Abdul Muthalib sendiri sebelum pergi menyempatkan untuk "pamit" terlebih dahulu ke Baitullah seraya berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
"Wahai Tuhanku, tidak ada yang kuharapkan selain dari-Mu. Wahai Tuhanku, selamatkan rumah-Mu dari serangan mereka. Sesungguhnya mereka yang akan merusak bait-Mu, adalah musuh-Mu."
Baca juga: Sejarah dan Keistimewaan Bulan Rajab, dari Isra Mikraj hingga Pecahnya Perang Yarmuk
Doa Abdul Muthalib yang tulus dan amat bersungguh-sungguh itu kiranya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.
Sebelum menjamah Kakbah, tentara Abrahah telah disambut oleh gerombolan burung ababil yang melemparkan bebatuan. Mereka pun binasa bagaikan dedaunan yang dimakan ulat.
Di tengah peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh pasukan gajah tersebut, lahir seorang anak laki-laki dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim Dianugerahi Anak Usai Menjamu Tamu dengan Sangat Mulia
Setelah lahir di tahun gajah tersebut, Abdul Muthalib yang mendengar kabar ini sangat gembira, mengangkatnya, dan membawanya ke Kakbah. Ia memberi nama Muhammad untuk sang cucu, bukan nama umum di kalangan Arab saat itu.
Demikianlah cara Allah Subhanahu wa ta'ala menghancurkan pasukan bergajah yang hendak menghancurkan Kakbah. Wallahu a'lam bishawab.
(Hantoro)