Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tanda-Tanda Haji Mabrur, Nomor 5 Jadi Lebih Dekat dengan Allah Ta'ala

Hantoro , Jurnalis-Rabu, 26 Juni 2024 |12:33 WIB
Tanda-Tanda Haji Mabrur, Nomor 5 Jadi Lebih Dekat dengan Allah Ta'ala
Ilustrasi tanda-tanda haji mabrur. (Foto: Reuters)
A
A
A

TANDA-tanda haji mabrur dibahas dalam artikel berikut ini. Keutamaan menjadi haji mabrur adalah mendapat balasan tempat di surga. Ini tentu jauh lebih berharga dari apa pun di dunia.

Keutamaan haji mabrur sebagaimana hadits Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Beliau bersabda:

والْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

"Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga." (HR Bukhari nomor 1683 dan Muslim: 1349)

Para ulama menyebutkan ada tanda-tanda mabrurnya haji, berdasarkan keterangan Alquran dan hadis, namun itu tidak bisa memberikan kepastian mabrur tidaknya haji seseorang.

Berikut ini tanda-tanda haji mabrur yang telah disebutkan para ulama, sebagaimana dijelaskan Ustadz Anas Burhanudin Lc MA dalam laman Muslim.or.id

Jamaah haji. (Foto: MCH 2024/Okezone)

1. Harta untuk berhaji adalah harta halal 

Harta yang dipakai untuk haji adalah harta yang halal (Ihya Ulumiddin 1/261), karena Allah Subhanahu wa ta'ala tidak menerima kecuali yang halal, sebagaimana ditegaskan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

"Sungguh Allah baik, tidak menerima kecuali yang baik." (HR Muslim nomor 1015)

Orang yang ingin hajinya mabrur harus memastikan bahwa seluruh harta yang dipakai untuk berhaji adalah harta halal, terutama mereka yang selama mempersiapkan biaya pelaksanaan ibadah haji tidak lepas dari transaksi dengan bank. Jika tidak, maka haji mabrur bagi mereka hanyalah "Jauh panggang dari api".

Ibnu Rajab mengucapkan sebuah syair (Lathaiful Ma’arif 2/49):

Jika Anda haji dengan harta tak halal asalnya.

Maka Anda tidak berhaji, yang berhaji hanya rombongan Anda.

Allah tidak terima kecuali yang halal saja.

Tidak semua yang haji mabrur hajinya. 

2. Amalan-amalannya dilakukan dengan ikhlas dan baik

Amalan-amalannya dilakukan dengan ikhlas dan baik, sesuai tuntunan Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam. Paling tidak, rukun-rukun dan kewajibannya harus dijalankan, dan semua larangan harus ditinggalkan. Jika terjadi kesalahan, maka hendaknya segera melakukan penebusnya yang telah ditentukan.

Di samping itu, haji yang mabrur juga memperhatikan keikhlasan hati, yang seiring dengan majunya zaman semakin sulit dijaga. Mari merenungkan perkataan Syuraih al-Qadhi, “Yang (benar-benar) berhaji sedikit, meski jamaah haji banyak. Alangkah banyak orang yang berbuat baik, tapi alangkah sedikit yang ikhlas karena Allah.” (Lathaiful Ma’arif 1/257)

Pada zaman dahulu ada orang yang menjalankan ibadah haji dengan berjalan kaki setiap tahun. Suatu malam ia tidur di atas kasurnya, dan ibunya memintanya untuk mengambilkan air minum.

Ia merasakan berat untuk bangkit memberikan air minum kepada sang ibu. Ia pun teringat perjalanan haji yang selalu ia lakukan dengan berjalan kaki tanpa merasa berat. Ia mawas diri dan berpikir bahwa pandangan dan pujian manusialah yang telah membuat perjalanan itu ringan.

Sebaliknya saat menyendiri, memberikan air minum untuk orang paling berjasa pun terasa berat. Akhirnya, ia pun menyadari bahwa dirinya telah salah. (Lathaiful Ma’arif 1/257)

3. Hajinya dipenuhi amalan salih

Hajinya dipenuhi dengan banyak amalan salih seperti zikir, sholat di Masjidil Haram, sholat pada waktunya, dan membantu teman seperjalanan.

Ibnu Rajab berkata, “Maka haji mabrur adalah yang terkumpul di dalamnya amalan-amalan baik, plus menghindari perbuatan-perbuatan dosa. (Lathaiful Ma’arif 1/67)

Di antara amalan khusus yang disyariatkan untuk meraih haji mabrur adalah bersedekah dan berkata-kata baik selama haji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang maksud haji mabrur, maka beliau menjawab,

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

“Memberi makan dan berkata-kata baik.” (HR Baihaqi 2/413 nomor 10693, dihukumi shahih oleh al-Hakim dan al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 3/262 nomor 1264) 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement