JAKARTA — Bulan Sya'ban merupakan bulan transisi spiritual yang mengantarkan umat Islam dari Rajab menuju Ramadhan. Meski memiliki berbagai keutamaan dan peristiwa bersejarah, Sya'ban sering terabaikan karena terletak di antara dua bulan mulia lainnya.
Rasulullah SAW menegaskan kemuliaan bulan ini melalui hadisnya, yang berbunyi: "Bulan Sya'ban adalah bulan yang sering dilupakan manusia karena terletak di antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam".
Para ulama mencatat lima peristiwa penting yang terjadi pada Sya'ban, masing-masing mengandung pelajaran tentang akidah dan ketaatan umat Islam. Berikut lima peristiwa tersebut, sebagaimana dilansir dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia.
Pada tahun kedua Hijriyah, terjadi peralihan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah setelah kaum Muslimin menunaikan shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas bulan pasca hijrah ke Madinah. Peristiwa ini diabadikan dalam QS. Al-Baqarah: 144:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهۥ
Qad narā taqalluba waj-hika fis-samā', fa lanuwalliyannaka qiblatan tarḍāhā fa walli waj-haka syaṭral-masjidil-ḥarām, wa ḥaiṡu mā kuntum fa wallụ wujụhakum syaṭrah
Artinya: "Sungguh Kami telah melihat gerak-gerik wajahmu ke arah langit. Maka Kami pasti akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arahnya"
Meski Rasulullah SAW lebih mencintai Ka'bah sebagai kiblat Nabi Ibrahim, perubahan ini menjadi penanda lahirnya kemandirian identitas umat Islam yang tegas berbeda dari kiblat Yahudi.
Sya'ban adalah masa pengangkatan amal tahunan yang paling besar dan menyeluruh. Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan ini sebagai bentuk kesiapan spiritual ketika amal perbuatannya dipersembahkan kepada Allah SWT. Syekh Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al-Maliki menjelaskan bahwa meski pengangkatan amal berlangsung harian dan mingguan, pengangkatan pada Sya'ban memiliki cakupan paling luas.
Allah mencatat siapa saja yang akan meninggal dunia pada tahun itu pada bulan Sya'ban. Rasulullah SAW sangat menyukai berpuasa di bulan ini dengan harapan ketika ajal tiba, beliau berada dalam keadaan beribadah. Para ulama menegaskan bahwa penetapan ini bukan berarti Allah baru menentukan takdir, melainkan bentuk penampakan ketetapan kepada para malaikat.
Pada Sya'ban diturunkan perintah bershalawat yang terdapat dalam QS. Al-Ahzab: 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Innallāha wa malā'ikatahụ yuṣallụna 'alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ 'alaihi wa sallimụ taslīmā
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya"
Imam Al-Qisthalani menyebut Sya'ban sebagai bulan shalawat. Memperbanyak shalawat di bulan ini merupakan wujud kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.
Sya'ban menjadi momentum persiapan menyambut Ramadhan. Kaum Muslimin tradisional menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur'an, mengeluarkan zakat, dan melakukan muhasabah diri. Salamah bin Kuhail menyatakan bahwa Sya'ban dikenal sebagai "bulannya para pembaca Al-Qur'an".
Dengan memahami lima peristiwa penting ini, umat Islam dapat meningkatkan kualitas ibadah dan mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadhan. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan terbaik.
(Rahman Asmardika)