Diubah Jadi Masjid, Begini Sejarah Hagia Sophia

Sabtu 11 Juli 2020 07:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 11 614 2244709 diubah-jadi-masjid-begini-sejarah-hagia-sophia-lhuJ4jh35C.jpg Hagia Sophia di Istanbul, Turki (Anadolu Agency)

PEMERINTAH Turki akhirnya resmi mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menandatangani dekrit yang menjadi dasar hukum pengubahan status bangunan berusia 1.500 tahun yang dulunya Gereja Katedral itu, Jumat 10 Juli 2020.

Pengadilan sebelumnya membatalkan status museum bangunan ikonik tersebut yang memungkinkan situs budaya dunia ini dialihfungsikan menjadi masjid.

 Baca juga: Erdogan Tanda Tangani Dekrit Perubahan Hagia Sophia Jadi Masjid

Sebenarnya ini bukan kali pertama Hagia Sophia diubah menjadi masjid. Sebelum jadi museum, Hagia Sophia adalah Katedral. Kemudian diubah menjadi masjid ketika Kekhalifahan Utsmaniyah atau Kekaisaran Ottoman merebut kota Istanbul pada 1453. Waktu berlalu, pada 1934 bangunan ini diubah menjadi museum.

Melansir dari BBC News Indonesia, Sabtu (11/7/2020), bangunan kubah yang ikonik ini terletak di distrik Fatih di Kota Istanbul, di sisi barat Selat Bosporus.

Kaisar Bizantium, Justinian I memerintahkan pembangunan Katedral berukuran besar di Konstantinopel —ibu kota Kekaisaran Bizantium, yang juga dikenal sebagai Kekaisaran Romawi Timur— pada tahun 532.

Para ahli bangunan membawa bahan-bahan dari seluruh wilayah Mediterania untuk membangun katedral kolosal tersebut.

Para arsitek Utsmaniyah kemudian menghapus atau menutupi simbol-simbol Ortodoks di dalam bangunan itu dan menambahkan menara ke dalam strukturnya.

Setelah pembangunan Katedral itu rampung pada 537, kota ini menjadi tempat kedudukan pimpinan gereja Ortodoks.

Upacara kenegaraan Kekaisaran Bizantium, seperti penobatan, dilangsungkan di bangunan tersebut.

 Baca juga: Keputusan Hagia Sophia Kembali Jadi Masjid Ada di Pengadilan Turki

Hagia Sophia menjadi rumah bagi Gereja Ortodoks Timur selama hampir 900 tahun. Selama itu pula bangunan dari abad ke 6 Masehi ini menduduki rekor sebagai Katedral terbesar di dunia.

Tetapi sempat dilarang pada periode singkat di abad ke-13, ketika tempat ini diubah menjadi Katedral Katolik Roma dibawah kontrol pasukan invasi dari Eropa selama Perang Salib Keempat.

Tetapi pada tahun 1453, Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah Sultan Mehmed II menguasai Konstantinopel dan mengganti namanya menjadi Istanbul, sekaligus mengakhiri Kekaisaran Bizantium untuk selamanya.

Saat memasuki Hagia Sophia, Mehmed II berkeras untuk merenovasi dan mengubahnya menjadi masjid. Dia menghadiri salat Jumat pertama di gedung itu.

Para arsitek Utsmaniyah kemudian menghapus atau menutupi simbol-simbol Kristen Ortodoks di dalam bangunan itu dan menambahkan menara ke dalam strukturnya.

Sampai penyelesaian pembangunan Masjid Biru di Istanbul pada 1616, Hagia Sophia adalah masjid utama di kota tersebut, dan arsitekturnya mengilhami pembangunan Masjid Biru dan beberapa masjid lainnya di sekitar kota dan dunia.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Masjid Biru di Istanbul terinspirasi oleh arsitektur Hagia Sophia.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I pada 1918, Kekaisaran Utsmaniyah yang mengalami kekalahan, wilayahnya dipecah-pecah oleh negara-negara Sekutu sebagai pihak yang menang.

Namun, kekuatan nasionalis bangkit dan menciptakan Turki modern dari abu kekaisaran itu.

Pendiri Turki dan presiden pertama republik sekuler itu, Mustafa Kemal Ataturk, memerintahkan agar Hagia Sophia diubah menjadi museum.

Sejak dibuka kembali untuk umum pada 1935, tempat ini menjadi salah satu tempat wisata paling banyak dikunjungi di Turki.

Ditentang Yunani

Kepala Gereja Ortodoks Timur dan pemerintah Yunani menentang langkah Turki mengubah status Hagia Sophia menjadi masjid, karena bangunan itu dianggap rumah bagi jutaan pengikut Ortodoks.

Menteri Kebudayaan Yunani, Lina Mendoni, yang menuduh Turki menghidupkan kembali "sentimen nasionalis dan agama yang fanatik", berkeras agar situs warisan dunia Unesco tersebut tidak diubah, tanpa ada persetujuan komite antarpemerintah.

Wakil Direktur Unesco, Ernesto Ottone Ramirez, dalam wawancara dengan surat kabar Yunani Ta Nea, mendukung usulan Yunani dengan mengatakan diperlukan adanya persetujuan yang lebih luas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya