Sejarah Perjalanan Haji Indonesia dari Masa ke Masa

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 30 Juni 2020 20:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 30 614 2239083 sejarah-perjalanan-haji-indonesia-dari-masa-ke-masa-cPgfZiJOZs.jpg Jamaah haji di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar (Okezone.com/Windy)

SAAT musim haji tiba, jutaan manusia berbondong-bondong pergi ke Makkah untuk menjalankan rukun Islam yang kelima. Khususnya di Indonesia, setiap tahunnya tak pernah absen terkait keberangkatan mereka ke Tanah Suci tersebut.

Namun sayangnya tahun ini 1441 Hijriah ibadah haji terpaksa ditunda, akibat Covid-19 yang masih mewabah di sejumlah negara termasuk di Tanah Suci.

Di masa sekarang, jamaah berangkat ke Tanah Suci jauh lebih mudah karena menggunakan pesawat terbang dan hanya membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 8-9 jam.

Baca juga:  4 Ulama Kharismatik Aceh Murid Abuya Muda Waly

Tapi, zaman dulu untuk sampai ke Makkah, jamaah dari nusantara harus menempuh waktu berbulan-bulan.

Dikutip dari beberapa sumber, mulanya pada abad ke-16 ketika kerja sama dengan Arab semakin marak. Ini ditandai dengan adanya para ulama Nusantara ikut pelayaran menjelajahi Asia Barat. Saat 1562 armada dari Aceh mulai berlayar ke Jeddah untuk berdagang.

Baca juga: Asal Usul Aceh Disebut Serambi Mekkah

Pada saat itu juga Indonesia (kecuali Aceh) mulai dijajah Belanda, dan para calon jamaah haji pun semakin bertambah. Pemerintahan Belanda pun ikut serta dalam memberangkatkan mereka yang akan ke Tanah Suci.

Namun mereka mengurangi jumlah kuota calon jamaah, karena dikhawatirkan akan terjadinya pemberontakan yang muncul antara Belanda dan jamaah.

Pada abad ke 18, pemberangkatan jamaah haji menggunakan kapal laut makin marak. Puluhan ribu jamaah diberangkatkan dengan menggunakan kapal-kapal besar. Waktu yang dibutuhkan agar sampai ke Makkah adalah lebih dari satu bulan.

Pada saat itu Nederland, Rotterdamsche dan Blue Funnel Line merupakan tiga perusahaan jasa pelayaran yang mengangkut jemaah haji dari Indonesia.

Kemudian setelah Indonesia merdeka, pengurusan keberangkatan haji dialihkan pada pemerintah Indonesia, tepatnya sejak 1948 dan pemerintah pun menyiapkan kapal yang dikhususkan untuk para jamaah yaitu ditangani oleh PT Arafat. Tapi akhirnya perusahaan tersebut tidak bertahan lama, dan pemerintah menyediakan pesawat terbang pada 1966.

Puncaknya pada 1979, angkutan haji laut harus terhenti seiring dinyatakan pailitnya PT Arafat oleh Kementerian Perhubungan melalui Surat Keputusan Nomor SK-72/OT.001/Phb-79. Langkah ini ditetapkan karena kala itu PT Arafat sudah tidak dapat bersaing lagi dengan penyedia layanan berhaji menggunakan moda pesawat terbang.

Orang-orang yang menunaikan ibadah haji dari Indonesia memang rata-rata adalah tokoh masyarakat. Setelah pulang berhaji, mereka ditakutkan justru memberikan perubahan di lingkungan sekitar dan akhirnya membahayakan Pemerintah Hindia-Belanda.

Tokoh-tokoh agama yang berhasil pergi ke Tanah Suci saat itu antara lain KH Ahmad Dahlan, Samanhudi, hingga Ki Hajar Dewantara.

(sal)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini