nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apakah Suami Wajib Membelikan Pulsa Istri?

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 12:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 25 330 2158164 apakah-suami-wajib-membelikan-pulsa-istri-IEyqEXFUSk.jpg Apakah Suami Wajib Membelikan Pulsa Istri?

Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur yang diselenggarakan di Pesantren Lirboyo Kota Kediri membahas beragam problematika kontemporer yang berkembang di masyarakat, di antaranya tentang nafkah suami di era milenial.

Seperti diketahui, seorang suami harus memberi nafkah dan memenuhi segala kebutuhan istri, baik nafkah lahir maupun batin. Hukum memenuhi nafkah ini adalah wajib.

Di sisi lain, di era milenial ini, kebutuhan istri semakin meningkat. Bukan hanya kebutuhan sandang, pangan dan papan saja, ibu rumah tangga saat ini juga butuh pulsa dan kuota internet. Hal ini tentunya dianggap pula sebagai tanggung jawab suami.

Lalu apakah pulsa dan paket internet termasuk nafkah suami sehingga hukumnya menjadi wajib untuk dipenuhi? Menyikapi hal itu, Bahtsul Masa-il Pondok Pesantren Putri (FMP3)-XXIV pun memutuskan; pulsa dan paket internet bukan termasuk kewajiban nafkah yang harus diberikan kepada istri.

Akan tetapi dalam rangka mu’asyarah bil-ma’ruf, menyenangkan istri, maka disunahkan memberikan pulsa dan paket internet selama tidak berdampak negatif atau digunakan hal-hal yang diharamkan syariat.

Lantas bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan paket data dan pulsa untuk anak?

Bahtsul Masa-il Pondok Pesantren Putri (FMP3)-XXIV memutuskan, memberikan pulsa dan paket internet bagi orang tua kepada anaknya, pada dasarnya tidak wajib. Akan tetapi disunahkan memfasilitasi smartphone atau gadget dan laptop, jika diperlukan seperti untuk menunjang kebutuhan belajar yang berbasis komputer dan fasilitas bermain, bahkan hukumnya wajib jika sebagai penunjang ilmu yang fardlu ain dan fardlu kifayah.

Dalam keputusan ini terdapat beberapa catatan:

Orang tua diperbolehkan Memberi fasilitas dan membiarkan anak menggunakan smartphone/gadget dengan syarat;

a. bertujuan edukasi kepada anak dan atau sekedar menghilangkan kejenuhan.

b. Tidak sampai berdampak buruk pada kesehatan,karakter, psikis, tumbuh kembang dan sosial anak.

c. Ada pengawasan dan pengarahan yang intensif dari orang tua sekiranya tidak sampai menimbulkan kecanduan pada permainan tersebut.

d. Ada dugaan kuat dari orang tua bahwa si anak tidak menyalahgunakan smartphone tersebut untuk konten yang negatif atau digunakan hal-hal yang diharamkan syariat.

Keputusan di atas diambil berdasarkan kajian dari beberapa referensi kitab-kitab yang membahas terkait fikih, di antaranya: Mughil Muhtaj, Juz 4 hal. 460, Fathul Muin, Hal 141, Mausyuah Fiqhiyah, Juz 8 hal. 65, dan Majmu' Syarah Muhadzab, Juz 6 Hal 253.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini