Cara Cerdas Rasullulah SAW Tengahi Konflik 2 Kabilah Saat Memasang Hajar Aswad

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Kamis 06 Mei 2021 12:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 06 330 2406521 cara-cerdas-rasullulah-saw-tengahi-konflik-2-kabilah-saat-memasang-hajar-aswad-kn5MQqszc3.jpg Perselisihan 2 kabilah saat proses peletakkan hajar aswad diselesaikan oleh Rasulullah SAW dengan cara yang cerdas. (Foto: SINDOnews)

JAKARTA - Keteladanan Rasulullah SAW saat menyelesaikan konflik dua kelompok saat peletakkan Hajar Aswad di Kakbah sangat cerdas dan patut menjadi inspirasi pemimpin masa kini.

Seperti diketahui Kakbah adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihis salam atas perintah Allah SWT. Kakbah merupakan tempat paling disucikan dalam Islam dan letaknya berada di area Masjidil Haram, Makkah, Saudi Arabia.

Sebagai peninggalan bersejarah, di riwayat lain menyebut Kakbah telah ada sejak Nabi Adam, namun bangunannya tak sekokoh saat ini. Bangunan Kakbah ini mengalami beberapa kali pemugaran.

Baca Juga: Mengenal Hajar Aswad dan Sunnahnya

Ketika beliau shallallahu 'alaihi wasallam (SAW) berusia 35 tahun, kabilah Quraisy pernah bertengkar bahkan hampir perang dahsyat saat merenovasi Ka'bah. Mereka bertikai saat akan meletakkan Hajar Aswad, sebuah batu yang diyakini berasal dari surga. Pertama kali ditemukan Nabi Ismail dan meletakkannya adalah Nabi Ibrahim. Dulunya, batu ini memiliki sinar terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab.

Syeikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury dalam Kitabnya Ar-Rahiqul Makhtum menceritakan, ketika 5 tahun sebelum beliau diutus menjadi Rasulullah, kondisi Ka'bah hanyalah berupa tumpukan batu-batu berukuran di atas tinggi badan manusia. Yaitu setinggi sembilan hasta di masa Nabi Ismail 'alaihissalam dan tidak memiliki atap.

Karenanya, harta terpendam yang ada di dalamnya berhasil dicuri oleh segerombolan para pencuri. Di samping itu, karena merupakan peninggalan sejarah, Ka'bah sering diserang pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunannya dan merontokkan sendi-sendinya.

Baca Juga: Ibadah Haji 2021 Dipertimbangkan Tanpa Jamaah dari Luar Arab Saudi

Kala itu, Mekkah dilanda banjir besar mencapai pelataran Baitul Haram sehingga menyebabkan bangunan Ka'bah hampir ambruk. Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya untuk menjaga reputasinya.

Mereka bersepakat untuk tidak membangunnya dari sembarang sumber dana selain dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mau memakai dana dari mahar hasil pelacuran, transaksi riba dan hasil pemerasan terhadap orang-orang.

Mereka awalnya segan untuk merobohkan bangunannya, sampai akhirnya dimulai oleh Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi baru kemudian diikuti yang lainnya setelah mereka melihat tidak terjadi apa-apa terhadapnya. Mereka terus melakukan perobohan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Ibrahim 'alaihissalam.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Mereka membagi bagian bangunan Kakbah yang akan dikerjakan beberapa bagian, yaitu masing-masing kabilah mendapat satu bagian dan mengumpulkan sejumlah batu sesuai jatah masing-masing. Adapun yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi bernama Baqum.

Tatkala pengerjaannya sampai ke Hajar Aswad, mereka bertikai tentang siapa yang paling berhak meletakkannya ke tempat semula. Pertikaian pun terjadi dan berlangsung selama empat atau lima malam. Bahkan kian meruncing sehingga hampir terjadi peperangan di Tanah Suci.

Untunglah, Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi menengahi dan menawarkan penyelesaian di antara mereka lewat perundingan damai. Tawarannya, siapa yang paling dahulu memasuki pintu masjid di antara mereka maka dialah yang berhak meletakkannya. Tawaran ini diterima oleh semua pihak atas kehendak Allah Ta'ala.

Subhanallah, Rasulullah saat itu menjadi orang pertama yang memasukinya. Tatkala mereka melihatnya, dia disambut dengan teriakan: "Inilah Al-Amiin! Kami rela! Inilah Muhammad!".

Ketika beliau mendekati para pemimpin kabilah dan diberitahu tentang hal itu, beliau SAW meminta sehelai selendang. Kemudian meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, lalu pemimpin-pemimpin kabilah yang bertikai itu diminta agar masing-masing memegang ujung selendang. Setelah itu beliau memerintahkan mereka untuk mengangkatnya tinggi-tinggi.

Hingga manakala mereka telah menggelindingkannya dan sampai ke tempatnya, beliau SAW mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Inilah cara jitu Nabi yang diridhai oleh semua pihak.

Saat renovasi Kakbah itu, orang-orang Quraisy kekurangan dana dari sumber usaha yang baik. Mereka terpaksa membuang enam hasta dari bagian utara, yang dinamakan dengan Al-Hijr (Hijr Isma'il) dan Al-Hathim. Lalu mereka tinggikan pintunya dari permukaan bumi agar tidak dapat dimasuki kecuali saat menginginkannya.

Tatkala pembangunan sudah mencapai 15 hasta, mereka memasang atap yang disangga dengan enam tiang. Akhirnya Ka'bah yang baru diselesaikan tersebut berubah menjadi berbentuk kubus dengan ketinggian 15 meter. Panjang sisi yang berada di bagian Hajar Aswad dan bagian yang searah dengannya adalah 10,10 meter.

Hajar Aswad sendiri dipasang di atas ketinggian 1,50 meter dari permukaan pelataran thawaf. Adapun panjang sisi yang berada di bagian pintu dan bagian yang searah dengannya adalah 12 meter. Sedangkan tinggi pintunya adalah 2 meter di atas permukaan bumi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya