nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sains dalam Alquran, Ilmuwan Belum Sanggup Mengungkap 7 Langit

Senin 16 Desember 2019 07:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 16 614 2142280 sains-dalam-alquran-ilmuwan-belum-sanggup-mengungkap-7-langit-9vvEiRUW2r.jpg Ilustrasi. Foto: World Atlas

MENURUT para ilmuwan, andaikata ketebalan lapisan teratas bumi ditambah beberapa kilometer lagi, maka semua oksigen yang tersedia sekarang pasti akan rusak. Bila itu terjadi, takkan ada tumbuhan atau binatang yang bisa bertahan hidup.

Tidak akan ada lagi oksigen, yang ada hanya karbon dioksida. Ilmuwan menjelaskan ketersediaan oksigen mencapai 88,8 persen dari volume air di dunia, sedang sisanya adalah hidrogen. Andaikata kuantitas hidrogen bertambah lemah saat terpisahnya bumi, oksigen pasti takkan bisa ditemukan lagi dan air sudah menggenangi seluruh titik di permukaan bumi.

Andaikata hari ini sepuluh kali lipat lebih panjang dari biasanya, matahari pasti sudah membakar seluruh tumbuh-tumbuhan di muka bumi. Siapa yang telah membuat malam dan siang di bumi menjadi selaras bagi kehidupan? Di samping fakta bahwa sebagian planet memiliki siang yang berkali-kali lebih panjang dibandingkan siang di bumi kita, sebagiannya lagi memiliki bagian yang selalu malam dan bagian lain yang selalu siang.

Prof. Dr. Mansyur Hubuddin, Dekan Fakultas Ilmu Fisika di Universitas Ayn Syams, Kairo, mengatakan hingga detik ini ilmu pengetahuan belum dapat mengetahui apa yang dimaksud tujuh langit dan tujuh bumi. Namun, kita masih bisa memahaminya dari ayat-ayat Al-Quran, seperti ayat, “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaannya) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (At-Thalaq: 12).

“Artinya, ada enam bumi lain di luar bumi kita yang masing-masing memiliki langit yang menaungi-Nya. Penafsiran ni diperkuat oleh sabda Rasulullah, ‘Ya Allah, Tuhan pemilik langit yang tujuh dan semua yang dinaunginya, Tuhan pemilik bumi yang tujuh dan semua yang mendiaminya’,” ucap Mansyur.

Setiap bumi memiliki langit yang menaunginya. Adanya tujuh bumi juga ditunjukkan oleh firman Allah, “... dan dari (penciptaan) bumi juga serupa.” Ketujuh langit dan ketujuh bumi ini tunduk kepada perintah Allah, dan perintah tersebut tentu harus ditujukan pada eksistensi-eksistensi berakal yang ada di enam bumi lain yang di masa mendatang mungkin dapat terungkap oleh kalangan ilmuwan melalui firman-Nya, “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptan langit dan bumi dan mahluk-mahluk melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dia maha kuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia menghendaki.” (Al-Syura: 29).

Dari sinilah muncul kemungkinan terjadinya pertemuan antar dunia yang berbeda di kehidupan dunia atau di akhirat kelak.

Perlu diketahui, ungkapan Alhamdulillah Rabb al-alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam) disebut sebanyak tujuh kali dalam Alqurn, yaitu pada surah al-Fatihah ayat ke-2, al-An’am ayat ke-45, Yunus ayat ke-10, al-Shffat ayat ke-182, al-Zumar ayat ke-75, Ghafir ayat ke-65, dan surah al-Jatsiyah ayat ke-36.

Kesesuaian jumlah ini mendukung fakta tentang adanya tujuh langit dan tujuh bumi, utamanya jika menilik ayat terakhir yang berbunyi,”Segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemilik langit dan bumi, Tuhan semesta alam.” (Al-Jatsiyah: 36). Maksudnya, Allah adalah Tuhan pemilik dunia kosmos, di samping pemilik dunia-dunia lain.

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (At-Thalaq: 12).

Rasulullah bersabda, “Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka ia akan dibenamkan ke dalam bumi lapis tujuh.” (HR.Bukhari).

Beliau pernah berdoa, “Ya Allah, Tuhan pemilik langit yang tujuh dan semua yang dinaunginya, Tuhan pemilik bumi yang tujuh dan semua yang mendiaminya.”

Nabi juga pernah bersabda, “Tidaklah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dan semua yang ada di antara dan di dalamnya, bila berada di atas Kursi Allah, melainkan seperti lingkaran yang dilempar ke tanah lapang.”

Ayat Alqurn di atas (At-Thalaq: 12) dianggap sebagai satu-satunya petunjuk atas adanya bumi yang tujuh. Sejak dahulu, manusia masih bingung dalam memahami hakikat langit yang tujuh dan bumi yang tujuh. Persoalan ini terus menjadi bahan penelitian kalangan astronom hingga sekarang.

Meskipun sudah ada kemajuan sangat signifikan di bidang teknologi modern, tapi pengeboran bumi hanya bisa mencapai angka 1 berbanding 500 dari setengah diameter bumi. Pengeboran terdalam yang pernah dilakukan manusia hingga detik ini hanya mencapai kedalaman 12 kilometer, padahal setengah diameter bumi adalah 6.370 kilometer.

Dari satu ayat dan beberapa hadis di awal, kita bisa menyimpulkan bahwa maksud dari bumi yang tujuh adalah tujuh lapisan pembentuk bumi. Artinya, itu semua sudah ada di bumi tempat tinggal kita. Kesimpulan semacam ini dikuatkan oleh penyebutan kata “bumi” (al-ardh) yang berbentuk tunggal (ifrad), sementara kata “langit” berbentuk tunggal dan juga plural.

Sebab manusia tidak bisa melihat entitas apa pun di atas bumi selain langit dunia. Manusia tidak bisa melihat langit-langit lainnya. Namun, Allah pasti mengetahui bahwa suatu saat nanti manusia bisa memahami arti dari bumi yang tujuh. Oleh sebab itulah, Allah cukup menyebut kata “bumi” di dalam Alqurn dalam bentuk tunggal

Pada zaman modern, terungkap fakta ilmiah bahwa bumi mempunyai tujuh lapisan.

1. Atmosefer, yaitu lapisan udara yang menyelimuti planet bumi.

2. Hidrosfer, yaitu lapisan air yang berada di permukaan bumi dan meliputi perairan tawar dan asin.

3. Lapisan Sial. Lapisan ini tersusun dari silisium dan alumunium, duan unsur logam yang banyak terkandung di dalamnya. Ia disebut juga kerak bumi yang bersifat bebatuan. Ketebalannya mencapai 65 kilometer di palung samudera dan 150 kilometer di bawah benua. Di atas lapisan inilah kita hidup.

4. Lapisan Sima. Lapisan ini tersusun dari silisium dan magnesium. Ketebalannya mencapai 765 kilometer, atau dari kedalaman 120 kilometer hingga 280 kilometer di bawah permukaan bumi.

5. Lapisan Sima berfasa besi.

6. Inti cair bumi. Ketebalannya mencapai 2.000 kilometer dan tersusun oleh sejumlah materi, seperti besi, nikel, disertai sedikit sulfur, fosfor, dan karbon.

7. Inti padat bumi. Ketebalannya mencapai 2.400 kilometer dan tersusun atas materi yang sama seperti materi inti cair bumi, tetapi dalam bentuk padat dan keras.

Demikian dikutip dari buku Pintar Sains dalam Alqurn, Halaman 466-469, Dr. Nadiah Thayyarah.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini