Melacak Ulama Indonesia Keturunan Rasulullah, Begini Alurnya

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 01 September 2021 06:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 01 614 2464209 habib-ulama-indonesia-dari-garis-keturunan-rasulullah-saw-Jz3DkSbiob.jpg Habib ulama Indonesia keturunan Nabi Muhammad SAW. (Foto: SINDOnews)

HABIB menjadi sebutan antropologis untuk orang-orang Hadramaut yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Husein bin Ali.

“Jadi Nabi itu kan punya cucu dua ya. (Nabi) punya anak Fatimah, Fatimah punya anak Hasan dan Husein. Dari Hasan dan Husein ini kan ada banyak keturunan nabi,” papar Sejarawan Islam Tiar Anwar Bachtiar

Tiar yang mengajar di Universitas Padjajaran Bandung ini mengatakan bahwa asal mula keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia diawali oleh migrasi keturunan cucu Husein dari kawasan Hadramaut di Yaman, bernama Alawi. Keturunan Nabi dari jalur Alawi ini di Indonesia disebut dengan Alawiyin.

Baca Juga: Begini Akibat Jika Bersandar Harapan dan Mencari Ridha kepada Manusia

“Biasanya keturunan Alawiyin inilah yang disebut sebagai ‘habib’. Habib itu sebenarnya hanyalah sebutan. Kalau sebutan atau gelar resminya adalah ‘Sayyid’, perempuannya adalah ‘Sayyidah’.”

Tiar menambahkan bahwa di Indonesia, utamanya keturunan dari Hadramaut ini, terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Alawiyin dan non-Alawiyin. Keturunan Arab non-Alawiyin di Indonesia, khususnya yang menyiarkan agama Islam mendapat sebutan ‘Syaikh’ / ‘Syekh’ atau ‘Syaikhah’ bagi yang perempuan.

Namun umumnya hanya Alawiyin yang dikenal sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Menag Masih Menunggu Surat Tertulis dari Arab Saudi untuk Membuka Jamaah Umrah

Di Indonesia, keturunan Alawiyin membentuk sebuah organisasi yang salah satu tugasnya adalah pencatatan silsilah keturunan Nabi. Organisasi ini bernama Rabithah Alawiyah yang berdiri sejak 1928.

Masyarakat Arab umumnya secara tradisi sangat mementingkan silsilah keturunan keluarga atau yang biasa disebut nasab. Bahkan menurut Tiar, nasab sudah menjadi ilmu sendiri yang digunakan untuk menelusuri hadits-hadits Nabi Muhammad. Kelompok Alawiyin dalam hal ini turut memanfaatkan ilmu nasab untuk menelusuri dan mencatat keturunannya.

Sekadar diketahui beberapa figur yang dikenal publik di antaranya Habib Ali Kwitang (pemimpin Majelis Tak'lim Kwitang), Habib Luthfi bin Yahya (pendakwah Nahdlatul Ulama), Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan (Pengasuh Ponpes Al-Fachriyah Tangerang), Habib Hasan bin Ja'far Assegaf (Pemimpin Majelis Taklim Nurul Musthofa Jakarta), Habib Novel Alaydrus (pengasuh Majelis Ar-Raudhah Solo), dan masih banyak Habib lainnya yang mempunyai pengaruh besar.

Baca Juga: Baru Hijrah Sudah Berdakwah, Bagaimana Pandangan Ulama?

Ahmad Alatas, ketua pencatatan nasab Alawiyin Rabithah Alawiyah mengatakan pada 2014 organisasinya mencatat keturunan Alawiyin se-jabodetabek mencapai 14.500 jiwa.

“Jadi memang sangat dianjurkan setiap Alawi yang lahir didaftarkan di kantor lembaga kami,” ujar Ahmad melansir VOA saat mewawancarainya beberapa waktu lalu.

Ahmad menjelaskan keturunan Alawi yang ingin mendaftar perlu mengisi formulir, menyertakan saksi, Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan wajib menyebutkan silsilah hingga kakek ke-5.

“Umumnya di daerah Jawa, sampai kakek ke-5 itu masih terdaftar. Tapi kalau di daerah Sumatera seperti di Medan dan Aceh agak sulit,” paparnya.

Menurut Ahmad, tanpa KTP atau KK, permohonan pendaftaran bisa dibuktikan melalui penyerahan surat nikah, paspor, atau bentuk manuskrip lainnya yang bisa menunjukkan bukti nasabnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

"Nanti kami periksa apakah silsilah ini tersambung dengan buku (induk) kami atau tidak. Kalau tidak ada sama sekali semua (buktinya) sampai tujuh turunan, maka kami tidak bisa membuatkan buku,” jelas Ahmad.

Setiap Alawiyin yang terdaftar di Rabithah Alawiyah menurut Ahmad, memiliki buku nasab yang berfungsi sebagai bukti identitas Alawiyin.

Cara lain mengenali Alawiyin yakni melalui marganya. Rabithah Alawiyah mencatat ada sekitar 68 marga yang merupakan keturunan Alawi yang tersebar ke seluruh nusantara. Marga-marga yang termasuk Alawiyin, antara lain Alatas, Assegaf, Shihab, Shahab, Alaydrus, Al-juffrie, Alhamid, dan Almuhdor.

Kecenderungannya keturunan Nabi Muhammad yang mendalami agama mendapatkan tempat tersendiri di komunitas Islam tertentu.

“Makanya kalau di kalangan orang Betawi, terutama di Jakarta, kalau ada keturunan Nabi yang mendalami agama biasanya kecintaannya agak lebih, ” katanya.

Asal muasal kehadiran para Habib di Indonesia sebenarnya telah ada sejak dulu sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Mereka datang dari Hadhramaut (Yaman).

Di Indonesia, ada satu organisasi yang bertugas menghimpun WNI keturunan Arab, khususnya yang memiliki keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW atau keluarga Alawiyyin. Lembaga ini berkantor pusat di Jakarta.

Dikutip dari Gana Islamika, Ketua Dewan Pimpinan Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar bin Smith mengungkapkan, dzurriyah (keturunan) Nabi ini dapat ditelusuri dari pendirinya, yaitu Ahmad bin Isa (wafat tahun 345 H). Pria yang dikenal dengan nama Al-Imam Ahmad bin Isa atau al-Imam al-Muhajir ini adalah generasi ke-8 dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra.

Ahmad bin Isa melakukan hijrah dari Basra ke Hadhramaut (Yaman) bersama keluarganya pada tahun 317 H untuk menghindari Dinasti Abbasiyah yang berkuasa saat itu. Mereka hijrah dari Basrah ke Hadhramaut mengikuti kakek buyutnya, yaitu Muhammad Rasulullah SAW yang hijrah dari Mekah ke Madinah.

Ahmad bin Isa wafat di Husaisah, salah satu desa di Hadhramaut, pada tahun 345 Hijriah. Beliau mempunyai dua putera yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut dan memiliki tiga orang putera yaitu Alwi (Alawi), Jadid, dan Ismail.

Akhir abad ke-6 H keturunan Ismail dan Jadid tidak mempunyai kelanjutan, sedangkan keturunan Alwi tetap berlanjut. Keturunan dari Alwi inilah yang kemudian dikenal dengan kaum Alawiyin. Maka secara khusus, istilah “Habib” mengacu kepada keturunan Alwi bin Ubaidillah (wafat awal abad ke-5 H)

Penjelasan serupa juga diungkapkan Ustaz Dr Miftah el-Banjary. Ustaz yang berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan ini menjelaskan, asal muasal keberadaan Habib dapat dilacak dari pendirinya, yaitu Ahmad bin Isa (wafat 345 H). Pria yang lebih dikenal dengan nama al-Imam Ahmad bin Isa atau Imam al-Muhajir ini adalah generasi ke-8 dari keturunan Ali bin Thalib dan Fatimah az-Zahra.

Ahmad bin Isa diketahui melakukan hijrah dari Basra ke Hadramaut (Yaman) bersama keluarganya pada tahun 317 H untuk menghindari Dinasti Abbasyiah yang sedang berkuasa saat itu. Sebelum ke Yaman, Ahmad bin Isa diketahui pernah berhijrah ke dari Mekkah ke Madinah. Beliau memiliki tiga orang putera, yaitu Alawi, Jadid dan Ismail. Keturunan Alawi inilah yang kemudian dikenal dengan kaum ‘Alawiyyin. Maka secara khusus istilah “Habib” mengacu pada keturunan Alwi bin Ubaidillah (wafat awal ke-5 H).

"Mengenai kedatangan kelompok Bani Alawiyyin ini ke Nusantara untuk pertama kalinya, tidak ada keterangan yang jelas siapa saja nama tokoh yang pertama kali datang dan berdakwah. Kapan pertama kali mereka datang? Apakah kedatangan mereka dalam misi dakwah yang secara sengaja diutus oleh penguasa ketika itu atau kah hanya dalam misi perdagangan?," sebut Ustaz Miftah.

Berdasarkan catatan seorang penulis sejarah bernama Haji Ali bin Khairuddin di dalam bukunya “Keterangan-keterangan Kedatengan Bongso Arab Ing Tanah Jawi Saking Hadramaut,” halaman 113, mengatakan antara lain, bahwa kedatangan orang-orang Arab di Kepulauan ini (Indonesia) terjadi pada akhir abad ke- 7 H. Mereka datang dari India, terdiri dari 9 orang yang oleh penduduk Jawa disebut “Wali Songo”, yakini Sembilan orang waliyullah. Mereka adalah bersaudara, antara lain:

1. Sayyid Jamaluddin

2. Sayyid Qamaruddin

3. Sayyid Tsanauddin

4. Sayyid Majduddin

5. Sayyid Muhyuddin

6. Sayyid Zainul ‘Alam

7. Sayyid Nurul ‘Alam

8. Sayyid ‘Alawi

9. Sayyid Fadhl Sunan Lembayung.

Mereka semua putera dari Sayyid Ahmad Syah Jalal bin Abdullah Khan bin Abdul Malik bin Sayyid Alwi bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khalli Qassam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa al-Bashry bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidh bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam al-Husain bin Abi Thalib. Mereka adalah dzurriyatun Nabi dari putri Rasululullah; Fathimah az-Zahra.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya