Lupa Niat Puasa Sunah Senin, Bolehkah Berniat Siang Harinya?

Novie Fauziah, Jurnalis · Senin 10 Agustus 2020 11:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 10 614 2259653 lupa-niat-puasa-sunah-senin-bolehkah-berniat-siang-harinya-W935Hn0e4p.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SAAT hendak melaksanakan puasa sunah hari Senin atau Kamis, terkadang kita lupa untuk berniat setelah makan sahur dan menjadi bingung apakah puasanya sah atau tidak. Lalu apakah boleh melakukan niat di pagi atau siang harinya?

Fiqih Islam wa Adilatuhu menjelaskan, seluruh ulama bersepakat bahwa niat puasa cukup di dalam hati karena melafalkan niat bukan bagian dari syarat. Namun, sebagian ulama pun berpendapat, hukumnya sunah yakni dengan maksud membantu hati yang juga sudah mengucapkan niat.

Dinukil dari Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar disebutkan dalam salah satu riwayat hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ

Artinya: "Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, “Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung).” Lantas beliau bersabda, “Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa.” Lalu beliau menyantapnya. (HR. Muslim no. 1154).

Baca juga: Keistimewaan Puasa Senin Kamis, Menambah Pahala dan Meningkatkan Syukur

1. Boleh berniat puasa sunah di pagi hari. Hal ini menandakan bahwa puasa sunah tidak disyaratkan tabyiytun niat (berniat di malam hari). Namun ini berlaku untuk puasa sunah mutlak. Sedangkan puasa sunah tertentu (mu’ayyan) yang dikaitkan dengan waktu tertentu, maka sama dengan puasa wajib harus ada tabyiytun niat, yaitu niat di malam hari sebelum fajar subuh.

Misalnya, seseorang yang melaksanakan puasa sunah ayyamul bidh (13, 14, 15 H), maka ia harus ada niat puasa sunah sejak malam. Jadi berlaku untuk puasa mu’ayyan (tertentu) baik puasa wajib maupun sunah, harus ada niat puasa sejak malam hari. Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah.

2. Sah jika berniat puasa sunah mutlak dari pagi hari. Misal dari jam 10 pagi, asalkan sebelumnya tidak melakukan hal yang membatalkan puasa misalnya makan dan minum.

Namun pahala yang dicatat adalah dari niat mulai berpuasa karena setiap amalan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan. Lihat penjelasan Syarh Bulughul Maram karya Syaikh Muhammad Al ‘Utsaimin mengenai hadits ini.

3. Adapun batasan waktu niat puasa sunah ini ada dua pendapat: (1) tidak boleh setelah pertengahan siang sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan murid-muridnya, (2) boleh sebelum atau sesudah waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat) karena tidak disebutkan batasan dalam hal ini. Inilah al qoul jadid (pendapat terbaru) dari Imam Syafi’i dan jadi pegangan Imam Ahmad ibnu Hanbal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini