Idul Adha Momentum Menyembelih Egoisme Beragama

Jum'at 31 Juli 2020 00:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 614 2254510 idul-adha-momentum-menyembelih-egoisme-beragama-CoTJ3dZiSD.jpg Faozan Amar (Dok Pribadi)

SETIAP kali merayakan Hari Raya Idul Adha, kita diingatkan kembali sebuah peristiwa tentang penyembelihan hewan kurban, yang diawali sebuah mimpi. Dalam mimpinya itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim As untuk menyembelih Ismail, putra semata wayang yang sangat dicintai dan dirindukan kehadirannya selama puluhan tahun.

Sehari sesudah mendapat mimpi itu, Nabi Ibrahim As merenungkan mimpinya; apakah benar dari Allah atau bukan. Itulah yang disebut Yaumut Tarwiyah, hari perenungan dan pemikiran, sebelum sampai pada pengambilan keputusan.

Pada hari kedua, barulah ia yakin bahwa mimpi itu benar-benar datang dari Allah, sehingga disebut Yaumul Arafah, hari mendapatkan pengetahuan dengan sadar, sekalipun awalnya dari mimpi. Dan akhirnya sampai pada hari ketiga Nabi Ibrahim As mengambil keputusan dengan penuh keyakinan yang dikenal dengan Yaumun Nahr, hari melaksanakan penyembelihan. Jadi, untuk mengambil keputusan yang penting dan strategis harus merenung yang mendalam dan menghilangkan sifat egois, sehingga meraih keputusan terbaik.

Baca juga: Merayakan Idul Adha, Membela Kemanusiaan

Kemudian, ketika detik-detik pengorbanan yang dramatis itu akan berlangsung, terjadilah dialog antara Ibrahim dan putranya Ismail, yang sangat menggugah hati dan perasaan, sebagai contoh kuatnya iman dan takwa mereka kepada Allah Swt. Alqur’an menggambarkan : Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata : Wahai anakku, Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!. (QS. As Shafat; 102)

Bayangkan!. Seorang Bapak menceritakan mimpi untuk menyembelih anaknya langsung kepada anaknya. Ini seperti deru campur debu. Antara ketataan, keimanan, egoisme dan cinta kepada anaknya harus diambil keputusan penting dengan segera. Kemudian Ismail dengan tegas tanpa keraguan menjawab ; Wahai ayahku!, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS. As Shafat; 102)

Luaar biasa. Begitu mengharukan proses pengorbanan itu, terlebih lagi ketika Ismail dengan penuh tawakal memohon kepada Ayahnya “Wahai ayah! Ikatlah kaki dan tangan saya kuat-kuat, agar gelepar tubuh saya tidak membuat ayah bimbang. Telungkupkan tubuh saya sehingga muka menghadap ke tanah, supaya ayah tidak melihat wajah saya.

Baca juga: Melihat Orang dari 4 Caranya Berbicara, Kamu Termasuk yang Mana?

Ayah! Jagalah darahku jangan sampai memerciki pakaian ayah karena bisa menyebabkan perasaan iba, sehingga akan mengurangi pahala. Dan asahlah pisau itu tajam-tajam, agar penyembelihan berjalan lancar. Wahai ayah! Baju saya yang berlumur darah nanti, bawalah pulang dan serahkan pada ibu, dan sampaikan salamku kepadanya, semoga beliau sabar menerima ujian ini.

Setelah dialog tersebut berlangsung Allah mengatakan : Maka tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim telah merebahkan anaknya (Ismail), meletakan pipinya di atas tanah (untuk melaksanakan perintah penyembelihan). Lalu kami panggilah ia. “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi (menyembelih anak) itu!.” Sungguh demikianlah, Kami akan membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya perintah ini hanyalah ujian yang nyata”. (QS As Shafat 103-106)

Akhirnya Nabi Ibrahim As dilarang menyembelih putranya, setelah dinyatakan Allah lulus menjalani ujian. Sebagai gantinya Allah Swt memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih binatang kurban. Dan sejak itu maka sebagai tanda bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan, pada waktu tertentu secara kontinyu menyembelih hewan untuk ibadah kurban; “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah” (QS. Al Kautsar : 1-2)

Kemudian amaliah ini ditingkatkan lagi oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana digambarkan dalam hadits: Para sahabat bertanya kepada Rasulullah; apakah qurban itu? Nabi menjawab: Itulah sunah yang dijalankan oleh bapakmu Ibrahim. Mereka bertanya lagi: Apakah keuntungan kurban itu bagi kita? Nabi menjawab : pada setiap helai bulunya dihitung menjadi satu kebajikan. (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Makna Berkurban

Dari peristawa kurban yang telah dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim As, ada beberapa makna dan pelajaran yang dapat dipetik, yakni ; Pertama, teladan untuk sabar. Nabi Ibrahim sudah lama menunggu untuk dikarunia anak, tapi tetap sabar. Bahkan ketika telah memiliki anak bernama Ismail masih diuji kesabarannya dengan perintah untuk menyembelihnya.

Kedua, tiadanya egoisme beragama. Sebagai seorang ayah yang telah lama menunggu kehadiran buah hatinya, tentu tak mudah menuruti mimpi untuk menyembelihnya. Namun karena ketaatannya kepada Allah, Ibrahim menyembelih sifat egoismenya itu. Sifat egois cenderung untung menang sendiri. Sifat yang sesungguhnya melekat pada binatang. Hanya mementingkan egonya tanpa menggunakan akal dan nuraninya.

Ketiga, bakti anak kepada orang tua. Ismail As adalah anak sholeh yang berbakti kepada kedua orang tua (birul walidain). Ia dengan tegas dan tanpa keraguan meminta agar ayahnya (Ibrahim) melaksanakan mimpi untuk menyembelihnya. Sebagai tanda cinta kepada Ibunya (Siti Hajar), Ismail meminta kepada ayahnya agar bajunya berlumur darah dibawa pulang dan menyerahkan pada ibunya, dan menyampaikan salam serta mendoakan semoga ibunya sabar menerima ujian ini. Mengharukan!.

Keempat, pengorbanan terhadap apa yang kita cintai. Ibrahim telah rela melakukannya karena keimanan kepada Allah. Maka pertanyaannya adalah, pada musim pandemic COVID-19 sekarang ini pengorbanan apa yang telah kita lakukan sebagai seorang muslim demi cita-cita hidup kita sebagai hamba Allah?. Islam adalah agama yang menuntut bukti perjuangan dan pengorbanan dari setiap hambanya, sebagaimana telah diteladankan oleh para Nabi dan Rasul, para sahabat Nabi, para Syuhada, Mujahidin dan Shalihin.

Kurban juga mengajarkan kepada kita menghilangkan sifat egoisme dalam beragama. Seperti memaksakan diri melaksanakan shalat Idul Adha di masjid atau lapangan saat pandemi tanpa protokol kesehatan padahal bisa dilaksanakan di rumah, memaksakan memotong hewan sendiri tanpa protokol kesehatan padahal ada rumah pemotongan hewan yang lebih aman, dan sebagaianya. Sifat egoisme beragama itulah yang harus disembelih, dari hati, jiwa dan pikiran umat beragama.

Soekarno (1945) mengingatkan; “Marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhan dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama.” Dan hendaknya negara Indonesia suatu Negara yang ber-Tuhan”.

Oleh karena itu, peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As harus kita jadikan i’tibar, suatu pelajaran dan peringatan. Yakni bahwa anak dan harta hakekatnya adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah harus kita kembalikan. Mari berkurban, menyisihkan rizki yang dimiliki untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan, akibat terdampak ekonomi wabah virus korona saat pandemi. Sehingga dengan berkurban itu, dapat memberikan kegembiraan kepada saudara sebangsa dan setanah air, utamanya yang membutuhkan. Wallahua’lam.

Oleh Faozan Amar

Sekretaris LDK PP Muhammadiyah dan Dosen Ekonomi Islam UHAMKA

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini