Share

Kematian Akibat Tuberkulosis Meningkat, Kasus Terbanyak Ada di Negara Konflik

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 23 Mei 2022 19:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 23 614 2598784 kematian-akibat-tuberkulosis-meningkat-kasus-terbanyak-ada-di-negara-konflik-DzzyHMNjwy.jpg Ilustrasi penyakit tuberkulosis meningkat di negara konflik. (Foto: ACT)

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tuberkulosis merupakan penyakit dengan urutan ke-13 yang paling banyak menyebabkan kematian. Ini menjadi penyakit menular nomor 2 yang paling mematikan setelah covid-19.

Tuberkulosis atau TB adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri. Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.

Baca juga: Warga Dukuh Sendang Klaten Punya Sumber Air Baru 

Ilustrasi penyakit tuberkulosis meningkat di negara konflik. (Foto: ACT)

TB menular melalui udara dan dapat dengan mudah ditularkan oleh siapa saja. Ventilasi yang minim, lingkungan kumuh padat penduduk, akses dan perawatan kesehatan yang buruk, serta kekurangan gizi membuat orang lebih mudah terjangkit ini.

Data terbaru yang dirilis WHO pada pekan lalu menunjukkan peningkatan kasus kematian akibat TB untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Peningkatan kasus terbanyak terjadi di negara-negara konflik seperti Suriah, Yaman, Afghanistan, dan Ethiopia.

Baca juga: Tukang Becak di Pekalongan Rela Tidur di Jalan demi Hemat Pengeluaran 

"Tuberkulosis membunuh lebih dari 1,5 juta orang setiap tahun dan mempengaruhi jutaan lainnya dengan dampak yang sangat besar pada keluarga dan masyarakat," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Tedros menjelaskan kasus kematian akibat TB disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu merebaknya pandemi covid-19 dan berkurangnya bantuan komunitas internasional terhadap sektor layanan kesehatan di negara-negara konflik.

"Covid-19 dan konflik di Eropa, Afrika, dan Timur Tengah telah mengganggu layanan perawatan tuberkulosis. Membebani mereka yang telah terdampak. Bantuan untuk layanan tuberkulosis juga turun setengahnya dari target 2022. Kita perlu bantuan lebih banyak," ujar Tedros.

Baca juga: Membangun Akses Air Bersih di Pesisir Manggarai Timur 

Baca juga: Perjuangan Ustadz Anang Melawan Penyakit Gagal Ginjal 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini