ketika berada di sekeliling muslim. Semua orang melaksanakan sholat 5 waktu, dan saya tak akan mendengar keluhan atas suara adzan yang dikumandangkan,” jelas mualaf yang memeluk Islam pada 1979 dan pernah menunaikan ibadah haji pada 1992 itu.

Dalam Islam diajarkan bahwa Allah tergantung pada prasangka hamba-Nya. Karenanya, Jones yakin bahwa para jamaah yang berencana melakukan haji tahun ini akan menuai ganjaran pahala yang sama seolah-olah mereka benar-benar telah menunaikan haji, meski niat suci itu terhalang oleh wabah penyakit bernama Covid-19.

Kesedihan tak bisa dibendung oleh Lachheb, mengingat terganggunya ibadah haji akibat pandemi saat ini. Ia mencoba mengatasi kesedihannya itu dengan percaya bahwa merefleksikan hubungan dengan Allah tak terbatas pada tempat fisik semata. Dengan niat yang benar, ia yakin masih bisa melaksanakan haji secara internal.

“Aku harus menemukan Ka’bah di hatiku, aku harus menemukan Makkah (di) hatiku,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini