Surat Yasin Memberikan Faedah Setiap Amalan Pasti Dicatat

Kamis 20 Agustus 2020 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 20 330 2264894 surat-yasin-memberikan-faedah-setiap-amalan-pasti-dicatat-clmfysWgki.jpg Kitab suci Alquran. (Foto: Okezone)

SURAT Yasin merupakan bagian dari kitab suci Alquran yang mungkin sudah dikenal setiap Muslimin. Surat ke-36 dengan 83 ayat ini memiliki banyak faedah di dalamnya. Salah satunya menjelaskan bahwa setiap amalan yang dilakukan umat Islam pasti dicatat dan dibalas berlimpah oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam salah satu ayat Surat Yasin yakni:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآَثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS Yasin: 12)

Baca juga: Ini Hadis-Hadis Terkait Muharram, Bulan yang Sangat Disucikan 

Dikutip dari Rumaysho, Kamis (20/8/2020), Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan, sebagaimana diterangkan para ulama tafsir, faedah-faedah penting dari ayat tersebut adalah:

1. Allah akan hidupkan makhluk yang telah mati pada hari kiamat kelak

Allah Subhanahu wa ta'ala akan menghidupkan makhluk yang telah mati, yang telah menjadi tulang-belulang, ketika hari kiamat kelak, ketika hari berbangkit. Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati."

Ibnu Katsir menjelaskan, ini terjadi pada hari kiamat. (Tafsir Alquran Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muasasah Qurthubah, 11/347)

Artinya di hari kiamat semua yang telah mati akan kembali dihidupkan. Ayat ini sangat terang menunjukkan adanya hari berbangkit. Inilah bagian akidah yang wajib diyakini seorang Muslim.

Kitab suci Alquran. (Foto: Unsplash)

2. Allah menghidupkan siapa saja yang dikehendaki

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala bisa menghidupkan hati siapa saja yang Dia kehendaki, termasuk orang-orang kafir yang mati hatinya karena tenggelam dalam kesesatan. Allah Ta'ala bisa jadi menunjukkan mereka dari kesesatan menuju jalan hidayah.

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala setelah menceritakan mengenai orang yang keras hatinya:

اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

"Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya." (QS. Al Hadid: 17) (Tafsir Alquran Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muasasah Qurthubah, 11/347)

Sebelumnya Allah Subhanahu wa ta’ala menerangkan:

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

"Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS Al Hadid: 16)

Baca juga: Kisah Pemuda Bertakwa Kalahkan Raja Dzu Nuwas dan Mengislamkan Satu Negeri 

3. Allah mencatat setiap amalan hamba-Nya

Allah Subhanahu wa ta'ala akan mencatat setiap amalan yang pernah dilakukan. (Tafsir Alquran Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muasasah Qurthubah, 11/347)

Lalu dicatat juga setiap perbuatan baik maupun buruk. (Lihat Tafsir Ath Thobari, Ibnu Jarir Ath Thobari, 20/497; Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 9/8; Ma’alimut Tanzil, Al Baghowi, Dar Thoyyibah, 7/9; Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, Mawqi’ At Tafasir, 6/153)

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا

"dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan."

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

4. Menuliskan apa yang dikerjakan dan ditinggalkan

Allah Subhanahu wa ta'ala menuliskan apa yang dikerjakan dan ditinggalkan hamba-Nya. Sebagaimana dalam ayat:

وَآَثَارَهُمْ

"(dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan) dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan."

Maksud dari "bekas-bekas yang mereka tinggalkan" ada tiga pendapat di kalangan pakar tafsir:

1. Bekas langkah kaki mereka. Pendapat ini dipilih oleh Al Hasan, Mujahid, dan Qotadah.

2. Langkah kaki menuju Sholat Jumat. Pendapat ini dipilih oleh Anas bin Malik.

3. Bekas kebaikan dan kejelekannya yang orang lain ikuti. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Al Faro’, Ibnu Qutaibah, dan Az Zujaj. (Zaadul Masiir, 9/8-9)

Hal ini menunjukkan bahwa bekas langkah kaki akan dicatat, baik langkah dalam kebaikan maupun keburukan, sebagaimana penjelasan Qotadah (seorang tabiin) yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Qotadah rahimahullah mengatakan, "Seandainya Allah lalai dari urusan manusia, maka tentu saja bekas-bekas (kebaikan dan kejelekan) itu akan terhapus dengan embusan angin. Akan tetapi Allah Ta’ala menghitung seluruh amalan manusia, begitu pula bekas-bekas amalan mereka. Sampai-sampai Allah Ta’ala akan menghitung bekas-bekas amalan mereka baik dalam ketaatan maupun dalam kemaksiatan. Barang siapa yang ingin dicatat bekas amalan kebaikannya, maka lakukanlah." (Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 11/348)

Maksud yang disampaikan oleh Qotadah ini juga disampaikan dalam beberapa hadis di antaranya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ خَلَتِ الْبِقَاعُ حَوْلَ الْمَسْجِدِ فَأَرَادَ بَنُو سَلِمَةَ أَنْ يَنْتَقِلُوا إِلَى قُرْبِ الْمَسْجِدِ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لَهُمْ « إِنَّهُ بَلَغَنِى أَنَّكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا قُرْبَ الْمَسْجِدِ ». قَالُوا نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ أَرَدْنَا ذَلِكَ. فَقَالَ « يَا بَنِى سَلِمَةَ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ ».

Dari Jabir bin Abdillah berkata, "Di sekitar masjid ada beberapa bidang tanah yang masih kosong, maka Bani Salamah berinisiatif untuk pindah dekat masjid. Ketika berita ini sampai ke telinga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Beliau bersabda, 'Rupanya telah sampai berita kepadaku bahwa kalian ingin pindah dekat masjid.' Mereka menjawab, 'Benar wahai Rasulullah, kami memang ingin seperti itu.' Beliau lalu bersabda, 'Wahai Bani Salamah, tetapkanlah kalian tinggal di rumah kalian, sebab langkah kalian akan dicatat, tetapkanlah kalian tinggal di rumah kalian, sebab langkah kalian akan dicatat'." (HR Muslim nomor 665)

Disebutkan dalam Tafsir Ath Thobari sebuah riwayat dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata:

شكت بنو سَلِمة بُعد منازلهم إلى النبي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم فنزلت( إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ) فقال: “عَلَيكُمْ مَنَازِلَكُم تُكْتَبُ آثارُكم”

"Bani Salamah dalam keadaan kebimbangan karena tempat tinggal mereka jauh dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lantas turunlah ayat (yang artinya), 'Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.' Beliau bersabda, 'Tetaplah kalian di tempat tinggal kalian. Bekas-bekas langkah kalian akan dicatat'." (Tafsir Ath Thobari, 20/498)

Artinya di sini, langkah menuju masjid dalam amalan kebaikan akan dicatat, begitu pula langkah pulang dari masjid. Ketika seseorang menuntut ilmu, harus menaiki kendaraan karena sangat jauhnya tempat pengajian, maka putaran roda pun akan dicatat sebagai kebaikan karena ini adalah bekas amalan kebaikan yang ia lakukan. Begitu pula ketika seseorang harus mengeluarkan biaya untuk menuntut ilmu dari para guru (masyaikh) di luar negeri, maka setiap usaha menuju ke sana yang ia lakukan, itu pun akan dicatat. Begitu pula rasa capek dalam kebaikan, itu pun akan dicatat. Sungguh Maha Besar karunia Allah. Namun kita sendiri yang sebenarnya tidak menyadari hal ini.

Begitu pula bekas langkah dalam melakukan kemaksiatan pun akan dicatat. Ketika mengendarai mobil untuk menuju tempat maksiat akan dicatat. Dengan mengetahui hal ini sudah seharusnya tidak bertekad melakukan maksiat dan dosa.

5. Pahala dan dosa jariah

Sebagaimana tafsiran “bekas-bekas amalan” lainnya adalah bahwa bekas kebaikan dan kejelekan yang diikuti orang lain, itu pun akan dicatat. Artinya jika kebaikan kita diikuti oleh orang lain, maka kita pun akan mendapatkan pahala. Begitu pula jika kejelekan yang kita lakukan diikuti oleh orang lain, maka kita pun akan mendapatkan dosa.

Dalil yang mendukung tafsiran ini adalah hadits-hadits berikut ini.

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

"Barang siapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikit pun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun." (HR Muslim nomor 1017)

Jika ilmu yang bermanfaat diikuti oleh orang lain, seseorang yang menyebarkan kebaikan tersebut akan mendapatkan pahala orang yang mengikuti kebaikannya meskipun ia telah berada di liang lahad.

Hal ini sebagaimana dalam hadis:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika manusia itu mati, maka amalannya akan terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak salih yang mendoakan dirinya." (HR An Nasai nomor 3651 dan At Tirmidzi nomor 1376. Syekh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih)

6. Semua tercatat di Lauhul Mahfuzh

Dijelaskan bahwa segala sesuatu akan dicatat di Lauhul Mahfuzh (lembaran yang terjaga). Inilah yang disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

"Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauhul Mahfuzh)."

Setiap kebaikan dan kejelekan yang dilakukan, sungguh akan dicatat di Lauhul Mahfuzh.

7. Kitab amalan bersaksi

“Imamul Mubin” yang dimaksudkan di sini adalah ummul kitab (induk kitab). Demikian disebutkan dalam ayat lain:

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ

"(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya." (QS Al Isro’: 71)

Maksud pemimpinnya di sini adalah dengan kitab amalan mereka yang bersaksi atas kejelekan dan kebaikan yang dilakukan.

Maksud ayat di atas sama dengan firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam ayat lainnya:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ

"Dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah Para Nabi dan saksi-saksi." (QS Az Zumar: 69)

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

"Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: 'Celaka Kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun'." (QS Al Kahfi: 49) (Tafsir Alquran Al ‘Azhim, 11/350-351).

Wallahu a'lam bishawab.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya