Imam Fakhruddin ar-Razi menguraikan, dalam satu ayat ini terkandung dua belas bentuk adab antara guru dan murid yang luar biasa:
Pertama, merendahkan diri di hadapan guru. Nabi Musa berkata “هَلْ أَتَّبِعُكَ” (Bolehkah aku mengikutimu?). Ucapan ini menunjukkan kerendahan hati dan kesiapan untuk belajar, menempatkan diri sebagai murid yang tunduk dan menghormati gurunya.
Kedua, meminta izin dengan sopan. Nabi Musa tidak langsung mengikuti, tetapi terlebih dahulu meminta izin. Ini mengajarkan menghormati guru berarti tidak mengambil waktunya tanpa persetujuan, serta menjaga tata krama dalam berinteraksi.
Ketiga, mengakui keterbatasan diri. Dengan mengatakan “عَلى أَنْ تعَلِّمَنِ” (agar engkau mengajarkanku), Nabi Musa menyadari ada ilmu yang belum diketahuinya. Kesadaran ini adalah cermin kerendahan hati seorang penuntut ilmu.
Keempat, tidak meminta ilmu secara berlebihan. Nabi Musa berkata “مِمَّا عُلِّمْتَ” (sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu). Seolah beliau berkata: “Aku tidak meminta agar disamakan dalam ilmu, tetapi hanya ingin mengambil sebagian darinya, sebagaimana orang miskin meminta sebagian harta dari orang kaya.”
Kelima, menyadari bahwa ilmu berasal dari Allah. Dengan menyebut “مِمَّا عُلِّمْتَ”, Nabi Musa menegaskan bahwa ilmu hakikatnya milik Allah. Guru hanyalah perantara yang diberi amanah untuk menyampaikan ilmu itu.
Keenam, meminta ilmu yang bermanfaat. Nabi Musa memohon “رُشْدًا” (ilmu yang memberi petunjuk). Artinya, tujuan belajar bukan hanya agar pintar, tetapi agar mendapatkan hidayah dan kebaikan dunia akhirat.