Share

Ini Hukum Musafir Sholat Jamak Sekaligus Qashar

Tim Okezone, Jurnalis · Sabtu 13 Agustus 2022 10:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 13 330 2647119 ini-hukum-musafir-sholat-jamak-sekaligus-qashar-2euudISyXF.jpg Ilustrasi hukum musafir sholat jamak sekaligus qashar. (Foto: Shutterstock)

BAGAIMANA hukum musafir sholat jamak sekaligus qashar? Apakah boleh menurut syariat Islam? Berikut ini penjelasan lengkapnya.

Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, sholatnya musafir adalah sholat yang dilakukan oleh seseorang ketika sedang melakukan perjalanan atau safar. Pengertian safar adalah suatu kondisi yang biasa dianggap orang itu safar, tidak bisa dibatasi oleh jarak tertentu atau waktu tertentu.

Baca juga: Wapres Kenang Habib Zein bin Smith: Ulama yang Jadi Teladan di Indonesia 

Info grafis amalan bulan Muharram. (Foto: Okezone)

Orang yang melakukan perjalanan disebut musafir. Bagi mereka, Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya tidak ingin memberatkan umat-Nya. Oleh karenanya, Islam mensyariatkan adanya rukhsah sholat jamak dan sholat qasar.

Sholat jamak adalah mengumpulkan dua macam sholat dalam satu waktu tertentu. Dua macam sholat itu adalah Sholat Dzuhur dengan Sholat Ashar dan Sholat Maghrib dengan Sholat Isya. Sedangkan sholat qasar adalah memendekkan/meringkas jumlah rakaat pada sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat yaitu Sholat Dzuhur, Ashar, dan Isya.

Baca juga: Hukum Tajwid Surat Ar-Ra'd Ayat 28, Mari Dipahami agar Lebih Tepat Membacanya 

Adapun dalil-dalil yang menerangkan tentang sholat jamak adalah sebagai berikut: Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata: "Nabi Shallallahu alaihi wassallam pernah menjamak antara Sholat Dzuhur dan Ashar di Madinah bukan karena bepergian juga bukan karena takut. Saya bertanya: Wahai Abu Abbas, mengapa bisa demikian? Dia menjawab: Dia (Nabi Shallallahu alaihi wassallam) tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya." (HR Ahmad)

Hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, ia berkata: "Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam jika berangkat dalam bepergiannya sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan Sholat Dzuhur ke waktu Sholat Ashar; kemudian beliau turun dari kendaraan kemudian beliau menjamak dua sholat tersebut. Apabila sudah tergelincir matahari sebelum beliau berangkat, beliau Sholat Dzuhur terlebih dahulu kemudian naik kendaraan." (Muttafaq ‘Alaih)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Adapun dalil yang menerangkan tentang Sholat Qasar diterangkan dalam QS An-Nisaa': 101, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: "Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qasar sholatmu jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu."

Selain itu, ada pula hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha: "Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassallam pernah meng-qashar dalam perjalanan dan menyempurnakannya, pernah tidak puasa dan puasa." (HR Ad-Daruquthni)

Ada juga hadis yang diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu anhu: "Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam Sholat Dzuhur di Madinah empat rakaat dan Sholat Ashar di Dzul-Hulaifah dua rakaat." (HR Muslim)

Pelaksanaan sholat jamak dan qashar itu tidak selalu menjadi satu paket (sholat jamak sekaligus qashar). Seorang yang menqashar salatnya karena musafir tidak mesti harus menjamak salatnya, demikian pula sebaliknya.

Seperti melakukan Sholat Dzuhur dua rakaat pada waktunya dan Sholat Ashar dua rakaat pada waktunya atau menjamak Sholat Dzuhur dan Sholat Ashar masing-masing empat rakaat baik jamak taqdim maupun takkhir. Diperbolehkan pula menjamak dan meng-qashar sekaligus.

Ada pendapat ulama mengenai seorang musafir tetapi dalam keadaan menetap tidak dalam perjalanan, seperti seorang yang berasal dari Indonesia bepergian ke Arab Saudi untuk berhaji, selama ia di sana boleh meng-qashar sholatnya dengan tidak menjamaknya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wassallam ketika berada di Mina.

Meski demikian, boleh-boleh saja dia menjamak dan meng-qashar sholatnya ketika musafir seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu alaihi wassallam ketika berada di Tabuk.

Dalam kasus ini, ketika dia dalam perjalanan lebih baik menjamak dan meng-qashar sholat, karena yang demikian lebih ringan, tidak memberatkan di perjalanan dan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam. Namun ketika telah menetap di Arab Saudi lebih utama meng-qashar saja tanpa menjamaknya.

Allahu a'lam bisshawab.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini