KH Ahmad Dahlan Ulama Pejuang Pelopor Pendidikan Modern di Indonesia

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 17 Agustus 2021 10:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 17 330 2456693 kh-ahmad-dahlan-ulama-pejuang-pelopor-pendidikan-modern-di-indonesia-boWJ4ZsnsY.jpg KH Ahmad Dahlan tokoh ulama sekaligus pejuang. (Foto: Suara Muhammadiyah)

KH Ahmad Dahlan   ulama pejuang bukan hanya mengusir penjajah, juga berperan besar mendirikan pusat pendidikan Islam yang sangat berpengaruh hingga saat ini. KH Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah, yang melakukan perubahan besar dalam banyak bidang di Indonesia, terutama pendidikan.

Melansir dari channel YouTube, Muhammadiyah Channel, Kiai Ahmad Dahlan merupakan tokoh agama, pendidikan, sekaligus tokoh masyarakat yang disegani. Sejak awal abad ke-20 ia dan Muhammadiyah telah mewarnai proses pembentukan Indonesia modern. Bahkan sampai saat ide-ide Kiai Ahmad Dahlan masih tetap lestari.

Kiai Ahmad Dahlan lahir dengan nama asli Muhammad Darwisy di kampung Kauman, Yogyakarta. Beliau lahir pada 1 Agustus 1868. Dia adalah putra pasangan KH Abu Bakar dan Nyai Abu Bakar, putri dari Haji Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu Kesultanan Yogyakarta.

Baca Juga: Jenderal Soedirman, Pejuang Kemerdekaan Hasil Didikan Organisasi Islam Muhammadiyah

Dalam silsilah keluarga, Kiai Ahmad Dahlan merupakan keturunan ke-12 dari Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan salah satu Wali Songo, pelopor pertama penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa.

Memang sejak kecil, Ahmad Dahlan sudah dipersiapkan untuk menjadi seorang ulama oleh kedua orangtuanya. Menjelang dewasa, ia berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk mempelajari ide-ide pembaharuan, seperti beragam tafsir, dan tokoh Islam lainnya. Pada usia 20 tahun, ia kembali ke kampungnya dan mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan.

Suami dari Hj. Siti Walidah ini juga bergaul dan berdialog dengan semua kalangan seperti, ulama, rakyat jelata, bangsawan, pendeta, hingga misionaris, guna merealisasikan ide-ide pembaharuannya. Pada tahun 1906, Ahmad Dahlan berhasil masuk menjadi anggota Boedi Oetomo.

Baca Juga: Kisah Bung Karno Meminta Nasihat KH A Wahab Chasbullah untuk Merebut Papua dari Belanda

Di sana ia memberikan pelajaran agama di kalangan priyai Jawa. Setelah itu, dirinya membangun sekolah dengan sistem pendidikan modern karena adanya dukungan dari kalangan priayi. Ide pemikiran beliau terbukti bisa menumbuhkan ajaran pendidikan yang khas.

Sejarawan Ahmad Adaby mengatakan, Ahmad Dahlan mengatakan bahwa pendidikan barat pada dasarnya mengadopsi dari ilmu-ilmu warisan para sendekiawan muslim terdahulu.

"Dulunya ilmu-ilmu barat itu dari cendekiawan muslim dan akhirnya dibawa ke barat dan ke sini (Indonesia). Jadi sama saja, semua ilmu itu datangnya dari Allah,” kata Adaby, menjelaskan pola pemikiran Kiai Ahmad Dahlan.

Kiai Ahmad Dahlan juga melakukan pergerakan pembaharuan arah kiblat, karena dahulu semua masjid di Indonesia arah kiblatnya adalah ke arah barat persis. Beliau yang memilliki dasar ilmu falak dan astronomi akhirnya melakukan pembaharuan arah kiblat tersebut karena saat itu memang keliru.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Pada 18 November 1912, Kiai Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk mewujudkan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara.

Dia ingin ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Alquran dan Hadits. Sejak awal Kiai Ahmad Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Baca Juga: Kisah Kiai Subchi Ulama Pejuang Memberikan Kekuatan pada Bambu Runcing

Ide pendirian Muhammadiyah oleh Kiai Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnah, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam.

Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang berbeda agama. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya.

Baca Juga: Pangeran Diponegoro Menolak Bicara Perang Kepada Belanda Selama Puasa Ramadhan

Namun, ia berteguh hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di Tanah Air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Dirinya juga sangat berkeinginan memberantas kemiskinan dan kebodohan, serta keterbelakangan dalam setiap dakwahnya.

Selain Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan juga membentuk organisasi Aisiyah yang merupakan tempat untuk wanita berjuang mendampingi pria. Ia percaya bahwa tanpa perempuan, sebuah perjuangan tidak akan berhasil.

Beliau mengurus organisasi ini bersama istrinya, Hj. Siti Walidah. Di sana lah, para perempuan muslim dibina dalam beragama dan beroganisasi. Tujuannya, agar mereka mengetahui bahwa perempuan juga makhluk yang bertanggung jawab.

Kiai Ahmad Dahlan tutup usia pada 23 Februari 1923 dalam usia 55 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Karangkajen, Yogyakarta.

Atas jasa-jasanya dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia (RI) menetapkan Kiai Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 657 tahun 1961.

“Ahmad Dahlan merupakan pribadi yang sangat terbuka, mau menerima pendapat dan saran dari siapapun asal itu mengarah pada hal yang maju,” ujar Anggota Pengurus Muhammadiyah DI Yogyakarta, HM Muclas Abror, dilansir dari channel YouTube, Muhammadiyah Channel.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya