Non-Muslim Akademisi: Nabi Muhammad Pejuang HAM Universal

Sarah Nurjannah, Jurnalis · Senin 29 Juni 2020 09:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 29 614 2237960 non-muslim-akademisi-nabi-muhammad-pejuang-ham-universal-TI2oCtxbQg.jpg Kaligrafi tulisan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. (Foto: Shutterstock)

KETELADANAN hidup Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam memikat seorang akademisi asal Amerika Serikat bernama Craig Considine. Ia bukan hanya menilai Rasulullah sebagai perintis serta penyebar ajaran agama Islam, namun juga perannya sebagai khalifah dinilai menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) kaum minoritas.

"Sikap (Nabi) Muhammad terhadap kelompok minoritas pada zamannya memerintah menunjukkan kelebihannya sebagai pejuang HAM yang universal, terutama yang berkaitan dengan kebebasan beribadah, dan hak bagi kaum minoritas untuk memiliki perlindungan selama masa konflik," ungkap sosiolog Craig Considine, dikutip dari About Islam, Senin (29/6/2020).

Baca juga: Mencontoh Rasulullah Berdakwah dengan Lemah Lembut 

Considine yang berkeyakinan Katolik ini menggali berbagai kebijakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang merepresentasikan kesadaran atas nilai-nilai HAM. Nabi Muhammad memprakarsai banyak hukum perjanjian dengan umat Kristen dan Yahudi. Salah satunya sebuah perjanjian dengan para biarawan Kristen di Bukit Sinai, Mesir, pada tahun kedua hijriah.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menjamin keamanan gereja, pemimpin, dan pengikutnya dalam beribadah. Mereka juga dikecualikan dalam membayar jizyah (pajak). Tidak lupa, Rasulullah memperingatkan umat Islam agar tidak melanggar perjanjian yang terkenal dengan sebutan Ashtiname.

Kaligrafi tulisan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. (Foto: Istimewa)

Dari sisi hukum, umat Kristen juga diberikan hak otonomi, pengadilan, dan sistem hukum yang tidak boleh diganggu. Mereka tidak boleh dipaksa untuk pergi berperang. Perempuan Kristen tidak boleh dipaksa menikahi lelaki Muslim.

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam benar-benar memberikan jaminan dan hak khusus kepada umat Kristen agar tidak segan hidup berdampingan dengan kelompok Muslim.

Baca juga: Nabi Muhammad Mendamaikan Suku yang Berebut Meletakkan Hajar Aswad 

Naskah perjanjian ini selama berabad-abad disimpan di gereja mereka sampai kemudian dalam perang Utsmani dengan Mamluk (1516–1517 Masehi). Dokumen asli diambil dan dibawa ke Sultan Salim I. Pihak Gereja Bukit Sinai hanya menyimpan salinannya.

"Melalui perjanjian ini, (Nabi) Muhammad menjelaskan bahwa Islam, sebagai cara hidup politis dan filosofis, menghormati dan melindungi orang-orang Kristen," ungkap Considine.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Kaum Yahudi juga menjadi perhatian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Terbukti dari substansi Piagam Madinah, Rasulullah menyebutkan sebuah visi kaum Muslim. Di dalamnya disebutkan bahwa seorang Muslim akan mempertahankan agamanya dan kaumnya. Sementara kaum Yahudi dianggap pihak yang mempunyai keyakinannya sendiri, namun dapat hidup berdampingan bersama umat Muslim.

Piagam Madinah lahir 600 tahun sebelum Piagam Magna Charta sebagai rujukan dalam membentuk konstitusi oleh dunia Barat. Beberapa poin penting yang diperuntukkan bagi kaum Muslimin dan non-Muslim dalam menjunjung HAM, di antaranya menyebutkan bahwa Muslim dari kalangan Quraisy dan Yastrib dan siapa pun yang mengikuti dan berjihad bersama adalah satu umat.

Baca juga: Kekhususan Nabi Muhammad: Tidak Menguap hingga Tahu Ringkihan Langit 

Kemudian kaum Yahudi disebut satu umat dengan orang mukmin, jadi tidak ada pemaksaan dalam memilih agama. Orang-orang Yahudi dan Muslim pun berkewajiban dalam menanggung nafkah mereka dan hendaklah saling tolong-menolong.

"Dalam mengembangkan argumen-argumen ini dengan sesama Muslim, Kristen, dan Yahudi, (Nabi) Muhammad jelas menolak elitisme dan rasisme serta menuntut agar umat Islam melihat saudara dari keturunan Ibrahim setara di hadapan Tuhan," imbuh Considine.

Kaligrafi tulisan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. (Foto: Istimewa)

Considine juga mengkaji khotbah terakhir Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang dinilainya sarat pesan kemanusiaan. Khotbah itu disampaikan pada 9 Zulhijah Tahun 10 Hijriah di Lembah Uranah, Gunung Arafah.

Dari Jarir Radhiyallahu anhu diriwayatkan:

"Sungguh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya, pada Haji Wada’ (haji perpisahan/haji terakhir Nabi). Simaklah dengan baik wahai orang-orang, lalu Beliau bersabda: 'Jangan kalian kembali kepada kekufuran setelah aku wafat, saling bunuh, dan memerangi satu sama lain'." (HR Bukhari)

Baca juga: Mengetahui Kelembutan yang Diajarkan Rasulullah 

Versi Considine, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berperang melawan rasisme jauh sebelum Martin Luther King dan Nelson Mandela. Lantaran substansi pesannya bagi umat Islam agar bersikap toleran terhadap perbedaan dan menyambut keragaman.

Bahkan Considine mengutip khotbah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam:

"... seorang kaum Arab bukanlah superioritas daripada non-Arab. Kaum non-Arab juga memiliki keunggulan; orang kulit putih tidak memiliki keunggulan di atas orang kulit hitam, juga orang kulit hitam tidak memiliki keunggulan di atas orang kulit putih kecuali oleh kesalihan dan tindakan yang baik."

Dalam artikel penelitian Considine yang berjudul 'What Studying Muhammad Taught Me About Islam (Apa yang Nabi Muhammad Ajarkan tentang Islam)' disebutkan detail tentang perlakuan setara berlaku bagi seluruh umat manusia.

Baca juga: Peristiwa Besar ketika Terjadi Gerhana Matahari di Zaman Nabi 

Kaligrafi tulisan Allah Subhanahu wa ta'ala dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. (Foto: Unsplash)

Ia mengatakan, mempelajari kebijakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam akan memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang prinsip-prinsip dasar Islam dan kehidupan.

"Perlakuannya (Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam) terhadap umat agama minoritas dan penganut keyakinan telah mendorong saya untuk lebih meningkatkan dialog antara Muslim, Kristen, dan Yahudi. Sekaligus menunjukkan kepada saya bahwa Beliau memang panutan bagi umat Islam dan non-Muslim. Semoga umat manusia dapat mengambil manfaat dari Islam," simpul Considine.

Baca juga: Mengetahui Cara Nabi Muhammad Memakai Cincin 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya