Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Tingkatan rezeki yang pertama adalah harta. Harta adalah kebutuhan dasar kita. Dengan harta kita bisa makan, berpakaian, dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, jamaah sekalian, harta adalah tingkatan rezeki yang paling rendah. Mengapa? Karena harta bisa dimiliki oleh siapa saja, baik orang beriman maupun orang yang ingkar. Bahkan terkadang harta bisa diperoleh dengan cara yang tidak benar. Maka jangan sampai kita menjadikan harta sebagai tujuan hidup, tetapi jadikan ia sebagai sarana menuju kebaikan karena semua akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah bersabda:
لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ)
Artinya: “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan,” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi).
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Tingkatan rezeki yang kedua adalah kesehatan. Kesehatan adalah nikmat yang luar biasa. Dengan sehat, kita bisa melakukan banyak kegiatan dan ibadah. Bagi yang memiliki banyak harta tetapi dalam kondisi tidak sehat atau sakit, tentu tidak akan bisa menikmati hartanya. Sebaliknya, orang yang sehat meski hidup sederhana, akan merasakan kebahagiaan yang besar. Maka menjaga kesehatan adalah bagian dari mensyukuri rezeki Allah.
Sehat merupakan hal yang sering diabaikan sesuai dengan sabda Rasulullah:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: ”Ada dua kenikmatan di mana banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas)
Kemudian, tingkatan rezeki yang ketiga adalah anak yang saleh dan ilmu yang bermanfaat. Kita perlu menyadari, tidak semua orang diberikan anak yang saleh. Anak yang saleh adalah karunia yang sangat besar. Ia menjadi penyejuk hati di dunia dan penolong di akhirat. Begitu pula ilmu yang bermanfaat. Ilmu adalah cahaya yang akan menerangi kehidupan. Ilmu yang diamalkan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan ketika kita telah meninggal dunia.