Mengubah Tragedi Menjadi Transendensi: Refleksi Reformasi 98 dan Pandemi Covid-19

Kamis 21 Mei 2020 05:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 21 330 2217371 mengubah-tragedi-menjadi-transendensi-refleksi-reformasi-98-dan-pandemi-covid-19-VcuiDhaAGD.JPG Indonesia Lawan Corona

Bismillahirrahmanirrahim, "Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali manusia sendiri merubahnya", (QS:13:11).

Kehidupan tak ubahnya panggung teatrikal, berubah dari episode satu ke episode lainnya. Perform dari drama tangis dan tawa silih berganti. Sementara manusia adalah pelakon-pelakon berbakat yang siap mementaskan karakter apapun, sesuai skenario yang bercorak determinis, di mana Sang Projector Tunggal adalah Tuhan.

Plato menyebutkan, bahwa apapun yang eksis di dunia ini bermula dari alam ide. Ibnu Arabi menggunakan istilah yang berbeda, bahwa sequential perjalanan makhluk kosmos telah ditentukan di alam a'yan tsabitah (alam ketetapan).

Pandangan di atas, sering disalah tafsirkan sebagai doktrin fatalistik, dimana manusia berada pada posisi menunggu takdir, pasif dan tak memiliki kekuatan apapun dalam menjalani kehidupan. Perspektif yang berbeda muncul dari penganut aliran kehendak bebas (free will), bahwa manusia satu-satunya makhluk penduduk bumi yang memiliki kebebasan penuh atas diri dan lingkungan sosialnya termasuk merasa menjadi Tuan bagi alam raya.

Jumlah korban positif corona

(Baca Juga : Aa Gym Sebuta Banyak yang Kecewa dan Terkhianati di Tengah Wabah Corona)

Ada kelompok lain, yang mengapresiasi dengan arif, bahwa kehidupan dengan segala variannya memang tak lepas dari urusan Tuhan dan juga kehendak bebas manusia. Tuhan di sini dipahami sebagai pengada dan konsekuensi logisnya, manusia wajib meyakini, bahwa manusia mengada (contingency) disebabkan karena Dia Ada (Being). Maka berimanlah, jangan menjadi ateis. Jangan meletakkan Tuhan di wilayah periferal, karena Dia adalah Sang Pusat.

Ada hubungan apa antara Reformasi '98 dan Covid-19 ?

Dalam jarak waktu yang cukup lama antara reformasi tahun 1988 dan Covid-19 tahun 2020, secara sepintas memang tak memiliki relasi apapun. Tapi kedua peristiwa di atas adalah tragedi kemanusiaan dan kita menyebutnya sebagai "layar hitam pertunjukan, Mei berdarah". Dan kita patut hening sejenak, menghadirkan rasa, memutar rekaman peristiwa yang pilu, lalu bergegas untuk tidak lena, agar akal budi kita berfungsi dengan benar.

(Baca Juga : Ilmuwan Muslim Ditunjuk Jadi Kepala Program Vaksin Covid-19 Amerika)

Reformasi '98 merupakan tragedi yang diakibatkan alpanya Negara terhadap kedaulatan dan kemanusiaan, dengan segala indikatornya. Sehingga nalar waras manusia Indonesia berikhtiar untuk menyudahi tragedi yang terus menerus dilakonkan oleh penguasa saat itu. Drama bercorak otoritarianisme, nepotisme, sarat KKN berakhir dengan jatuhnya pemerintahan orde baru dan kemenangan demokrasi.

Momen bersejarah itu bernama Re-formasi '98. Seluruh komponen anak bangsa bernafas lega. Kemudian lahir episode baru dengan semangat kemanusiaan yang menggelegar diseluruh antero nusantara. Tersemai harapan akan terciptanya demokrasi yang utuh.

Tragedi kemanusiaan itu terjadi di bulan Mei, 22 tahun yang lalu, tetapi masih menorehkan luka bagi demokrasi, tragedi berdarah, hilangnya ratusan nyawa, gugurnya para generasi penerus peradaban, mengakibatkan rasa sakit, menyisakan tangis dan suara bisu, ketidak percayaan dan deretan rasa duka masih menyelimuti sebagian masyarakat. Karena sampai hari ini dari enam tuntutan reformasi belum terselesaikan.

(Baca Juga : Kisah Wanita Inggris di Zaman Ratu Victoria, Masuk Islam Usai Bertemu Paus)

Covid-19, meskipun bukan tragedi yang bersumber dari rencana manusia, ia hadir memporak porandakan tatanan kehidupan disegala sektor. Karena covid-19 adalah kemarahan kosmik, bahasa Tuhan untuk menyadarkan arogansi manusia. Banyak tafsir berkelindan untuk memaknai setiap tragedi yang terjadi, dari yang melihat fenomena sebagai kejadian fisik semata sampai pada penafsir yang membaca fenomena sebagai anagogical symbol.

Hal yang paling membingungkan dan membuat rakyat geram dan marah, bukan pandemi Covid-nya, tetapi koreksi dan reaksi terhadap kebijakan pemerintah yang kurang terkoordinasikan secara matang, saling berebut panggung karena ego sektoral, terkesan Negara tidak mempunyai kemampuan manajerial dan plin plan (inkonsisten).

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Lalu muncul pertanyaan besar, drama apalagi yang sedang dipertontonkan ditengah musibah ini. Hati-hati, karena situasi ini bisa mengakibatkan skeptisisme dan anak turunannya menjamur dan berjangkit, yang akhirnya memicu ketidak percayaan publik terhadap Negara.

Keterlibatan masyarakat baik secara individual maupun berkelompok (baca: organisasi kemasyarakatan) dari beragam latar belakang suku, ras dan agama saling bergandeng tangan, merapatkan barisan, terus bergerak dalam giat kemanusiaan (social action) dalam rangka pensejahteraan (welfare) dan memutus mata rantai sebaran Covid-19.

(Baca Juga : Wabah Corona Bawa Kabar Gembira untuk 2 Juta Muslim di Italia)

Aksi kepeduliaan yang dilakukan semata-mata didorong oleh asa dan rasa yang sama, bahwa tanggung jawab kemanusiaan adalah hal yang esensial yang wajib ditunaikan oleh siapapun. Kebhinekaan benar-benar menemukan momentum dan telah melahirkan semangat kebersamaan (ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathaniyah).

Tema tulisan ini adalah mengubah Tragedi menjadi Transendensi, sebagai upaya menyadarkan kembali potensi kemanusiaan kita sebagai makhluk teomorfis. Agama mari kita pahami sebagai spirit dan upaya sadar, bukan dengan serta merta menerima musibah sebagai takdir tanpa berikhtiar melakukan upaya apa pun. Dan yang paling naif ketika agama dijadikan komoditas politik serta dijadikan alasan saling membenci dan membunuh dalam framing Hoax.

Sebagai makhluk yang memiliki akal budi, mari kita ubah tragedi menjadi pecut dan pendorong untuk membangun semangat kebersamaan, agar terselamatkan dari turbulensi keadaan. Mari menjadi manusia yang sejatinya manusia, sadar diri, sadar bertuhan dan sadar bahwa kita adalah penghuni jagat raya yang terkoneksi dengan makhluk kosmos lainnya.

Covid-19 yang berbarengan bulan suci Ramadhan kali ini, menjadi momentum refleksi kemanusiaan kita, sebagai sarana pensucian diri dari virus-virus pemberhalaan terhadap diri, kebanggaan terhadap yang serba materialistik, kerakusan terhadap posisi dan jabatan. Mari asah sisi ruhaniyah kita sebagai sisi yang menuntun kita pada nilai, sisi yang substansial dan sarat makna, agar kita tidak terjebak dalam kejahiliyahan akut (ignorance).

(Baca Juga : Masjid Al-Aqsa Segera Dibuka Setelah Idul Fitri)

Keluarga, sebagai benteng utama dari komponen masyarakat berbangsa, stay at home dengan durasi yang begitu panjang, memiliki dampak psikologis yang tidak mudah diurai dengan teori psikososial apapun. Mungkin dengan kembali mengingat memori pernikahan, bersyahadat atas nama Tuhan, setiap keluarga mengemban misi amanat dan tanggung jawab.

Wadah tumbuh suburnya cinta kasih dan kesetiaan, merajut harmoni dan kebahagiaan. Karena dari keluarga semua kekuatan dan kebaikan bermula, dari keluarga tumbuh generasi-generasi tangguh, dari keluarga lahirlah para pemimpin bangsa, dari keluarga lahir pejuang kemanusiaan.

Rumah harus bisa menjadi miqot peradaban dan enlightenment, madrasah pertama serta sebagai embrio penyadaran untuk berfikir dan bertindak logis. Mari kita rawat kebhinekaan dan beragamalah dengan memanusiakan manusia, karena agama hadir sebagai Rahmat bagi seluruh alam.

"LOVE-CONSCIOUSNESS-FELICITY"

Oleh: Zainun Nasihah Ghufron

Pengurus Pusat ISNU, Mahasiswa S-3 UIN Syarif Hidayatullah konsentrasi Pemikiran Islam (Filsafat)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya