JAKARTA – Sholat tarawih adalah ibadah sunnah yang dikerjakan di bulan Ramadhan baik di masjid maupun di rumah, berjamaah ataupun sendirian. Ada berbabagi ragam pelaksanaan sholat tarawih, mulai dari 10 rakaat seperti yang dijalankan di masjidil haram hingga 36 rakaat di beberapa masjid di Indonesia.
Di antara tata cara sholat tarawih tersebut terdapat praktik 11 rakaat dengan pola 4-4-3, yang terdiri dari 2 kali sholat tarawih 4 rakaat ditutup dengan 3 rakaat sholat witir, yang banyak digunakan oleh pengikut Muhammadiyah. Pola 4-4-3 ini mendapat kritik karena dilakukan tanpa tasyahud awal, sehingga dianggap sebagai ibadah tanpa dalil.
Terkait dugaan tersebut, berikut penjelasan Muhammadiyah tentang dalil sholat tarawih 4 rakaat tanpa tasyahud awal, sebagaimana dilansir dari laman resmi Muhammadiyah.
Perdebatan masyarakat atas pemakaian tasyahud awal dalam sholat tarawih 4-4-3 sesungguhnya berpangkal dari sebuah hadis yang diriwayatkan ‘Aisyah
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيمِ
Artinya: Dari Aisyah ia berkata: adalah Rasulullah saw memulai sholatnya dengan takbir dan membaca alhamdulillahi rabbil ‘ālamiin. Jika rukuk beliau tidak menaikkan kepala (terlalu tinggi) atau menurunkan kepala (terlalu rendah), tetapi pertengahan di antara itu. Jika mengangkat kepala dari rukuk, beliau tidak bersegera sujud sampai tegak berdiri. Jika mengangkat kepala dari sujud, beliau tidak bersujud sampai tegak dalam posisi duduk. Beliau membaca tahiyyat pada setiap dua rakaat. Beliau membentangkan kaki kiri dan menegakkan (telapak) kaki kanan. Beliau melarang dari duduknya Syaithan dan melarang seseorang menghamparkan tangannya (dalam sujud sholat) seperti binatang buas menghamparkan tangannya. Beliau menutup sholat dengan salam.
Secara tafsir, setelah ‘Aisyah mengatakan “وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ [beliau membaca tahiyyat pada setiap dua rakaat],” Aisyah lalu mengakhiri pernyataannya dengan kalimat “وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيمِ [beliau menutup sholat dengan salam]”. Dari dua kalimat tersebut, dapat disimpulkan bahwasanya ibadah sholat yang dimaksudkan oleh ‘Aisyah adalah ibadah sholat dua rakaat, bukan sholat empat rakaat. Alhasil hadis ini lebih tepat digunakan sebagai dalil rujukan ibadah sholat dua rakaat.
Maka Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara tegas menilai hadis ‘Aisyah tersebut tidak dapat dijadikan sebagai batu pijakan atas praktik tasyahud awal dalam sholat sunnah tarawih 4-4-3.
Karena sejatinya di setiap tuntunan tasyahud awal dalam sholat sunnah, selalu disertai dengan dalil khususnya. Seperti pada sholat lail 7 rakaat yang diriwayatkan hadis Ummul Mukminin Aisyah Ra. sholat lail 9 rakaat yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah. Begitu pula, sholat sunnah rawatib 4 rakaat sebelum ashar turut memiliki dalil khususnya dalam hadis riwayat ‘Aṣim ibn Ḍamrah dari sahabat Ali ibn Abi Ṭalib.
Dengan ketidakadaan dalil khusus atas tuntunan tasyahud awal dalam sholat tarawih empat rakaat, maka praktek tasyahud awal tersebut sejatinya tidaklah pernah ada.
Secara hakikat dan tata cara pelaksanaannya, sholat tarawih itu sama halnya dengan sholat lail maupun sholat tahajud. Istilah “tarawih” hanyalah istilah khusus yang digunakan untuk sholat malam di bulan suci Ramadhan.
Maka dalam menentukan dasar hukum tasyahud awal dalam sholat tarawih 4-4-3 dapat didasarkan pula pada dalil-dalil sholat lail.
Salah satunya hadis riwayat Abu Dawud berikut
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: يُصَلِّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهِنَّ إِلاَّ عِنْدَ الثَّامِنَةِ فَيَجْلِسُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ يَدْعُو ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَةً فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ
Artinya: Dari Qatadah ia berkata: (Nabi Saw) sholat delapan rakaat, beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke 8. Beliau duduk sambil zikir kepada Allah, kemudian berdoa, lalu salam, sehingga kami dapat mendengar salamnya itu. Kemudian beliau sholat lagi dua rakaat sambil duduk lalu salam. Kemudian beliau sholat satu rakaat. Maka jadilah ia 11 rakaat. Setelah Rasulullah berusia lanjut dan bertambah berat badannya, beliau kerjakan sholat witir (lail dan witir) 7 rakaat. Kemudian melakukan sholat 2 rakaat dengan cara duduk sesudah salam.
Dalam hadis tersebut, dijelaskan bahwasanya Rasulullah melaksanakan sholat delapan rakaat dan tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan atau terakhir. Makna tidak duduk di sana adalah Rasulullah tidak melaksanakan duduk tasyahud awal. Hal ini menjadi indikasi akan sholat tarawih yang berjumlah empat rakaat juga tidak mengenal tasyahud awal.
Sebuah kaidah mantiq tentang sholat tarawih delapan & empat rakaat, menyatakan bahwa adanya tasyahud awal dalam sholat empat rakaat juga mengharuskan adanya tasyahud awal dalam sholat delapan rakaat. Maka dengan tidak adanya tasyahud awal dalam sholat tarawih delapan rakaat, juga mengharuskan tidak adanya tasyahud dalam sholat tarawih empat rakaat.
Lebih lanjut, jika diasumsikan sholat tarawih yang berjumlah empat rakaat menggunakan tasyahud awal, maka semestinya sholat witir yang dilakukan setelah itu turut menggunakan tasyahud awal. Karena sesungguhnya sholat witir dalam sholat tarawih adalah satu paket yang tak terpisahkan.
Namun faktanya dalam hadis riwayat Ubay bin Ka’ab
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَلَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ وَيَقُولُ يَعْنِي بَعْدَ التَّسْلِيمِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا
[رواه النسائى]
Artinya: Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata: Rasulullah saw membaca dalam sholat witir “sabbiḥisma rabikal a‘lā”, pada rakaat kedua membaca “qul yā ayyuhal kāfirūn”, pada rakaat ketiga “qul huwallāhu aḥad”. Rasulullah tidak salam kecuali di akhir sholat. Setelah sholat Rasulullah mengucapkan “subḥānal malikil quddūs”. [Nasai].
Adapun dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah
عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه قال: لا توتروا بثلاث أوتروا بخمس أو بسبع ولا تشبهوا بصلاة المغرب
Artinya: Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw bahwasanya ia berkata: Janganlah kalian melakukan witir tiga rakaat, akan tetapi lakukanlah witir 5 rakaat atau 7 rakaat. Jangan samakan witir dengan sholat magrib. [Ibnu Majah, al-Hakim dan al-Baihaqi. Menurut Syu‘aib al-Arnauṭ: Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim].
Rasulullah dalam hadis-hadis tersebut, secara tegas melarang pelaksanaan sholat witir yang menyerupai sholat Maghrib. Makna larangan ini merujuk pada praktik duduk tasyahud awal dalam sholat witir. Demi menghindari keserupaan, maka sholat witir dilaksanakan secara kontinyu tanpa duduk tasyahud awal di tengah sholat. Serta dengan menambah jumlah rakaat sholat witir menjadi lima atau tujuh, sesuai saran nabi.
Sejalan dengan kaedah al-aṣlu fi al-‘ibādah at-tawqīf wa al-ittibā’. Suatu ibadah tidak dapat dilakukan sampai ada dalil yang memerintahkannya dan sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah. Maka pelaksanaan sholat tarawih dalam formasi 4-4-3 rakaat sejatinya tidak perlu menggunakan tasyahud awal.
(Rahman Asmardika)