nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tata Cara Puasa Syawal dan 5 Keutamaannya

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 06 Juni 2019 11:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 31 616 2062725 tata-cara-puasa-syawal-dan-5-keutamaannya-79Ot5V3Vex.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Bulan Syawal adalah tanda bagi umat Islam telah kembali ke fitrah dan diampuni segala dosanya setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Ada keistimewaan lain yang bisa didapat oleh umat muslim di bulan ini apabila melakukan puasa Syawal. Puasa ini memang tidak wajib alias sunnah. Namun apabila dijalankan mengandung keutamaan luar biasa seperti yang tertulis dalam hadits Rasulullah SAW.

Merangkum berbagai sumber, dalam hadits Imam Bukhari yang dikutip oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani di Kitab Nihayatuz Zain tertulis:

و) الرابع صوم (ستةمن شوال) لحديث منصام رمضان ثم أتبعهستا من شوال كانكصيام الدهر ولقولهأيضا صيام رمضان بعشرةأشهر وصيام ستة أيامبشهرين فذلك صيام السنةأي كصيامها فرضا وتحصلالسنة بصومها متفرقة منفصلةعن يوم العيد لكنتتابعها واتصالها بيوم العيد أفضلوتفوت بفوات شوال ويسنقضاؤها

Artinya:

“Keempat adalah (puasa sunnah enam hari di bulan Syawal) berdasarkan hadits, ‘Siapa yang berpuasa Ramadan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, ia seakan puasa setahun penuh.’ Hadits lain mengatakan, ‘puasa sebulan Ramadan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa (wajib) setahun penuh’. Keutamaan sunah puasa Syawal sudah diraih dengan memuasakannya secara terpisah dari hari Idul Fitri. Hanya saja memuasakannya secara berturut-turut lebih utama. Keutamaan sunah puasa Syawal luput seiring berakhirnya bulan Syawal. Tetapi dianjurkan mengqadhanya,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zain, Al-Maarif, Bandung, Tanpa Tahun, Halaman 197).

 Orang-orang buka puasa

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan jika waktu pelaksanaan puasa sunnah adalah enam hari di bulan. Puasa tersebut idealnya dilakukan pada 2-7 Syawal atau persis satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Akan tetapi, umat Islam dipersilahkan untuk melakukan puasa tidak secara berurutan selama jumlah puasanya masih enam hari di bulan Syawal. Selain itu, sejumlah ulama mengatakan sebaiknya membayar hutang puasa bulan Ramadan terlebih dahulu baru menjalankan puasa Syawal.

Jika Anda ingin menjalankan ibadah puasa Syawal, maka untuk memantapkan hati dianjurkan untuk melafalkan niat. Niat puasa Syawal adalah:

نَوَيْتُصَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِسُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Sementara itu, dalam menjalankan puasa Syawal ada 5 fadilah atau keutamaan yang akan didapatkan umat muslim seperti dilansir dari Rumaysho, antara lain:

1. Puasa Syawal akan menggenapi ganjaran berpuasa selama setahun penuh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍكَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[1]

2. Puasa Syawal seperti halnya salat sunnah rawatib dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib

Maksudnya adalah amalan puasa Syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadan sebagaimana salat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib.

3. Melakukan puasa Syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadan

Jika Allah SWT menerima amalan puasa Ramadan seorang hamba, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lain, diantaranya puasa enam hari di bulan Syawal. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُبَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِالسَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

4. Melaksanakan puasa Syawal adalah bentuk syukur pada Allah

Ibnu Rajab mengatakan, ”Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.” Sampai-sampai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan salat malam. Ini semua dilakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadan, di penghujung bulan umat muslim dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengagungkan Allah melalu bacaan takbir ”Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah berfirman,

وَلِتُكْمِلُواالْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَاهَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

5. Melaksanakan puasa syawal menandakan ibadah dilakukan terus menerus dan bukan musiman

Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadan tidaklah berhenti setelah bulan itu berakhir. Amalan seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa sehari setelah Idul Fitri, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini