Bagaimana Sih Tanda-Tanda Amal Ibadah Kita Diterima Allah?

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 07 Agustus 2020 20:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 07 330 2258677 bagaimana-sih-tanda-tanda-amal-ibadah-kita-diterima-allah-j3708S9nmL.jpg ilustrasi (stutterstock)

PIMPINAN Majelis Ta'lim Dzikrul Muhajirin Depok, Ustadz Amar Ma’ruf atau akrab disapa Gus Ma'ruf Halim mengatakan, amal ibadah diterima atau tidak oleh Allah Subhanahi wa ta’ala memang sulit diukur.

Siapapun, tidak boleh mengklaim atau meyakini diri, bahwa ibadah yang dilakukan telah diterima oleh-Nya.

“Begitu pula sebaliknya, seseorang tidak boleh pesimis atas amal ibadah yang telah dilakukan, apakah ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Diterima atau ditolaknya sebuah amal ibadah merupakan hak prerogatif Allah,” katanya saat dihubungi Okezone belum lama ini.

Baca juga:  Bikin Takjub, Begini Kesaksian Aisyah tentang Ibadah Malam Rasulullah

Ia melanjutkan, para ulama sangat hati-hati dalam membahas masalah ini. Ulama hanya bisa memberikan tanda-tanda, bahwa amal ibadah diterima oleh Allah. Salah satu ulama yang memberikan ciri, amal ibadah diterima oleh Allah adalah Syekh Ibnu Athoillah as Sakandari al Misry.

Dalam kitabnya yaitu Al Hikam. Beliau berkata :

من وجد ثمرة عمله عاجلاً فهو دليل على وجود القبول

Artinya: “Siapa yang memetik buah dari amalnya seketika di dunia, maka itu menunjukkan Allah menerima amalnya.”

Syekh Ahmad Zarruq dalam mensyarahi Kitab al Hikam memberikan penjelaskan, bahwa buah dari amal itu berbentuk kemaslahatan keagamaan dan kemaslahatan duniawi. Ia menyebut secara konkret bahwa buah dari amal ibadah adalah :

1. Kebahagiaan hidup yang diukur dengan perasaan bebas dari kekhawatiran dan kesedihan.

 

قلت ثمرة العمل ما ينشأ عنه من الفوائد الدينية والدنياوية. وذلك يدور على ثلاثة: حصول البشارة بزوال الخوف والحزن

Artinya: “Menurut saya, buah amal itu adalah faidah keagamaan dan keduniaan apapun yang muncul dari amal tersebut. Buah dari amal itu hanya terdiri atas tiga bentuk: pertama, munculnya kebahagiaan karena sirnanya kekhawatiran dan kesedihan,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 80).

2. Ketenangan hidup yang ditandai dengan keridhaan batin dan sifat qana‘ah atas segala pemberian Allah.

والحياة الطيبة بالرضا والقناعة

Artinya: “Kehidupan yang baik karena hati penuh ridha dan qonaah .

Baca juga:  Api Muncul di Dasar Lautan, Fenomena Tertulis dalam Alquran dan Terbukti Adanya

3. Keterbukaan rahasia atas penguasaan alam semesta.

وظهور سر الخلافة بتسخير الكائنات وانفعالها ظاهرا وباطنا

Artinya: “Penampakan rahasia kuasa atas penundukan dan pengaruh terhadap alam semesta lahir dan batin.”

“Sedangkan Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa kenikmatan dalam menjalankan ibadah itu sendiri sudah merupakan buah dari amal,” terangnya

 

Seperti hadist berikut ini Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:

وفى الحديث الصحيح قول ذلك الصحابي: فمنا من أينعت له ثمرته فهو يهديها، ومنا من مات لم يستوف من أجره شيئا منهم مصعب بن عمير رضى الله عنهم أجمعين. ومن طيب الحياة حلاوة الطاعة، فمن ثم يصح كونها ثمرة لا من حيث ذاتها فتدبر ذلك، وبالله التوفيق.

Artinya: “Dalam hadits shahih seorang sahabat Rasul berkata, ‘Sebagian kami ada yang memiliki ‘buah’ matang, lalu Allah menghadiahkan untuknya. Tetapi sebagian kami ada yang wafat dan belum sempat mencicipi buah dari amalnya, salah satu dari mereka adalah Mush‘ab bin Umair RA.’ Salah satu bentuk ketenangan hidup adalah merasakan kelezatan aktivitas ibadah. Dari sini kemudian dapat dipahami bahwa kelezatan aktivitas ibadah itu sendiri bisa disebut sebagai bentuk dari buah amal, bukan sekadar aktivitasnya itu sendiri,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 80-81).

Ada pula ulama yg mengtakan, ukuran diterima tidaknya sebuah amal ibadah termasuk Berkurban pada hari raya Idul Kurban/Adha adalah setelah seseorang melalukan Kurban. Maka apakah ia semakin tambah ketakwaannya?

Di antaranya semakin rajin beribadah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah SWT.

“Sebab, jika ia habis melalukan suatu ibadah dan dikemudian hari berikutnya tidak berdampak positif kepada dirinya, maka patut dipertanyakan, bahwa amal ibadah yang pernah dilakukan bisa jadi belum diterima oleh Allah,” ucap Gus Ma’ruf.

Dia mencontohkan saat orang beribadah kurban. “Setidaknya setelah seseorang melakukan ibadah kurban, diharapkan mendapatkan keberkahan yaitu tambahnya kebaikan pada diri orang yang telah berkurban tersebut,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini