Bagaimana Hukumnya Numpang Pakai Toilet Masjid?

Rabu 26 Agustus 2020 12:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 26 330 2267681 bagaimana-hukumnya-numpang-pakai-toilet-masjid-bMez2wzlHM.jpg ilustrasi (stutterstock)

SERING kali saat dalam perjalanan, kita singgah di masjid yang ada di pinggir jalan untuk beribadah atau sekadar beristirahat saja. Kerap juga menggunakan toilet masjid tersebut untuk buang hajat, kencing atau sekadar cuci muka.

Lalu, bagaimana hukumnya menggunakan fasilitas toilet masjid tanpa melakukan ibadah di masjid tersebut?

Dalam artikel di laman resmi Pondok Pesantren Lirboyo, Rabu (26/8/2020), dijelaskan bahwa pada dasarnya, air di masjid disediakan khusus untuk orang yang beribadah di masjid, baik sholat, iktikaf dan semacamnya. Sehingga memanfaatkan air masjid tanpa beribadah di masjid tidak diperbolehkan.

Syekh As-Syarwani menjelaskan:

وَكَذَا يُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ حُرْمَةُ مَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ مِنْ أَنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَدْخُلُونَ فِي مَحَلِّ الطَّهَارَةِ لِتَفْرِيغِ أَنْفُسِهِمْ ثُمَّ يَغْسِلُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَيْدِيَهُمْ مِنْ مَاءِ الْفَسَاقِيِ الْمُعَدَّةِ لِلْوُضُوءِ لِإِزَالَةِ الْغُبَارِ وَنَحْوِهِ بِلَا وُضُوءٍ وَلَا إرَادَةِ صَلَاةٍ

“Begitu juga keharaman yang menjadi kebiasaan bahwa orang-orang masuk ke tempat bersuci untuk merampungkan hajatnya, membasuh wajah serta tangannya dari debu dan sesamanya menggunakan air yang dikhususkan untuk wudhu tanpa melakukan wudhu dan tanpa tujuan sholat.” (Hawasyi asy-Syarwani, I/231)

Baca juga: Ini 12 Rakaat Sholat Sunah Rawatib yang Selalu Dikerjakan Rasulullah

Namun apabila sumber air tersebut diwakafkan untuk kemaslahatan umum atau penggunaan semacam itu sudah mentradisi tanpa ada yang mengingkari, maka hukumnya boleh.

Syekh Zainuddin al-Malibari mengutip dalam kitab Fath al-Mu’in:

إِنَّهُ إِذَا دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ مَوْضُوْعٌ لِتَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ جَازَ جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنَ الشَّرْبِ وَغَسْلُ النَّجَاسَةِ وَغَسْلُ الْجِنَابَةِ وَغَيْرُهَا وَمِثَالُ الْقَرِيْنَةِ: جِرْيَانُ النَّاسِ عَلَى تَعْمِيْمٍ لِاِنْتِفَاعٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ مِنْ فَقِيْهٍ وَغَيْرِهِ

“Sesungguhnya apabila terdapat indikasi bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, semisal untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain sebagainya. Contoh dari indikasi tersebut adalah kebiasaan manusia untuk memanfaatkannya secara umum tanpa ada pengingkaran, baik dari ahli fikih atau yang lainnya.” (Fathul Muin, hlm. 88)

Meskipun demikian, dalam rangka keluar dari khilaf ulama, dianjurkan untuk melakukan ibadah di masjid tersebut atau memasukkan sejumlah uang yang setara dengan penggunaan toilet umum ke dalam kotak infaq.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini