Share

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 184 tentang Orang-Orang yang Boleh Tidak Puasa Ramadhan

Hantoro, Jurnalis · Minggu 26 Februari 2023 05:26 WIB
https: img.okezone.com content 2023 02 25 330 2771263 tafsir-surat-al-baqarah-ayat-184-tentang-orang-orang-yang-boleh-tidak-puasa-ramadhan-8UvR7cXsKc.jpeg Ilustrasi tafsir Alquran Surat Al Baqarah Ayat 184 tentang orang-orang yang mendapat keringanan boleh tidak puasa Ramadhan. (Foto: Pexels)

TAFSIR Surat Al Baqarah Ayat 184 sangat penting diketahui setiap Muslim. Berisi tentang orang-orang yang mendapat keringanan tidak menunaikan puasa Ramadhan.

Surat Al Baqarah Ayat 184 menjelaskan tentang keringanan bagi orang yang sakit dan musafir untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Berikut isinya:

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: "(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS Al Baqarah (2): 184)

BACA JUGA:Hukum Tidur Seharian saat Puasa Ramadhan 

Info grafis puasa Ramadhan. (Foto: Okezone)

BACA JUGA:Cara Wanita Hamil Melaksanakan Puasa Ramadhan, Calon Ibu Wajib Tahu 

Syekh Profesor Dr Wahbah Az-Zuhaili, pakar fikih dan tafsir dari Suriah, menerangkan tafsir Surat Al Baqarah Ayat 182 yakni umat Islam diwajibkan puasa pada hari yang telah ditentukan, atau dengan kata lain yakni puasa Ramadhan.

Apabila merasa badan tidak enak badan atau sakit, apabila berpuasa makin menambah parah sakitnya, serta para musafir, dibolehkan untuk tidak berpuasa. Namun, dia harus mengganti puasa pada hari-hari yang seharusnya dia tidak puasa setelah sehat atau berpergian.

Ada juga golongan yang waib membayar fidyah karena ketidakmampuan dalam berpuasa dan mengganti puasa. Dialah orang yang hamil, ibu, menyusui serta lansia. Jumlahnya adalah memberi makan satu orang miskin untuk satu hari. Takaran pemberian makanannya adalah setengah sha' gandum, 1 sha' kurma, atau bahan lainnya.

Barang siapa memberi makan lebih dari satu orang miskin, atau melebihi takaran fidiyah, maka pahalanya lebih utama dan lebih banyak. Puasa itu lebih baik bagi mereka daripada tidak puasa dengan memberi fidiyah, jika mengetahui takaran pahala puasa di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Ibnu Sa'd dalam beberapa catatannya meriwayatkan dari Mujahid yang berkata, "Ayat ini diturunkan tentang majikan Qays bin As-Saib {Wa 'alalladzin Yuthiquunahu} lalu dia membatalkan puasa dan memberi makan satu orang miskin setiap harinya."

Menurut Ustadz Marwan Hadidi bin Musa dalam kitab "Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an", ayat ini ditujukan bagi orang yang sakit berat, orang yang sangat tua, orang yang hamil atau menyusui yang mengkhawatirkan anaknya.

Faedahnya, ada sebagian yang berpendapat agar bisa berpuasa terlebih dahulu. Saat dirasa memberatkan, baru bisa tidak berpuasa.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala memerintahkan secara bertahap. Allah Ta'ala memberikan pilihan kepada mereka yang mampu berpuasa untuk melakukan salah satu dari kedua perkara ini: berpuasa atau membayar fidyah. Namun, berpuasa tetap lebih utama.

Setelah itu, Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjadikan puasa mesti dilakukan bagi mereka yang mampu (yakni mampu, sehat dan hadir pada bulan itu di negeri tempat tinggalnya) dengan firman-Nya, "Faman syahida minkumusy syahra fal yashum-h." 

Ibnu Abbas berkata, "Kecuali wanita yang hamil dan menyusui, jika keduanya mengkhawatirkan keadaan anaknya, maka ayat ini tetap berlaku, tidak dihapus hukumnya bagi mereka berdua."

Seukuran 1 mud (satu kaupan tangan orang dewasa) dari makanan pokok daerah setempat. Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

Demikian penjelasan mengenai tafsir Surat Al Baqarah Ayat 184 tentang orang-orang yang mendapat keringanan untuk tidak menjalankan puasa Ramadhan.

Allahu a'lam bisshawab

1
3
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini