Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Saat Pewarta Jadi Garda Terdepan Membantu Jamaah Haji Indonesia

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Minggu, 19 Mei 2024 |18:51 WIB
Saat Pewarta Jadi Garda Terdepan Membantu Jamaah Haji Indonesia
Petugas saat Bantu Jamaah Haji Indonesia/Foto: MCH 2024
A
A
A

MADINAH – Pewarta yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) 2024, menjadi bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Mereka bertugas melakukan peliputan dan penyebaran informasi. Tujuannya, mengedukasi dan menginformasikan semua hal terkait perjalanan haji 2024.

Namun para jurnalis yang tergabung dalam MCH ini tidak hanya jago merangkai kata-kata untuk kemudian menjadi sebuah informasi, mereka juga terjun langsung ke lapangan, bersama petugas lainnya, ikut membantu jamaah haji Indonesia.

Pasalnya, jamaah haji Indonesia sangat beragam, baik dari aspek pendidikan maupun pengalaman bepergian. Tidak sedikit dari mereka yang baru kali pertama bepergian jauh, dan itu langsung ke luar negeri.

Oleh karena itu, wajar, jika kemudian banyak juga yang sering lupa arah pulang ke hotel usai salat di Masjid Nabawi.

Jemaah lupa arah pulang ke hotel hampir terjadi setiap hari, sejak kedatangan pertama di Madinah pada 12 Mei. Kebanyakan dari meraka yang lupa arah pulang adalah jemaah lanjut usia (lansia). Mereka inilah yang menjadi langganan tim MCH dan petugas lainnya untuk bergegas mengantarnya ke hotel.

“Masya Allah, ada kepuasan batin tersendiri, rasanya bahagia bisa menolong para tamu Allah, apalagi saat melihat senyum jemaah ketika sudah berhasil menemukan rombongannya atau keluarganya ataupun menemukan kembali hotel tempatnya menginap,” ungkap Aris, salah satu petugas layanan MCH yang bertugas di Daerah Kerja (Daker) Madinah dikutip, Minggu (19/5/2024).

Menurutnya, meski tugas anggota MCH adalah peliputan dan informasi, secara umum mereka adalah pelayan tamu Allah. Mereka juga harus siap melayani jemaah haji.

“Pelayanan adalah yang utama,” ujar Aris mengutip pesan Staf Khusus Menteri Agama bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo saat memberikan pengarahan Bimtek MCH sebelum keberangkatan beberapa waktu lalu.

Aris dan rekan-rekan timnya bercerita, setiap hari mereka bergantian melakukan penyisiran jamaah selepas waktu salat wajib. Sebab, biasanya banyak sekali jemaah yang lupa arah pulang ke hotelnya usai salat.

“Rasanya kami semua senang melakukan tugas melayani jemaah. Kami saling berkomunikasi saat membantu jamaah haji dan misal terkait letak hotel,” tutur Rena yang juga merupakan tim MCH.

Saat menemukan jemaah yang lupa nama dan letak hotel, biasanya Tim MCH dan petugas lainnya melakukan scan barcode yang ada di kartu pengenalnya. Hanya, kadang ada juga jemaah yang tidak mengenakan kartu tanda pengenalnya, termasuk gelang identitas.

“Padahal itu penting. Sebab, nomer pasport yang terdapat di gelang identitas bisa diinput di aplikasi haji pintar untuk bantu menemukan hotel tempat jemaah menginap dan data lainnya,” terang Rena.

Asep, salah satu pewarta MCH bercerita, saking senangnya jemaah dibantu mendorongkan kursi roda sepulang dari masjid, dia pernah dipaksa menerima uang yang diberikan sebagai ucapan terima kasih. “Saya tolak karena saya petugas, saya ikhlas bantu,” sebutnya.

Sementara, anggota MCH lainnya, Hikmah, sempat bertemu jemaah yang tidak membawa identitas apapun karena semua disimpannya di tas. Tas itu dititip ke teman rombongannya. Ia terpisah dari rombongan dan kebingungan.

“Tolong antarkan saya ke hotel, Mba,” ucapnya panik. “Biasanya kami menggunakan aplikasi maps untuk mencari tahu letak hotel,” kata Hikmah.

Lain lagi cerita anggota MCH Khalidin, “Saya terharu, jadi teringat Ibunda saya,” ucapnya saat bertemu dengan dua orang jemaah yang kebingungan kembali ke penginapan.

“Keduanya sama-sama menggenggam erat tangan saya karena takut saya tinggalkan,” kenangnya.

(Fahmi Firdaus )

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement