nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indahnya Toleransi di Amerika, Gereja Diubah Jadi Masjid

Rabu 09 Oktober 2019 11:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 09 615 2114667 indahnya-toleransi-di-amerika-gereja-diubah-jadi-masjid-n08MuAmPRD.jpg Masjid Isa Ibn Maryam (Foto: Flickr)

Rupanya toleransi antar umat beragama tak hanya dikembangkan di Tanah Air. Di berbagai negara lain hal ini juga dikembangkan.

Termasuk toleransi antar umat beragama dikembangkan di Amerika Serikat. Kalau Anda jalan-jalan ke Syracuse, New York, di sana terdapat sebuah masjid yang sering membuat orang terheran-heran dan bertanya-tanya.

 Masjid yang awalnya dari gereja

Dari nama dan bentuknya, bangunan itu terlihat seperti gereja. Namun jika Anda masuk ke dalamnya, Anda akan mengetahui kalau itu adalah tempat ibadah umat Islam alias masjid.

Rupanya bangunan berbata merah dengan dua menara yang menjulang ke langit itu pada awalnya merupakan gereja. Namun akhirnya diubah menjadi sebuah masjid dengan nama unik. Yakni Masjid Isa Ibn Maryam atau Mosque of Jesus, Son of Mary.

Masjid yang lahir dari toleransi umat beragama di Amerika itu bisa disaksikan di blok ke-5 Park Street Syracuse, New York, Amerika Serikat.

Awal mulanya Masjid Isa Ibn Maryam menjadi tempat ibadah umat Islam, karena saat jadi gereja, tempat itu sempat terbengkalai dan tak digunakan lagi. Lalu sejak Juni 2014, bangunan itu diubah menjadi masjid.

Pengelola Masjid Isa Ibn Maryam Dr Yusuf Soule mengatakan, masjid ini disewa dari North Side Learning Center, sebuah organisasi relawan nirlaba di Syracuse yang didirikan pada 2009. North Side sendiri membeli banguan gereja itu, beserta bangunan sekolah di dalamnya, setelah sebelumnya sempat digunakan pemerintah setempat untuk untuk mendukung program pengungsi dan imigrasi.

Awalnya, terang Soule, tak mudah mengubah fungsi gereja menjadi masjid. Ada sejumlah kalangan keberatan. Namun usai melakukan berbagai dialog akhirnya gereja bisa diubah menjadi masjid.

Para pengurus masjid tidak mengubah dekorasi interior bangunan gereja itu. Mereka juga tidak mengganti jendela-jendelanya.

Mereka hanya menambahkan ornamen-ornamen bernuansa islami, seperti hiasan dinding kaligrafi bahasa Arab, karpet.

Seperti dilansir VOA, masjid ini tidak memiliki imam dan muazin yang tetap. Sebab masjid ini untuk semua orang sehingga siapapun dapat menjadi muazin dan atau menjadi imam untuk memimpin salat.

Salah seorang pengungsi Afghanistan, Sajad Samer mengaku senang bisa salat di masjid tersebut. “Saya beribadah. Saya sering mengumandangkan azan di sini. Orang-orang di masjid ini mendorong saya untuk menjadi muazin. Saya menjadi muazin beberap kali seminggu di sini," katanya.

Direktur Eksekutif North Side Learning Center, Mark Cass bersyukur, bangunan bekas gereja itu kini menjadi tempat ibadah umat Islam. Ia mengatakan, komunitas muslim di sana memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat di sekitarnya.

“Muslim di sana menempatkan diri mereka sebagai komunitas yang mengabdi kepada seluruh masyarakat. Dapur amal mereka terbuka bagi siapa saja tanpa memandang agama, ras, dan status sosial. Mereka bahkan mengadakan piknik dan berbagai kegiatan musim panas untuk kepentingan warga sekitar," kata Cass.

Cass menambahkan, jangan percaya begitu saja dengan apa yang muncul di banyak media barat tentang masyarakat Amerika dan muslim. Menurutnya, masyarakat Amerika sangat terbuka dalam menyambut perbedaan, dan merangkul muslim sebagai bagian dari mereka.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini