Ibadah Haji dan Kurban Saling Terkait Erat, Begini Hikmahnya

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Sabtu 17 Juli 2021 15:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 17 330 2442123 ibadah-haji-dan-kurban-saling-terkait-erat-begini-hikmahnya-u32gMSkLyg.jpg Ibadah haji dan kurban. (Foto: AFP)

IBADAH haji dan kurban dua hal yang sangat terkait erat. Kedua ibadah yang dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah  tersebut terdapat hikmah, faidah, manfaat dan pelajaran yang dapat dipetik. Untuk apa? Demi memperbaiki langkah-langkah hidup menyongsong masa depan, agar meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat.

Nah di antara hikmah yang bisa dipeti dari amalan ibdaah haji dan kurban adalah:

Pertama: Kewajiban Terbesar Setiap Hamba adalah Tauhid, yaitu Beribadah Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Menjauhi Perbuatan Syirik

Baca Juga: Puasa Arafah Amalan yang Dimuliakan Bisa Menghapus Dosa 2 Tahun

Ustaz Sofyan Ruray menjelaskan, perhatikanlah mengapa berhaji, mengapa sholat Idul Adha dan mengapa  berkurban, semua itu tidak lain dalam rangka menghambakan diri hanya kepada Allah ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan awal pembangunan Kakbah dan perintah berhaji pertama kali, 

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

 

'Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun, dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” [QS. Al-Hajj: 26-27]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan pelajaran penting dari ayat ini, 

هَذَا فِيهِ تَقْرِيعٌ وَتَوْبِيخٌ لِمَنْ عَبَدَ غَيْرَ اللَّهِ، وَأَشْرَكَ بِهِ مِنْ قُرَيْشٍ، فِي الْبُقْعَةِ الَّتِي أسسّتْ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ عَلَى تَوْحِيدِ اللَّهِ وَعِبَادَتِهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ.

“Dalam ayat ini terdapat teguran dan celaan yang keras terhadap mereka yang beribadah kepada selain Allah dan menyekutukan-Nya, yaitu orang-orang Quraisy, di tempat yang sejak awal dibangun untuk mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya yang satu saja, tiada sekutu bagi-Nya.” [Tafsir Ibnu Katsir, 5/413]

Sebagaimana Allah ta’ala memerintahkan kepada kita untuk melakukan sholat Idul Fitri dan berkurban, 

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah hanya untuk Rabb-mu dan berkurbanlah hanya untuk-Nya.” [QS. Al-Kautsar: 2]

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah dalam Tafsir beliau menjelaskan makna ayat ini dengan menukil dari ulama Ahli Tafsir terdahulu, 

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ: إِنَّ نَاسًا كَانُوا يُصَلُّونَ لِغَيْرِ اللَّهِ، وَيَنْحَرُونَ لِغَيْرِ اللَّهِ، فَأَمَرَ اللَّهُ نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَكُونَ صَلَاتُهُ وَنَحْرُهُ لَهُ. وَقَالَ قَتَادَةُ وَعَطَاءٌ وَعِكْرِمَةُ: الْمُرَادُ صلاة العيد، ونحر الأضحية.

“Muhammad bin Ka’ab berkata: Sesungguhnya dahulu manusia melakukan sholat dan berkurban untuk menyembah selain Allah, maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk sholat dan berkurban hanya untuk Allah. Dan berkata Qotadah, Atho’ dan Ikrimah: Sholat dan menyembelih yang dimaksud dalam ayat ini adalah sholat hari raya dan menyembelih hewan kurban.” [Fathul Qodir, 5/614]

Kedua: Hendaklah Senantiasa Meneladani Sunnah dan Mengikuti Petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam

Kaum muslimin wal muslimat yang saya cintai rahimakumullaah, sejumlah ibadah yang dikerjakan, mengingatkan kita terhadap prinsip penting dalam hidup ini, yaitu senantiasa meneladani panutan manusia yakni  Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, karena tidaklah mungkin kita dapat beribadah kepada Allah dengan benar tanpa petunjuk beliau.

Baca Juga: Perintah Sering Mengingat Kematian, Begini Hikmahnya

Oleh karena itu dalam melaksanakan ibadah haji, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kepada umatnya, 

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah manasik haji kalian dariku.” [HR. Muslim dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro, dan lafaz ini milik beliau dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Pada hari raya Idul Adha, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, 

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا ، وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ عَجَّلَهُ لأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya pertama kali yang akan kita kerjakan pada hari ini (Idul Adha) adalah sholat, kemudian kita kembali, lalu kita berkurban. Maka barangsiapa yang melakukan itu, berarti dia telah mengamalkan sunnah kami dengan tepat, dan barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat maka itu hanyalah daging biasa yang dia berikan untuk keluarganya dan bukanlah sebuah nusuk (ibadah kurban) sama sekali.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Baro’ bin ‘Azib radhiyallahu’anhu]

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ketiga: Pentingnya Menuntut Ilmu Agama

Jama’ah sekalian yang saya hormati rahimakumullaah, cobalah kita renungkan kembali, mengapa kita mengetahui kewajiban berhaji dengan segenap tata caranya, mengapa kita mengetahui sholat hari raya dengan cara yang berbeda dari sholat lima, mengapa kita mengetahui syari’at berkurban dengan segenap aturannya, semua itu tidak lain karena kita belajar ilmu agama, kita membaca Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita mendengarkan dari para Ustadz dan Kiai, sehingga dapat mengamalkannya dan menguatkan keimanan.

Oleh karena itu  semakin dalam ilmu agama yang dipelajari maka semakin banyak yang dapat diamalkan dan keimanan  akan semakin kokoh insya Allah.

Baca Juga: 15 Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Maka dari itu Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah: 11]

Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dengan agama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqoloni Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, 

وَمَفْهُومُ الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ أَيْ يَتَعَلَّمْ قَوَاعِدَ الْإِسْلَامِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوعِ فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ

“Mafhum hadits ini adalah, siapa yang tidak melakukan tafaqquh fid diin (berusaha memahami agama), yaitu tidak mempelajari kaidah-kaidah Islam dan cabang-cabangnya maka sungguh ia telah diharamkan untuk meraih kebaikan.” [Fathul Baari, 1/165].

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan, 

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan tidaklah ada satu kaum yang berkumpul di rumah Allah; membaca kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dicurahkan kepada mereka rahmat, malaikat meliputi mereka dan Allah menyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Keempat: Mengokohkan Persaudaraan dan Menguatkan Ikatan Kasih Sayang dengan Bersedekah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, 

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Maka makanlah sebagian dari hewan sembelihan, dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” [QS. Al-Hajj: 28] 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, 

فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا

“Makanlah hewan kurban itu, simpanlah dan bersedekahlah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Kelima:

Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam di Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam, 

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاء الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

“(Ibrahim berkata): “Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih”. Maka (kata Allah) Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, maka Ibrahim berkata: 'Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [QS. Ash-Shofat: 100-107]

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya