Muhammadiyah Serukan Salat Gerhana Matahari 26 Desember 2019, Ini Jadwalnya

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Rabu 25 Desember 2019 01:03 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 24 614 2145756 muhammadiyah-serukan-salat-gerhana-matahari-26-desember-2019-ini-jadwalnya-d9gF6qz4jn.jpg Foto: Ilustrasi. dok.Okezone

GERHANA matahari diperkirakan terjadi Kamis 26 Desember 2019 di Indonesia. Menyikapi fenomena alam tersebut, organisasi Islam Muhammadiyah menyerukan agar umat Muslim menggelar salat gerhana.

"Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengumumkan bahwa pada Kamis, 29 Rabiulakhir 1441 H bertepatan dengan 26 Desember 2019 M, seluruh wilayah di Indonesia akan mengalami gerhana matahari sebagian. Di sebagian wilayah Indonesia akan mengalami gerhana matahari cincin," demikian dikutip dari laman Muhammadiyah.or pada Rabu (25/12/2019).

"Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengimbau kepada pimpinan dan warga Muhammadiyah untuk melaksanakan ibadah shalat gerhana matahari (shalat khusuf) serta melakukan pengamatan gerhana menggunakan alat yang dimiliki," demikian pengumuman tambahan dari Muhammadiyah yang ditandatangani oleh Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Oman Fathurahman.

Adapun jadwal pelaksanaan salat gerhana, disesuaikan dengan terjadinya gerhana di daerah masing-masing/ Jadi jadwal salat gerhana itu yakni:

Sementara itu Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) juga mengumumkan akan terjadi gerhana matahari cincin (annular) pada Kamis, 26 Desember 2019.

Hal itu berdasarkan hisab yang dilakukan LF PBNU dengan markaz 1º 00’ 32” LU 102º 14’ 50” BT. Gerhana matahari cincin akan terjadi di beberapa kota di Indonesia. Sementara wilayah Indonesia lainnya akan menyaksikan gerhana matahari sebagian.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

“Gerhana Matahari Cincin ini akan terlihat di kota–kota Sibolga (Sumatra Utara), Padang Sidempuan (Sumatra Barat), Duri (Riau), Batam dan Tanjung Pinang (Riau Kepulauan), Singkawang (Kalimantan Barat) serta Tanjung Selor (Kalimantan Utara). Sedangkan sisa wilayah Indonesia lainnya akan menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian,” ungkap Ketua LF PBNU KH Ghazali Masroeri seperti dilansir dari laman resmi Nahdatul Ulama (NU Online).

Gerhana matahari cincin akan terjadi dengan beberapa fase. Dalam Waktu Indonesia Barat (WIB), berikut fase-fasenya: awal gerhana matahari sebagian terjadi pada pukul 10.22.00, awal gerhana matahari cincin pada pukul 12:16:00, pertengahan gerhana matahari cincin pukul 12:17:30, akhir gerhana matahari cincin pukul 12:19:00, dan akhir gerhana matahari sebagian pukul 14:14:00.

“Adapun di daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia, Gerhana Matahari terjadi sesuai waktu setempat dengan fase-fase bergantung pada koordinat lintang dan bujur setiap tempat,” terangnya.

Mereka yang ingin melihat langsung atau memotret gerhana matahari maka harus memakai alat pelindung khusus atau kacamata matahari. LF PBNU menawarkan, mereka yang ingin melihat langsung bisa bergabung dengan titik-titik pengamatan gerhana matahari LF PBNU yang dipublikasikan lewat media sosial (Fans Page dan Twitter @falakiyahnu).

Lebih lanjut LF PBNU berharap, pengurus wilayah dan cabangnya mengajak umat Islam agar melaksanakan Shalaf Gerhana (Shalat Kusuf) untuk menyambut peristiwa langit yang sangat langka itu.

Sementara untuk kegiatan pengamatan gerhana dan kegiatan kefalakiyahan lainnya jajaran Lembaga Falakiyah PW/PC NU se–Indonesia diharapkan mengikuti surat instruksi yang sudah dikeluarkan LF PBNU.

“Peristiwa langit yang sangat langka ini perlu disambut dengan penyelenggaraan salat gerhana, zikir, kegiatan sosial, kegiatan pengamatan gerhana matahari dan kegiatan kefalakiyahan lainnya,” katanya.

Untuk diketahui, gerhana matahari (al–kusuf asy–syams) terjadi saat bumi, bulan, dan matahari benar-benar sejajar dalam satu garis lurus ditinjau dari perspektif tiga dimensi dengan bulan berada di antara bumi dan matahari.

Dalam khasanah ilmu falak, gerhana matahari terjadi bersamaan dengan konjungsi bulan–matahari (ijtima’) dengan bulan menempati salah satu di antara dua titik nodalnya, titik potong khayali di langit di mana orbit bulan tepat memotong ekliptika (masir asy–syams), yakni bidang edar orbit bumi dalam mengelilingi matahari.

Sebagai akibat kesejajaran tersebut maka pancaran sinar matahari yang menuju ke bumi akan terblokir sedikit oleh bulan. Hal itulah yang menyebabkan gerhana matahari selalu terjadi pada siang hari.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya