3. Menghadap kiblat
Jika memungkinkan saat takbiratul ihram, usahakan menghadap arah kiblat. Caranya, gunakan alat navigasi di depan kursi untuk mencari arah. Jika tidak paham, tanyalah ke pramugari. Meskipun pesawatnya sedang belok di tengah sholat, maka ikuti saja.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma bercerita:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ ، فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ
"Rasulullah pernah melaksanakan sholat sunnah di atas kendaraannya sesuai dengan arah kendaraannya. Namun jika ingin melaksanakan sholat fardhu, beliau turun dari kendaraan dan menghadap kiblat." (HR Bukhari)
4. Usahakan cari penerbangan yang tidak mengganggu sholat
Jika melakukan perjalanan jarak dekat seperti Jakarta-Bandung, usahakan cari jadwal penerbangan yang tidak mengganggu waktu sholat. Misalnya bisa pada pagi atau malam hari. Di waktu tersebut tidak ada jadwal sholat wajib yang tak boleh ditinggalkan.
5. Bisa jamak atau qasar
Jika perjalanan jarak jauh lebih dari 90 kilometer, gunakan keringanan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala saat sholat. Anda masuk golongan musafir yang bisa jamak atau qasar sholat lima waktu. Cara ini justru lebih mempermudah dan tidak mengurangi pahala.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)