nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Pesepakbola Muslimah di Eropa, Bergelut dengan Masalah Aurat hingga Penolakan

Dian Fitriyanah, Jurnalis · Senin 25 November 2019 14:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 25 614 2134142 kisah-pesepakbola-muslimah-di-eropa-bergelut-dengan-masalah-aurat-hingga-penolakan-OF9vAdAo5j.jpg Pesepakbola Muslimah di Inggris (Foto: Aboutislam)

Bagi Iqra Ismail, bermain sepakbola bukan hanya sekedar kegemaran, tapi juga tantangan yang harus ia taklukkan sejak usia belia. Ketika berusia 14 tahun, pesepakbola muslimah yang tinggal di Inggris ini sudah ditempa.

Di suatu waktu ia pernah mengatakan kepada sang pelatih bahwa sebagai pesepakbola muslimah ia tidak bisa memakai celana pendek. "Oh, maafkan saya," jawab pelatih yang sedikit panik, "Saya belum pernah memiliki pemain muslim di tim saya sebelumnya." "Segera saya merasa seperti orang asing," kata Iqra, merefleksikan insiden lima tahun lalu.

"Rekan-rekan satu tim saya pun berkata: 'Iqra, tidakkah kamu kepanasan (memakai hijab)' dan saya harus berhenti bermain sejenak dan menjelaskan 'ini bukan tentang panas, ini hal tentang aturan agama.”

Di lansir dalam situs About Islam, tak berhenti dari masalah busana, Iqra pun sering mendapat pertanyaan dari temannya karena terlihat tidak minum saat jeda latiha. "Iqra, apakah kamu kehabisan air? Iqra pun harus menjelaskan bahwa saat itu bulan Ramadan dimana semua umat muslim di dunia menunaikan ibadah puasa.

Tantangan menjadi pesepakbola muslimah di Eropa bukan hanya soal busana dan pemahaman minim soal ajaran islam, diskriminasi terhadap perempuan juga masih dominan dalam olahraga sepakbola. Beberapa klub menolak Iqra selama empat tahun berturut-turut.

Sementara pindah ke Amerika Serikat lantaran mendapat tawarqan untuk bergabung dengan klub baru, tak diizinkan ibunya. Restu dari sang ibu tak diberikan lantaran sentimen antimuslim tengah menguat di Amerika. "Itu menghancurkan saya saat itu," katanya.

"Sepakbola wanita belum ada di sini saat itu dan Amerika adalah tempat untuk mencapai karier yang saya inginkan," ujar pesepakbola muslimah tersebut.

Kurangnya Pemahaman

Kurangnya pemahaman telah membayangi Iqra sepanjang waktunya bermain sepak bola, namun dia tidak pernah menyerah untuk bermain. “Benar-benar ketahanan yang membuat saya sampai pada titik ini,” katanya.

"Jika kamu membiarkan sesuatu mengalahkanmu, dunia masih akan terus berputar. Terserah Anda untuk mengangkat diri sendiri dan terus mengejar apa yang Anda inginkan karena tidak ada orang lain yang akan mendapatkannya untuk Anda,” ungkapnya.

“Saya mulai bermain di sekolah dasar karena menentang. Saya diberitahu bahwa anak perempuan tidak bisa bermain sepakbola dan saya berkata: 'Baiklah, saya akan bermain nanti."

Ruang Aman untuk Anak Perempuan

Muak karena tidak dianggap di dalam tim sepakbola manapun, Iqra bermimpi suatu hari menciptakan ruang di mana wanita seperti dia akan merasa diterima.

Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, ia mendirikan NUR Football Club. Sekitar 15 orang datang ke sesi pertama pada akhir Juni, pada minggu keempat, jumlah itu hampir tiga kali lipat. “Itu nyata. Orang-orang mendatangi saya dan berkata: 'Ini yang saya cari',” katanya.

"Saya melihat diri saya di setiap pemain, mereka punya dorongan, kemauan , mereka akhirnya menemukan tempatnya."

Rimla Akhtar, ketua Yayasan Olahraga Wanita Muslim yang juga duduk di Dewan Football Association, telah mengungkapkan bahwa semakin banyak Muslim Inggris yang bergabung dengan olahraga sepakbola berkat meningkatnya pemain sepakbola panutan Muslim seperti Mohamed Salah dan Sadio Mane. Termasuk juga kehadiran Sadiq Khan, atlet Mo Farah dan bintang TV British Bake Off TV Nadiya Hussain.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini