Ayat ini menunjukkan dengan tegas bahwa tidak ada makhluk apapun—manusia, malaikat, jin, atau bahkan Nabi Muhammad sendiri—yang bisa mengetahui perkara gaib. Pengetahuan tentang hal yang gaib adalah hak prerogatif Allah semata.
Lebih lanjut, Allah menjelaskan dalam Surat Luqman ayat 34 tentang lima hal gaib yang khusus hanya diketahui oleh Allah:
اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: "Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok. Begitu pula, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." (Q.S Luqman: 34)
Lima hal gaib tersebut adalah: (1) waktu hari kiamat, (2) turunnya hujan, (3) keadaan janin dalam rahim, (4) apa yang akan dilakukan di esok hari, dan (5) tempat serta waktu kematian seseorang.
Selain dari Al-Qur'an, Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang sangat keras mengenai bahaya mendatangi peramal atau dukun. Dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
"Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun atau peramal, lalu dia percaya pada apa yang dikatakan maka dia telah mengingkari (kufur) syari'at yang diturunkan pada Nabi Muhammad."