5 Ulama Sekaligus Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Jalan Kaki 18 Hari Tarutung-Padang Panjang

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 16 Agustus 2021 07:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 16 614 2456120 5-ulama-sekaligus-pejuang-kemerdekaan-indonesia-jalan-kaki-18-hari-tarutung-padang-panjang-7KcRcp0qYV.jpg Ulama sekaligus pejuang, KH Syam'un. (Foto: Wikipedia)

ULAMA sekaligus pejuang kemerdekaan tidak dapat dipisahkan dari proses kemerdekaan Indonesia. Peran mereka sangat besar. Bukan hanya mengangkat moril berperang melawan penjajah, ulama juga ikut mengatur strategi dan terlibat langsung dalam peperangan.

Mereka rela mengorbankan nyawa dan harta dalam berjuang demi tegaknya Republik Indonesia. Namun, banyak sekali generasi muda saat ini lupa dengan sejarah kepahlawanan para pendahulunya, atau bahkan sama sekali tidak tahu.

Baca Juga: Mualaf Pertama di Inggris William Henry Quilliam Bergelar Profesor Hukum

Siapapun tidak akan mampu membangkitkan semangat kepahlawanan dalam diri generasi muda, jika buram dalam sejarah perjuangan kaum muslimin dalam meraih kemerdekaan Indonesia.

Berikut 5 ulama yang menjadi tentara diera kemerdekaan Indonesia:

1. Kiai Hasnawi Karim

H. Hasnawi Karim, B.A. adalah seorang akademisi dan pejuang Indonesia. Ia lahir di Batipuh Baruah, Tanah Datar, Sumatra Barat pada 24 Desember 1924 dari pasangan keluarga Abdul Karim Datuk Rangkayo Marajo dengan Hajjah Nurqamar Amin. Berbagai profesi dan pekerjaan pernah digeluti olehnya.

Dimulai dari guru, pejuang, perwira hingga pemimpin dan menjadi seorang ulama. Bahkan juga menjadi pemain dalam kancah politik. Hasnawi menjadi Imam Tentara Dinas Agama Tentara Staf A Territorium Sumatera tengah, daerah Tanah Datar untuk membina ketaatan beragama, menanamkan iman dan ketakwaan serta budi pekerti luhur para prajurit.

Baca Juga: Kisah Dr Jerald Dirks dari Amerika Jadi Mualaf Gara-Gara Kuda Arab

Hasnawi pernah menjadi kepala pendidikan dan latihan Pemuda Republik Indonesia (PRI) Batipuh X Koto Padang Panjang. Ia ikut berjuang dalam memperoleh kemerdekaan dan ia mengumpulkan bahan makanan dalam pembentukan BKR, TKR Batalyon Merapi yang dirampas dari gudang perbekalan Jepang di Batipuh.

Pada Agresi Belanda II, Hasnawi pergi ke Tarutung untuk mencari persenjataan. Belum sampai ke tempat tujuan, Hasnawi diminta untuk menyerahkan mobilnya kepada petugas disana, karena untuk menyusun perjuangan yang sangat disegerakan. Akhirnya Hasnawi harus berjalan kaki untuk kembali ke Padang Panjang dengan menempuh perjalanan 18 hari siang malam. “Telapak sepatu ABRI yang saya pakai dalam perjalanan 18 hari itu habis,” kata Hasnawi mengisahkan penderitaannya dalam perjuangan.

2. Kiai Syam’un

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) K.H. Syam'un adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan yang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Banten sekaligus pendiri Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon. Ia lahir di Beji, Bojonegara, Serang, Banten pada tanggal 5 April 1894. Pada umur 11 Tahun, KH. Syam’un berguru di Masjid Al-Haram tempat ahli-ahli keislaman terbaik di dunia berkumpul untuk membagi ilmu.

KH. Syam’un pernah bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA), sebuah gerakan pemuda bentukan Jepang. Dalam PETA, jabatannya sebagai Dai Dan Tyo yang membawahi seluruh Dai Dan I PETA wilayah Serang. Ia juga sering mengajak anak buahnya untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang.

Baca Juga: 5 Anak Band Hijrah Tinggalkan Musik, Banyak Tantangan Tetap Istaqamah dan Yakin

Karier KH. Syam’un diketentaraan terbilang gemilang hingga diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945-1949. Pada awal Kemerdekaan, KH.Syam'un berhasil meredam gejolak sosial di Banten, peristiwa itu terkenal dengan peristiwa Dewan Rakyat pimpinan ce Mamat.

3. Kiai Masykur

K.H. Masjkur adalah Menteri Agama pada tahun 1947-1949 dan 1953-1955. Ia lahir di Malang, Jawa Timur, pada 30 Desember 1904. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren Bungkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.

Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang dan ia juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (PETA). Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya dan di masa Mr Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

4. Kiai Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani

KH. Tubagus Ahmad Chatib adalah seorang ulama, pejuang, dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten. Ia lahir di Pandeglang, Banten, pada tahun 1855. Pada tanggal 19 September 1945 Soekarno, selaku Presiden Republik Indonesia mengangkat Ahmad Chatib menjadi Residen Banten yang menangani administrasi dan pemerintahan sipil, serta menangani segala unsur militer.

Pada masanya ini, Ia juga pernah menduduki jabatan penting di pemerintahan Indonesia seperti Dewan Pertimbangan Agung, Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR), bahkan pernah menduduki kursi MPRS dan BPPK.

Selain aktif dalam menggerakan roda pemerintahan, dalam usahanya ia juga memajukan agama dan umat. Ia merupakan pencetus berdirinya Majelis Ulama, Perusahaan Alim Ulama (PAU), serta mendirikan perguruan tinggi seperti Universitas Islam Maulana Yusuf yang di kemudian hari berganti nama menjadi IAIN Sunan Gunung Jati, Banten.

5. Kiai Iskandar Sulaiman

Iskandar Sulaiman terlahir dari keturunan bangsawan yang kaya raya, dan ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan, sama sekali tidak menampakkan kesombongan. Selepas perjalanannya dalam menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng. Dengan kekayaannya itu digunakan untuk memakmurkan masyarakat disekitarnya sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Serta ia turut mendirikan beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lainnya.

Karir Iskandar Sulaiman tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja, di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya