Kiai Wahid Hasyim dan Perannya di Balik Kemerdekaan Indonesia

Riyadi Akmal, Jurnalis · Senin 17 Agustus 2020 11:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 17 614 2263265 kiai-wahid-hasyim-dan-perannya-di-balik-kemerdekaan-indonesia-cGSPDP8LB4.JPG KH Abdul Wahid Hasyim (Foto: Wikipedia)

KH ABDUL Wahid Hasyim merupakan putra pasangan KH Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas. Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur pada Jumat 1 Juni 1914. Saat kelahirannya, di rumahnya sedang ramai pengajian.

Kiai Wahid Hasyim adalah satu dari sepuluh keturunan langsung KH Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari Kerajaan Demak.

Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu berawal dari Sultan Brawijaya V yang menjadi salah satu raja Kerajaan Mataram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.

Kesepuluh anak Kiai Hasyim Asy’ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid Hasyim, Abdul Khaliq, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara dengan Nyai Masrurah, KH Hasyim Asy’ari dikaruniai empat anak yakni Abdul Kadir, Fatimah, Khodijah, dan Ya’kub.

KH Wahid Hasyim tergolong cerdas. Di usia kanak-kanak, beliau sudah pandai membaca kitab suci Alquran dan bahkan sudah khatam ketika masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Kiai Wahid Hasyim juga belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng.

Pada usia 12 tahun, setelah selesai dari madrasah, beliau sudah membantu ayahnya mengajar. Sebagai anak tokoh terkemuka, Kiai Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Beliau lebih banyak belajar secara otodidak.

Selain belajar di madrasah, Kiai Wahid Hasyim juga banyak mempelajari kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Ia mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala serta menguasai maknanya dengan baik.

Baca juga: HOS Tjokroaminoto, Raja Tanpa Mahkota Penentang Feodalisme

Pada usia 13 tahun, beliau dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan, beliau pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri.

Di pesantren ini ia mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan KH Wahid Hasyim hanyalah keberkahan dari sang guru, bukan ilmunya.

Soal ilmu, demikian mungkin beliau berpikir bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kiai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari Kiai Wahid Hasyim saat itu.

Sepulang dari Lirboyo, ia tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya, pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, dia diberikan kebebasan menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak.

Meski tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik Pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun, beliau sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris serta Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Dalam masa pengembangan pesantren pada tahun 1916, Kiai Ma’sum, menantu Kiai Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Kiai Wahid Hasyim, mulai memasukkan sistem madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren.

Pembaruan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari, berikut murid dan putranya, bukan tanpa halangan. Pembaruan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orangtua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaruan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi itu tidak menyurutkan proses pembaruan Pesantren Tebuireng.

Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Kiai Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, beliau dikirim ke Makkah, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima yakni berhaji, beliau juga ingin mendalami berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Makkah ditemani saudara sepupunya Kiai Muhammad Ilyas yang kelak menjadi Menteri Agama.

Kiai Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Wahid Hasyim sehingga tumbuh menjadi remaja cerdas. Kiai Ilyas dikenal fasih berbahasa Arab, dan dialah yang mengajari Wahid Hasyim.

Di Tanah Suci, beliau belajar selama dua tahun. Dengan pengalaman pendidikan tersebut, tampaknya beliau merupakan sosok yang memiliki bakat intelektual yang baik.

Beliau menguasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa Arab, Inggris, dan Belanda. Dengan bekal kemampuan tiga bahasa tersebut, Kiai Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku. Belajar otodidak yang dilakukannya memberikan pengaruh yang signifikan bagi praktik dan kiprahnya dalam pendidikan serta pengajaran, khususnya di pondok pesantren, termasuk juga dalam politik.

Kiprah politik

Di usia 24 tahun (1938), KH Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, beliau gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaruan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah.

Baginya pembaruan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah. Menikah pada usia 25 tahun, Kiai Wahid Hasyim mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun.

Aktif Berorganisasi pada bulan April 1934, sepulang dari Makkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar KH Wahid Hasyim aktif di himpunan atau organisasi yang dipimpinnya. Tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama (NU).

Pada tahun-tahun itu di Indonesia banyak berkembang perkumpulan atau organisasi pergerakan. Baik yang bercorak keagamaan maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis organisasinya dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh-tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Kiai Wahid Hasyim ke Tanah Air disambut penuh antusias oleh para pemimpin perhimpunan dan diajak bergabung.

Ternyata tidak satu pun tawaran itu yang diterima, termasuk dari NU. Apa yang terjadi dalam pergulatan pemikiran Kiai Wahid Hasyim sehingga tidak secara cepat menentukan pilihan bergabung di dalam satu perkumpulan? Saat itu memang ada dua alternatif di benaknya.

Kemungkinan pertama, beliau menerima tawaran dan masuk dalam salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Kemungkinan kedua, mendirikan perhimpunan atau partai sendiri. Di mata Kiai Wahid Hasyim perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak ada yang memuaskan.

Pada 1936 beliau mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IKPI). Pendirian organisasi ini bertujuan mengorganisir para pemuda yang secara langsung beliau sendiri menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini antara lain mendirikan taman baca. Pada tahun 1938 Kiai Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU.

Ia ditunjuk sebagai Sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya KiaiWahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini kariernya terus meningkat sampai hingga tahun 1938.

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Kiai Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946. Pada tahun ini juga, ketika KNIP dibentuk, Kiai Abdul Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Karier Kiai Wahid Hasyim di pentas politik nasional terus meningkat. Pada usianya yang masih muda, beberapa jabatan beliau sandang. Di antaranya ketika Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Ia merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro dari 62 orang yang ada. Waktu itu Kiai Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun. Kiai Wahid Hasyim juga tergabung dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Memiliki kemampuan intelektual dan kecakapannya dalam berorganisasi mengantarkan dirinya menduduki jabatan sebagai Menteri Agama hingga tiga kabinet, yakni Kabinet M Hatta, M Natsir, dan Kabinet Sukiman.

Kiai Wahid Hasyim wafat pada 19 april 1953 di usia 39 tahun akibat kecelakaan mobil di Kota Cimahi, Jawa Barat. Atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, Kiai Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964. Namanya kini juga diabadikan sebagai nama salah satu jalan di bilangan Jakarta Pusat.

Sumber: Biografi singkat KH Abdul Wahid Hasyim disarikan dari Buku "99 Kiai Kharismatik Indonesia" karya Kiai A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya