Jangan Terlewat Puasa Syawal, Simak Tata Caranya

Hantoro, Jurnalis
Minggu 07 Juni 2020 10:01 WIB
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Share :

2. Tidak harus berurutan 

Berbeda dengan puasa Ramadhan, puasa Syawal tidak diwajibkan harus berurutan melaksanakannya. Diperbolehkan secara terpisah-pisah harinya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

صيام ست من شوال سنة ثابتة عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ويجوز صيامها متتابعة ومتفرقة ؛ لأن الرسول – صلى الله عليه وسلم – أطلق صيامها ولم يذكر تتابعاً ولا تفريقاً ، حيث قال – صلى الله عليه وسلم

من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر

أخرجه الإمام مسلم في صحيحه

Artinya: "Puasa enam hari di bulan Syawal telah sahih dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Dan boleh mengerjakannya secara mutatabi'ah (berurutan) atau mutafarriqah (terpisah-pisah). Karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menyebutkan puasa Syawal secara mutlak (tanpa sifat-sifat tambahan) dan tidak disebutkan harus berurutan atau harus terpisah-pisah. 

3. Boleh membatalkan puasa dengan atau tanpa udzur

Dibolehkan membatalkan puasa sunah, baik karena suatu udzur syari maupun tanpa udzur. Berdasarkan hadits Aisyah Radhiallahu anha:

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : هل عندكم شيء ؟ فقلنا : لا ، قال : فإني إذن صائم ، ثم أتانا يوما آخر فقلنا : يا رسول الله أهدي لنا حيس ، فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما ، فأكل

Artinya: "Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari masuk ke rumah dan bertanya, 'Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan)?'. Aisyah menjawab, 'Tidak.' Beliau bersabda, 'Kalau begitu aku akan berpuasa.' Kemudian di lain hari Beliau datang kepadaku, lalu aku katakan kepada Beliau, 'Wahai Rasulullah, ada yang memberi kita hadiah berupa hayis (sejenis makanan dari kurma).' Nabi bersabda: 'Kalau begitu tunjukkan kepadaku, padahal tadi Aku berpuasa.' Lalu Nabi memakannya." (HR Muslim Nomor 1154).

Juga berdasarkan hadis dari Ummu Hani Radhiyallahu anha, beliau bertanya:

لقدْ أفطرتُ وكنتُ صائمةً فقال لها أكنتِ تقضينَ شيئًا قالتْ لا قالَ فلا يضرُّكِ إنْ كانَ تطوعًا

Artinya: "Wahai Rasulullah, aku baru saja membatalkan puasa sedangkan tadi aku berpuasa, bolehkah? Nabi bertanya: 'Apakah itu puasa qadha?' Aku menjawab, 'Bukan.' Nabi bersabda, 'Jika demikian maka tidak mengapa, yaitu jika puasa tersebut puasa tathawwu’ (sunah)'." (HR Abu Daud Nomor 2456, dinilai sahih oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:

إذا كان الصوم نافلة فله أن يفطر، ليس بلازم، له الفطر مطلقاً، لكن الأفضل ألا يفطر إلا لأسباب شرعية: مثل شدة الحر، مثل ضيف نزل به، مثل جماعة لزَّموا عليه أن يحضر زواج أو غيره يجبرهم بذلك فلا بأس

Artinya: "Jika puasa tersebut adalah puasa sunah, maka boleh membatalkannya, tidak wajib menyempurnakannya. Ia boleh membatalkannya secara mutlak. Namun yang lebih utama adalah tidak membatalkannya kecuali karena sebab yang syari, semisal karena panas yang terik, atau badan yang lemas, atau ada orang yang mengundang ke pernikahan, atau hal-hal yang memaksa untuk membatalkan puasa lainnya, maka tidak mengapa." (Sumber: www.binbaz.org.sa/noor/11778) 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya