Butuh Keteladanan Wujudkan Moderasi Beragama

Rizka Diputra, Jurnalis · Rabu 01 Juli 2020 16:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 01 614 2239575 butuh-keteladanan-wujudkan-moderasi-beragama-iRhflpPspC.JPG KH. Muflich Chalif Ibrahim (Foto: Ist)

PRESIDEN Lajnah Tanfidziyah (LT) dari Syarikat Islam Indonesia, KH. Muflich Chalif Ibrahim mengatakan, untuk mewujudkan moderasi beragama khususnya kepada para generasi muda maka para penyelenggara negara juga harus memberi contoh atau keteladanan kepada mereka.

Karena masyarakat, utamanya para generasi muda tentunya pasti akan melihat hal-hal apa saja yang dilakukan para pejabat di negara tersebut.

“Menurut saya kita ini butuh keteladanan, contoh nyata dari para pejabat negara. Baik eksekutif, legislatif dan yudikatifnya. Dari tingkat pusat sampai ke daerah. Karena kalau pejabat negaranya sudah memberikan keteladanan tentunya masyarakat akan lebih mudah mengikutinya apalagi generasi mudanya,” ucapnya, dalam keterangan tertulis kepada Okezone, Rabu (1/7/2020).

Muflich menuturkan bahwa mengenalkan Islam yang moderat, toleran dan berkeadilan khususnya kepada para generasi muda adalah esensi agama itu sendiri. Karena semua agama sebetulnya tidak membenarkan dan tidak mentolerir mengenai adanya paham radikal terorisme apalagi yang kemudian sampai berujung pada kekerasan dan aksi teror.

Baca juga: Hukum Mendoakan Orangtua Beda Agama

“Karena pada hakikatnya, manusia ini sendiri harus memanusiakan manusia. Manusia harus meninggalkan kecenderungan yang tidak manusiawi, kecenderungan seperti hewan, kecenderungan seperti setan dan lain sebagainya,” kata Kiai Muflich.

Menurutnya, sesuai ideologi Pancasila, sejatinya aspek moralitaslah yang seharusnya di kedepankan. Yang mana seperti gotong royong dan aspek moralitas lainnya itu sebetulnya sudah mendarah daging di bumi nusantara ini bahkan sebelum 22 Juni 1945 ditetapkannya Pancasila.

“Jadi Pancasila, lima (5) sila itu saya sebagai muslim menganggap induk dari semua silanya itu adalah Alquran. Tapi dalam konteks kita dalam berbangsa dan bernegara, itu adalah suatu konsensus bersama, kesepakatan bersama, yang mana setiap kaum muslim juga wajib menjunjung dan menghormati itu,” paparnya.

Baca juga: Moderasi Beragama, Beda Pendapat Jangan Dianggap Lawan

Dia menjelaskan, mereka yang terpapar paham radikal terorisme sebenarnya golongan orang bersumbu pendek yang mudah dihasut karena tidak memahami agama Islam secara mendalam. Untuk itulah dirinya mengingatkan agar umat Islam mempelajari Islam secara mendalam agar tidak mudah terhasut yang berakibat mudah terpapar paham radikal terorisme tersebut.

“Jadi jangan sampai kita dihasut oleh pihak-pihak yang ingin membenturkan agama dengan negara, Islam dan Pancasila dan seterusnya. Jadi moderasi beragama ini sebenarnya bentuk tanggung jawab kita kepada agama kita, yang Islam ya kepada Islam, yang Kristen kepada Kristen dan sebagainya termasuk kepada generasi setelah kita yaitu para generasi muda,” tuturnya.

Jikapun sampai ada silang pendapat, Kiai Muflich menyarankan agar hal tersebut diselesaikan melalui musyawarah dengan duduk bersama dan berkepala dingin. Ini agar hal-hal yang berebeda tersebut bisa diselesaikan dengan baik demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini.

“Sekarang kan kedua belah pihak yang berbeda pandangan ini terkesan tidak mau menerima penjelasan. Jadi ya harus duduk bersama mereka-mereka itu, menyerap aspirasi, dimusyawarahkan bersama dan sebagainya hingga mencapai mufakat. Inilah yang harusnya kita contohkan kepada generasi muda demi menjaga persatuan bangsa ini,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini