Begitu tiba di dalam gedung Jamarat, jamaah langsung disambut dengan embusan pendingin ruangan yang sangat sejuk. Fasilitas ini sangat krusial dalam menjaga stabilitas suhu tubuh jamaah di tengah lautan manusia yang berdesakan.
Setiap jamaah kemudian melempar tujuh butir kerikil ke arah tugu aqabah dengan penuh kekhusyukan. Lontaran batu ini diiringi doa mendalam sebagai simbol perlawanan dan upaya menjauhkan keburukan dari kehidupan manusia.
Rangkaian ibadah pagi itu ditutup dengan prosesi tahallul awal sebagai tanda terbebasnya jemaah dari sebagian larangan ihram. Jamaah saling memotong rambut dengan penuh haru. Bahkan, tidak sedikit jemaah laki-laki yang memilih menggunduli kepalanya di dalam tenda.
Strategi cermat dari Satgas Armuzna tahun ini diharapkan dapat terus dipertahankan menjadi standar operasional di masa depan. Disiplin pergerakan massa terbukti menjadi kunci mutlak untuk menghadirkan kenyamanan di tengah kerasnya cuaca Arab Saudi.
(Arief Setyadi )