Kaum Syiah Irak Peringati Kematian Imam Husein di Tengah Lonjakan Covid-19

Muhammad Hafizh Arya Pradana, Jurnalis · Minggu 30 Agustus 2020 02:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 29 614 2269538 kaum-syiah-irak-peringati-kematian-imam-husein-di-tengah-lonjakan-covid-19-SfeRjKQySa.JPG Kaum Syiah Irak bersiap memperingati tragedi Karbala yang menewaskan Imam Husein (Foto: Aljazeera)

JELANG masa berkabung bagi kaum Syiah, seorang lelaki tua datang bersuara lantang dan jelas. Ia berujar bahwa wabah virus corona atau Covid-19 tidak akan menghentikan mereka untuk memperingati kematian Imam Husein.

"Dengarkan aku. Ada atau tidaknya virus corona, kami akan tetap menjalankan ritual seperti biasa," kata pria berjenggot putih di hadapan kerumunan orang, dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial.

"Di sini kami siap melayani Anda, oh Husein," sahut jamaah sambil mengepalkan tangan mereka ke udara. Beberapa dari mereka meluapkan emosinya seraya menangis.

Melansir laman Aljazeera, Minggu (30/8/2020), otoritas kesehatan Irak berjuang untuk menahan jumlah kasus Covid-19 yang terus meroket. Namun di sisi lain, banyak warga Irak mengabaikan seruan pemerintah dan pemimpin agama Syiah moderat untuk tetap tinggal di rumah. Kondisi ini lantas menimbulkan ancaman terhadap sistem perawatan kesehatan negara yang rapuh.

"Masa berkabung akan menjadi salah satu (cara) hidup berdampingan dengan virus Corona baik diterima atau tidak oleh mereka yang bertanggung jawab," sambung pria itu.

Ritual bagi kaum Syiah

Kembali pada 680 M, Imam Husein memimpin pemberontakan melawan khalifah Umayyah kedua yang berbasis di Damaskus, Yazid bin Muawiyah. Yazir mengirim pasukan yang kemudian membantai Husein dan sebagian besar keluarganya di luar Kota Karbala, Irak.

Baca juga: 15 Peristiwa Besar yang Terjadi di Hari Asyura 10 Muharram

Sejak itu, kematiannya menjadi momen yang menentukan dalam sejarah Islam dan telah menjadi peristiwa paling menyentuh bagi kaum Syiah di seluruh dunia.

Di Irak dan sekitarnya, jutaan orang Syiah dengan berbagai ritual merayakan peringatan kematian yang jatuh pada hari ke-10 bulan Muharram Hijriah, serta hari ke-40 kematiannya di bulan Safar berikutnya.

Petugas disinfeksi arena peringatan Tragedi Karbala

Selama hampir 50 hari masa berkabung, kerumunan Syiah dari seluruh lapisan masyarakat berbaris ke tempat suci Imam Husein dan saudaranya Abbas di Karbala. Mereka berkumpul untuk mengadakan ritual pemakaman di dalam masjid maupun tempat umum. Mereka mengungkap kisah pertempuran sambil menangis dan memukul dada dan kepala mereka yang larut dalam kesedihan.

Dalam ritual lain, pelayat berkumpul dalam barisan atau lingkaran untuk mencambuk diri mereka sendiri dengan pisau dan rantai. Beberapa melakukan drama di tempat umum untuk menceritakan kembali detail pertempuran yang menarik orang banyak yang bereaksi dengan ratapan. Makanan disiapkan dalam pot besar untuk pelayat dan orang yang lewat.

Dalam upaya menahan kemungkinan penyebaran virus, Komite Tinggi bidang Kesehatan dan Keselamatan Publik Irak memutuskan untuk tidak mengizinkan peziarah asing memasuki negara itu dan memberlakukan larangan perjalanan antarprovinsi. Pihaknya juga meminta pelayat untuk memakai masker dan menjaga jarak sosial.

Sementara itu, Pemimpin Syiah paling berpengaruh, Ayatollah Sayyed Ali Al-Sistani, meminta para pengikutnya untuk tetap tinggal di rumah dan menindaklanjuti dengan siaran langsung sesi pemakaman di TV dan internet. Al-Sistani juga mendesak "kepatuhan ketat" terhadap arahan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang saat berada di tempat umum.

Namun, seruan itu seolah dianggap angin lalu. Para peziarah tetap saja berduyun-duyun ke Karbala pada Jumat, hari pertama Muharram. Mereka menggunakan jalur yang sulit terjangkau. Pada video yang beredar di media sosial, puluhan pelayat memasuki kuil dari gerbang sempit. Banyak dari mereka bahkan tidak mengenakan masker.

"Upacara Imam Husein ada dalam darah kami, kami tidak dapat membatalkannya karena virus corona. Semua pusat perbelanjaan dan kolam renang diizinkan buka, mengapa kita harus membatalkan upacaranya?," ungkap seorang warga Baghdad, Falah Hassan Mohammed (51).

Untuk menghindari penularan virus, ia menawarkan teh dalam cangkir sekali pakai, tidak mengizinkan orang berkumpul di tendanya, dan mendorong jarak bagi mereka yang shalat.

Pada akhir Februari lalu, Irak mengumumkan kasus pertama virus corona setelah seorang pria Iran dinyatakan positif. Setelah itu, kasus-kasus bermunculan di berbagai daerah, terutama di antara warga Irak yang berasal dari Iran.

Baca juga: Asal Usul Bubur Asyura dan Kisah di Baliknya

Pihak berwenang tidak tahu apakah berhasil menahan penyebaran dengan memberlakukan penguncian (lockdown) maupun tindakan lainnya. Tetapi negara itu telah melihat lonjakan kasus yang dikonfirmasi sejak pertengahan Mei karena pemerintah melonggarkan pembatasan.

Sejak itu, jumlah rata-rata infeksi harian telah meningkat menjadi ratusan dan sekarang berkisar sekitar 4.000, menimbulkan ancaman bagi sistem perawatan kesehatan negara yang sudah runtuh. Hingga Minggu, jumlah total kasus yang dikonfirmasi mencapai 204.341 dengan total 6.428 kasus kematian.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan menjelang masa berkabung Muharram, WHO mengatakan pandemi di Irak mencapai tingkat mengkhawatirkan dan menunjukkan krisis kesehatan besar. WHO mengimbau warga Irak disiplin menerapkan tindak pencegahan Covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini