Tausiyah Ramadhan: Jujur Itu Hebat, Mulia dan Membahagiakan

Kamis 14 Mei 2020 09:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 14 330 2213848 tausiyah-ramadhan-jujur-itu-hebat-mulia-dan-membahagiakan-fkWo8i0W1y.jpg Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron

Puasa, yang makna bahasanya dari kata syiam artinya menahan diri, adalah ibadah kejujuran. Puasa yang secara syariah berupa menahan diri dari makan, minum dan yang membatalkan puasa lainnya, dari terbit fajar sampai terbenam matahari sesungguhnya ibadah yang sirri (rahasia).

Tidak ada yang tahu kecuali, diri yang berpuasa dengan Allah swt sang Kholiq, orang lain tidak tahu dan tidak bisa memastikan dari mana melihat apakah orang tersebut sedang puasa. Tidak seperti sholat yang terlihat dari takbir, berdiri, rukuk sujud sampai salam, zakat terang kepada siapa memberikan dan berapanya, haji apalagi diantar dan pulangnya dijemput sekampung dan lainnya.

Alhasil ibadah-ibadah selain puasa memungkinkan untuk ditumpangi kepentingan lain selain untuk Allah semata, keihlasan ibadah lain kadang mudah terkontaminasi dengan kepentingan diri, maka jangan terkejut banyak doa dan qiroatal quran yang dishoting, sholat yang diviralkan, membagi zakat yang ditempeli foto dan jargon diri ditempel, infaq dan sedekah menunggu wartawan dan yuotuber. Tapi puasa tidak bisa diketahui dan diberi tanda. Tidak juga dengan membau hawa si berpuasa, karena bau puasa mungkin juga terjadi dari orang yang tidak puasa.

Puasa hanya dia dan Allah saja yang tahu, inilah yang mengakibatkan puasa memiliki nilai yang tak terbatas fadhilah-nya dari Allah SWT, karena puasa adalah ibadah yang murni untuk Allah, setiap amal anak Adam untuk dirinya, sedangkan puasa ini untuk ku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa keihlasan, kesejatian dan kejujuran bahwa ini untuk Allah semata tidak untuk yang lain.

Masalahnya tak berhenti di sini, Jujur itu untuk apa, mana buktinya bahwa jujur itu hebat seperti kampanye KPK? Zaman yang sulit seperti ini, mencari sesuap nasi tidaklah mudah, penuh perjuangan dan intrik, sehingga masyarakat terseret pada pameo, “jangankan jujur, tipu-tipu saja sekarang masih seret, apalagi jujur !.

Kesulitan hidup memang membawa kita terjerumus untuk bertindak salah, karena kondisi jalan hidup dalam ketidakjujuran saja seakan masih sulit untuk bertahan hidup apalagi jujur. Tumbuhnya keyaqinan seperti ini sesungguhnya sangat berbahaya bahkan lebih berbahaya dari kemiskinan itu sendiri jika sampai menumbuhkan pemahaman bahwa ketidakjujuran seakan menjadi jalan wajib untuk bertahan hidup. Ini adalah kebangkrutan pandangan yang perlu segera diberantas sebagaimana maqolah “Kadal faqru ayyaquna kufro” hampir-hampir kemiskinan itu membawa pada kekufuran.

Kampanye bangsa Indonesia setidaknya yang dimotori KPK : Berani Jujur hebat ! memiliki tantangan yang tidak ringan. Kondisi kemiskinan dan kesulitan yang demikian, sulit menumbuhkan keyakinan bahwa hidup jujur itu hebat dan membahagiakan. 

Jujur itu hebat, mulia dan membahagiakan, ini buktinya.

kita selama ini hanya membanggakan kebesaran khalifah Umar bin Abdul Azis yang mahsyur sebagai raja sufi yang sangat bijaksana. Beliau adalah putera dari Ummu Asyim dengan khalifah Abdul Aziz bin Marwan, Ummu Asyim adalah cucu dari Asyim anak Khalifah Umar yang menikahkan puteranya dengan gadis karena kejujurannya.

Kisahnya, Khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu 'anhu (RA) sebagai kepala negara dan amirul mukimin (pemimpin kaum muslimin) memiliki kegemaran blusukan pada malam sendirian untuk melihat langsung kondisi rakyatnya.

Suatu ketika melewati sebuah rumah, Khalifah Umar mendengar suara berbisik-bisik dari rumah seorang wanita penjual susu. "Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini," kata anak perempuan penjual susu itu.

"Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit." "Benar anakku," kata ibunya.

"Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak," harap anaknya."Nak," bisik ibunya seraya mendekat. "Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah."

“Hah gimana bu ? Anak perempuan itu bertanya setengah tidak percaya. Sang anak menatap ibunya penuh Tanya, tidak percaya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

"Tidak, Bu!" katanya cepat. "Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air." Ia tahu sanksi yang diancamkan kepada siapa saja yang berbuat curang dalam berdagang. 

"Ah! Khalifah kan jauh di sana ia di istana jauh di sana tidak tahu kesulitan rakyatnya! Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu," gerutu ibunya kesal. Sang anak bertanya, "Bu, hanya karena kita ingin bertahan hidup, lalu kita berlaku curang pada pembeli?" 

"Loh kita kan di desa tidak akan ada yang tahu, kalau kita mencampur dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tentu sedang tidur enak ! tidak akan tahu perbuatan kita," kata ibunya memaksa. "Ayolah Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!" 

"Tidak Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita sekalipun kita menyembunyikannya," anak itu menegaskan. Ibunya dengan kesal meninggalkan anak itu, pergi ke kamar. Sementara anak gadis nya terus menuangkan susu dalam botol untuk siap dijual esok hari.

Di balik rumah, Khalifah Umar tersenyum mendengar percakapan ibu penjual susu dan anak perempuannya itu. Khalifah Umar segera cepat-cepat pulang ke rumahnya agar tidak diketahui. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Paginya Khalifah Umar memanggil puteranya, Ashim bin Umar. Umar menceritakannya tentang kejujuran gadis penjual susu itu. "Anakku lamarlah gadis itu sebagai istrimu. Ayah mengagumi kejujurannya. Zaman sekarang sulit mencari gadis jujur, Ia tidak takut manusia dan khalifah, tapi ia yaqin dan takut pada penglihatan Allah," kata Khalifah Umar. Tak lama, Ashim melamar gadis itu. 

Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putera khalifah. Dengan penuh Tanya ibu penjual susu bertanya, ada salah apa Pangeran ? 

Putera khalifah tersenyum lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya. "Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang putera khalifah, tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?" tanya ibu dengan perasaan ragu. 

Asyim bercerita bahwa ayahnya mengetahui kejujuran anak gadisnya, yang menolak untuk mencampur susu dengan air. Ayah ku, mengagumi kejujuran anak gadis mu, begitu Asyim menjelaskan. Ayahnya pada malam itu berkeliling memeriksa rakyat dan mendengar pembicaraan kalian. 

Pernikahan berlangsung keduanya kemudian hidup penuh bahagia dan terhormat. Dari pernikahan tersebut, Ashim dengan gadis mulia itu dan dikaruniai putri bernama Ummu Ashim. Wanita ini lalu dinikahi oleh Khalifah Abdul Aziz bin Marwan. Dari pernikahan itu lahir seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi khalifah dan pemimpin bangsa Arab, yakni Umar bin Abdul Aziz. 

Inilah kisah kejujuran, semoga meyakinkan kita semua, bahwa jujur itu hebat dan membahagiakan, tidak benar bahwa jujur itu memiskinkan dan menyulitkan. Korupsi yang merupakan bentuk ketidakjujuran sungguh perbuatan yang memalukan, menghinakan tidak saja pelaku, tapi anak cucu, keluarga bahkan kerabat kita terhina karenanya. 

Ketidakjujuran terbukti menghinakan baik diri, keluarga maupun kerabat. Puasa Ramadhan adalah pelatihan kejujuran yang akan menghebatkan kita di hadapan Allah maupun dikehidupan kita di dunia. Manusia, masyarakat dan bangsa yang jujur adalah bangsa yang Unggul dan Maju, sebaliknya jangan harap Unggul dan Maju jika Indonesia masih penuh ketidakjujuran. 

Oleh : Nurul Ghufron 

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya