Hari Ayah Nasional, Ini Teladan Rasulullah untuk Kaum Bapak

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Selasa 12 November 2019 12:55 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 12 614 2128767 hari-anak-nasional-ini-teladan-rasulullah-untuk-kaum-bapak-RCOZmkX8Jr.jpg Ilustrasi. Foto: Theguardian

INDONESIA hari ini merayakan Hari Ayah Nasional sebagai wujud penghormatan kepada seluruh orangtua laki-laki. Peringatan ini juga sebagai salah momentum anak untuk mewujudkan kasih sayangnya ke bapak.

Memperingati Hari Ayah Nasional memang patut dilakukan, sebab ditengah kesibukannya sebagai orang yang menafkahi keluarga, sebagai imam keluarga, sebagai pendidik anak, dan lain-lain, ia masih sempat mencurahkan kasih sayangnya kepada anak-anak.

Sifat seperti ini sebenarnya merupakan teladan dari Rasulullah SAW. Seperti dikutip dari laman NU Online pada Selasa (12/11/2019), Nabi Muhammad adalah seorang yang sibuk mengurus pemerintahan, memimpin pasukan, menegakkan hukum, bernegosiasi dengan delegasi, mengajar para sahabat, menerima wahyu, dan mendakwahkan Islam, bahkan mengirim surat kepada para raja dan pemimpin dunia.

Namun, di sela-sela kesibukannya, beliau ternyata seorang yang bertanggung jawab dan penuh perhatian kepada keluarga, kepada anak-istri, cucu, bahkan anak-anak di sekitarnya. Ia sosok pelindung dan seorang yang lemah-lembut terhadap keluarga.

Hal itu seperti yang diakuinya dalam salah satu hadits:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluarga” (HR al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Rasulullah SAW juga sosok penyayang dan ramah kepada anak-anak. Hal ini diakui langsung oleh Anas ibn Malik yang kesehariannya lebih banyak bersama Nabi Muhammad, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih sayang kepada keluarga selain Rasulullah SAW.”

Keakraban Nabi Muhammad kepada mereka terlihat jelas dalam berbagai kesempatan. Pernah pada suatu ketika, ia mencium salah seorang cucunya, al-Hasan ibn ‘Ali. Kejadian itu disaksikan langsung oleh al-Aqra‘ ibn Habis. Al-Aqra‘ pun berkomentar, “Aku memiliki sepuluh orang anak, tapi tak ada satu pun yang biasa kucium.”

Rasulullah SAW menoleh ke arahnya dan menjawab, ”Siapa yang tak sayang, maka tak disayang,” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Mungkin al-Aqra‘ menduga bahwa laki-laki yang berkarakter kuat adalah mereka yang tak dekat dengan anak-anak. Namun, Rasulullah SAW dengan tegas menepis dugaan itu, sehingga spontan melontarkan jawaban, ”Siapa yang tak sayang, maka tak disayang.”

Jawaban itu jelas menunjukkan sikap beliau yang sangat luhur, penyayang, ramah anak, dan tentunya sangat layak diteladani para ayah pada Hari Ayah Nasional ini. Keluhuran, ketawadukan, dan kerendahan hati Rasulullah SAW benar-benar tak bisa dibandingkan dengan siapa pun. Karena keluhurannya beliau tak sungkan membaur dan bergaul dengan anak kecil.

Pernah suatu saat ia menghibur anak Ummu Sulaim bernama Abu Umair yang menangis karena kematian burung kesayangannya. Bentuk lain kasih sayang dan kelembutan Rasulullah SAW kepada anak-anak adalah tidak membebani mereka di luar kemampuannya.

Disebutkan, pada saat perang Uhud, Nabi Muhammad kedatangan sejumlah anak yang ingin ikut berperang. Namun ia menolak karena mereka masih kecil. Mereka adalah ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khathab, Usamah ibn Zayd, Usaid ibn Zhuhair, Zayd ibn Tsabit, Zayd ibn Arqam, ‘Arabah ibn Aus, ‘Amr ibn Hazm, Abu Sa‘id al-Khudri, dan Sa‘d ibn Habah.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW bahkan tak ragu untuk meminta air dan membasuh air pipis anak kecil. Perhatian dan perlindungan Rasulullah SAW terhadap anak-anak ini bukan sekadar perlakuan sepintas dan sewaktu-waktu, melainkan berlangsung berulang-ulang, sampai-sampai anak-anak kecil kerap menemui Rasul sepulang bepergian dan mengajaknya bermain atau bergurau dengan mereka. Nabi Muhammad seakan tak punya keperluan atau kesibukan selain bermain dengan anak-anak (lihat: Raghib al-Sirjani, Nabi Kaum Mustad‘afin, 2011, [Jakarta: Zaman], hal. 38).

Kasih sayang dan kelembutan Rasulullah SAW bahkan jauh melebihih kasih sayang dan kelembutan seorang ayah kepada anaknya. Pernah pada suatu saat Abu Bakar meminta izin untuk datang ke rumah Nabi Muhammd SAW. Namun setiba di rumah Rasulullah, ia mendengar suara keras putrinya, ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, kepada suaminya. Begitu masuk, ia langsung meraih tangan putrinya dan bermaksud menamparnya, sambil berkata, “Tadi aku mendengarmu membentak Rasulullah SAW.”

Namun, niatnya itu segera dihalangi oleh Rasulullah SAW. Abu Bakar pun akhirnya pulang membawa kekesalan. Sementara setelah ayah mertuanya pulang, Rasulullah bertanya kepada istrinya, Aisyah, “Bagaimana menurutmu tentangku yang telah menyelamatkanmu dari pria itu?”

Selama beberapa hari, Abu Bakar pun tak bicara, sampai kembali meminta izin mendatangi Rasulullah SAW dan mendapati keduanya sudah kembali rukun. Beliau berkata kepada keduanya, “Bawalah aku dalam kedamaian kalian berdua sebagaimana kalian membawaku dalam pertengkaran kalian.” Rasulullah SAW menjawab, “Sudah, sudah kami lakukan.”

Di sini terlihat jelas, kasih sayang Rasulullah SAW melebihi kasih sayang seorang ayah. Abu Bakar yang hendak menampar sang putri, segera dihalangi Nabi Muhammad. Itu tak mungkin lahir kecuali dari kasih sayang dan kelembutannya terhadap wanita.

Terlihat jelas, Rasulullah SAW adalah seorang yang memahami karakter perempuan. Begitu pula karakter, kebutuhan, dan kondisi psikologis anak-anak. Selain menjadi ayah pilihan, Rasulullah SAW juga dikenal sebagai suami yang lemah lembut dan tak sungkan membantu pekerjaan istrinya.

Dalam riwayat Ahmad disebutkan, suatu ketika, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha pernah ditanya perihal aktivitas beliau saat di rumah. ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah SAW biasa menjahit pakaiannya, memperbaiki sandalnya, dan mengerjakan apa yang dikerjakan kaum pria di rumah.”

Kelembutannya itu kemudian ditularkannya kepada para sahabat. Ia mengajarkan agar mereka selalu berpesan kebaikan terhadap istri mereka. “Berpesanlah kalian kepada para wanita dengan kebaikan. Karena mereka laksana tawanan di sisi kalian.”

Demikian yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim. Bahkan, kedekatan hubungan antara laki-laki dan perempuan juga digambarkannya dalam hadits lain sebagaimana yang diriwayatkan al-Tirmidzi, “Perempuan itu adalah saudara kandung laki-laki.”

Ini mengisyaratkan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan, termasuk suami dengan istri, harus selalu baik layaknya dua orang yang bersaudara. Rasulullah SAW juga berpesan kepada para suami agar tetap bersabar menghadapi sikap para wanita yang kurang disukai. Hal ini seperti dalam sabdanya:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah marah seorang pria mukmin kepada seorang wanita mukmin. Jika tidak menyukai satu perangai darinya, maka sukailah perangai lainnya,” (Muslim dan Ahmad).

Demikian gambaran keluhuran akhlak Rasulullah SAW yang layak diteladani para suami dan para ayah. Semoga kita termasuk orang yang mampu meneladani perangainya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini