Teungku Chik Di Tiro, Pejuang Aceh yang Gugur Diracun Belanda

Alya Amellia Amini, Jurnalis · Senin 17 Agustus 2020 09:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 16 614 2263132 teungku-chik-di-tiro-pejuang-aceh-yang-gugur-diracun-belanda-KcUUtGoMon.JPG Teungku Chik Di Tiro (Foto: Biografi Pahlawan)

NEGERI Serambi Makkah memiliki banyak pahlawan yang gigih berjuang mengusir penjajah. Salah satunya ialah Teungku Chik Di Tiro. Mujahid bernama asli Muhammad Saman itu ialah putra dari Tengku Syaikh Ubaidillah asal kampung Garot Negeri, Samaindra, Sigli.

Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri dari Teungku Syaikh Abdussalam Muda Tiro. Teungku Chik Di Tiro lahir di Kabupaten Pidie, 1 Januari 1836. Semasa kecilnya ia hidup di lingkungan yang sangat religius. Ia belajar agama dengan ayah dan pamannya bernama Teungku Chik Dayah Tjut Di Tiro.

Minat besarnya akan ilmu agama Islam membuat Teungku Chik Di Tiro berkelana ke Lam Krak, Aceh Besar untuk memperdalam ilmunya. Setelah menghabiskan waktu dua tahun di sana, ia pun kembali ke Tiro dan mengajar bersama sang paman, Teungku Dayah Tjut.

Teungku Chik Di Tiro tidak pernah menjalani pendidikan formal. Puas mencari ilmu di negeri asalnya, ia kemudian pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus mendalami ilmu agama. Di Tanah Suci, Teungku Chik Di Tiro bertemu para ulama dan pemimpin Islam. Dari situlah ia mulai sadar arti perjuangan perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme.

Dikutip dari buku Sejarah Perjuangan 130 Pahlawan dan Tokoh Pergerakan Nasional karya Kerta Wijaya, Teungku Chik Di Tiro merupakan pahlawan nasional dan tokoh penting yang sangat berjasa melawan tentara kolonial Belanda. Saat Aceh Besar jatuh di tangan kompeni, ia muncul sebagai pimpinan perang hingga pada tahun 1881 Teungku Chik Di Tiro bersama pasukannya berhasil merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong.

Baca juga: 10 Perempuan Diangkat Jadi Pejabat Senior Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Lantaran semangat juangnya yang begitu gigih, Teungku Cik Di Tiro dijuluki sebagai 'Panglima Sabil' atau pemimpin perang Sabil. Ia dipercaya oleh Kesultanan Aceh memimpin perang berjuang melawan penindasan atas dasar agama dan nasionalisme.

Selain Benteng Lambaro, Teungku Chik Di Tiro juga berhasil merebut benteng Belanda di Indrapura pada tahun 1881. Ia juga terlibat pertempuran di Pulau Breuh yang saat itu dikuasai Belanda. Perlawanan heroik sang mujahid membuat pasukan Belanda kalang kabut.

Kehebatan Teungku Chik Di Tiro semakin membuat serdadu Belanda ketar-ketir. Betapa tidak, aksi heroik bersama pasukannya berhasil menewaskan salah satu perwira Belanda yakni Mayor Jenderal Kohler. Kondisi ini membuat Belanda murka hingga menghujani pasukan Chik Di Tiro dengan tembakan meriam dari kapal perang yang bersandar di pantai. Akibatnya, pasukan Chik Di Tiro berhasil dipukul mundur.

Sepak terjang Teungku Chik Di Tiro membuat Belanda hampir kehabisan akal untuk menumpasnya. Hingga akhirnya muncul siasat busuk untuk membunuh sang Panglima Sabil. Belanda kemudian memakai "siasat liuk" yaitu dengan mengirim makanan yang telah dicampur racun.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Kelicikan Belanda ini rupanya berhasil menewaskan salah satu pahlawan kebanggaan rakyat Aceh itu. Teungku Chik Di Tiro diracun lewat makanan yang dibawa oleh salah satu pembantu kerajaan. Saat itu, Belanda membujuk seseorang yang bersedia bekerja sama diangkat menjadi Kepala Sagi.

Seorang pria kemudian diimingi Belanda jabatan tinggi jika berhasil membunuh Chik Di Tiro. Pria tersebut lantas memerintahkan seorang wanita membubuhi racun ke dalam makanan yang kemudian disuguhkan kepada Teungku Chik Di Tiro.

Singkat cerita, saat mengunjungi Benteng Tui Seilimeung usai sholat di masjid, wanita suruhan tadi memberi makanan yang telah dicampur racun kepada sang Panglima Sabil. Tanpa curiga Teungku Chik Di Tiro menyantap makanan itu.

Selang tak berapa lama, ia pun jatuh sakit hingga akhirnya wafat di Benteng Aneuk Galong pada 31 Januari 1891 di usia 55 tahun. Jenazah Teungku Chik Di Tiro kemudian dimakamkan di Meureu, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar bersama istrinya, Teuku Mat Amin.

Berkat kegigihannya berjuang mengusir penjajah Belanda, Pemerintah Indonesia mengangkat Teungku Chik Di Tiro sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan pada 6 November 1973 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) Nomor 087/TK/Tahun 1973.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya