Penjelasan Al-Quran tentang Ilmu Embriologi

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Selasa 27 April 2021 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 27 330 2401623 penjelasan-al-quran-tentang-ilmu-embriologi-eW9tZKA8D8.jpg Proses Embrilogi manusia. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Manusia tidak hadir tanpa permulaan akan tapi hadirnya manusia melalui proses yang sangat panjang dan merupakan hasil seleksi.

Prof Arief Boediono, Guru Besar IPB University dari Fakultas Kedokteran Hewan pada acara Kajian Kauniyah Ramadan yang diselenggarakan oleh Masjid Al-Hurriyyah pada Ahad (25/4/2021 lalu) mengawali paparannya dari proses gametogenesis. Yaitu proses pembentukan spermatozoa dan oosit.

Menurutnya, dalam perjalanannya, sperma yang dihasilkan laki-laki yang jumlahnya jutaan berlomba untuk mencapai sel telur. Akan tetapi hanya satu sperma yang dapat masuk dan terjadi fertilisasi dan ini merupakan bentuk seleksi.

Pertemuan sel sperma dan sel telur menyebabkan terjadinya fertilisasi serta nantinya akan berlanjut pada serangkaian proses yang kompleks. Mulai dari pembelahan sel, pembentukan embrio hingga proses pembentukan organ. Hal ini menurutnya sudah dijelaskan dalam Al-Quran sekitar 14 abad yang lalu.

Baca Juga: Doa Malam Lailatul Qadar, Begini yang Diajarkan Rasulullah SAW

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci  Allah, Pencipta yang paling baik." (QS. Al-Mukminun: 12-14). Yang diceritakan dalam Al-mukminun 12-14 ini adalah intisari embriologi, bagaimana perkembangan sejak proses pembentukan gamet sampai terbentuknya organ," ungkapnya

Upaya menghasilkan salinan genetik yang identik dari suatu entitas biologi juga dapat dilakukan secara aseksual, hal ini dikenal dengan istilah kloning. Pada teknologi ini perkembangan sel telur dilakukan tanpa sperma.

Baca Juga: Mengapa Besaran Zakat Fitrah di Tiap Daerah Berbeda, Ini Penjelasan Kemenag

"Kloning bisa terjadi secara alamiah atau secara introduksi teknologi. Secara alamiah sudah terjadi pada hewan tingkat rendah atau pada bakteri dimana mereka menduplikasi tanpa proses seksual. Kembar identik adalah contoh Klon yang paling simpel," ungkap Prof Arief.

Pada proses ini yang diperlukan adalah sel donor. Selain itu diperlukan resipien sel telur sebagai tempat berkembangnya. Dari sisi teknologi, hal ini menunjukkan betapa pentingnya sel telur, tanpanya tidak memungkinkan dilakukan teknologi ini.

"Melihat ini maka ketika Rasulullah menyampaikan tentang panggilan ibu dan ayah secara bersamaan maka kita dianjurkan untuk mengutamakan merespon ibu, ibu, ibu baru kemudian ayah," ujarnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dalam dunia peternakan, teknologi kloning sangat bermanfaat. Embrio yang telah dibuahi berasal dari induk yang diinginkan dapat dilakukan pemotongan sehingga menjadi dua embrio. Selanjutnya embrio tersebut dikembangkan pada sapi resipien sehingga akan menghasilkan dua kembar yang identik.

Lalu ada pertanyaan menggelitik, apakah penciptaan Siti Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam itu adalah teknologi kloning?

Menurut Prof Arief, tidaklah begitu. "Kalau itu kloning dari Nabi Adam karena genetiknya sama mestinya Siti Hawa harusnya seorang laki-laki. Tetapi Siti Hawa adalah seorang perempuan jadi dari sisi ilmiahnya tidak mungkin," jelasnya.

Di akhir ia mengutip sebuah ayat dari ayat suci Al-Quran, "Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula." Surat Al Kahfi: 109). 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya