nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alquran, Wahyu dan Ilmu

Minggu 19 Mei 2019 04:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 19 330 2057480 alquran-wahyu-dan-ilmu-mOArMEceN0.jpg Alquran Surah Al Kahfi

SALAH satu keistimewaan Ramadan adalah bulan diturunkannya Alquran (nuzulul Qur’an). Berbagai riwayat menyebutkan bahwa wahyu pertama turun pada suatu malam menjelang akhir Ramadan, yang oleh Alquran disebut sebagai lailatul qadar (QS al-Qadr/97: 1-7).

Berdasarkan hadits Nabi “carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan” (HR Bukhari-Muslim), wahyu Alquran turun pertama kali pada malam-malam terakhir Ramadan. Ini diperkuat dengan hadits Nabi: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal Ramadan, Taurat pada 7 Ramadan, Injil pada 13 Ramadan, dan Alquran pada 25 Ramadan” (HR Ahmad).

Keterangan ini tidak perlu digunakan sebagai hujjah untuk menentang tradisi masyarakat Indonesia yang memperingati nuzulul Alquran pada malam ke-17 Ramadan. Sebab, perkara ini termasuk khilafiah. Ibn Hajar al-Asqalani, dalam kitab Fath al-Bari, menyebutkan kurang lebih terdapat 40 pendapat ulama tentang kapan tepatnya nuzulul Alquran.

Alquran adalah mukjizat terbesar yang diturunkan pada konteks masyarakat Arab yang menempatkan kefasihan dan keindahan berbahasa sebagai ukuran keadaban tertinggi. Alquran turun dengan estetika bahasa yang tak tertandingi. Banyak penyair hebat Arab takluk dan kemudian beriman karena terpukau oleh bahasa wahyu yang tidak mungkin berasal dari manusia.

Wahyu yang pertama kali turun adalah surat al-Alaq (QS 96: 1-5) yang dimulai dengan perintah “Bacalah” Dengan demikian, Allah melandaskan ajaran Muhammad pada ilmu dan tradisi ilmiah. Ilmu inilah yang meninggalkan derajat Adam as di atas malaikat (QS 2: 30-34).

Wahyu pertama bertutur tentang perintah membaca dengan nama Allah sebagai khaliq dan mu’allim (pengajar), yang mengajar manusia melalui pena (qalam). Wahyu kedua (QS 68: 1-4) dimulai dengan huruf tunggal (Nun), yang diikuti dengan sumpah Tuhan demi pena (wal qalami).

Pena adalah alat utama Tuhan mengajarkan ilmunya kepada manusia. Ketika ditanya tentang pena, Nabi berkata: “Hal pertama yang Allah ciptakan adalah pena. Dia menciptakan lembaran dan berkata kepada pena itu, ‘Tulislah!’ Pena menjawab ‘Apa yang harus kutulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah ilmuku tentang penciptaan-ku hingga tiba hari kebangkitan.’ Kemudian pena itu menorehkan apa yang diperintahkan” (HR Tirmidzi).

Sumpah demi pena disambung dengan sumpah yang kedua: wa ma yasthurun (demi apa yang mereka tulis). Di antara yang mereka (malaikat) tulis di langit dengan pena adalah bentuk asli Alquran, yang kelak diturunkan kepada Nabi Muhammad saw pada malam lailatul qadar.

Wahyu pertama dan kedua menunjukkan betapa pentingnya ilmu serta proses memperolehnya (membaca) dan instrument yang digunakannya (pena). Umat Islam disuruh membaca apa saja. Alquran tidak memilah dan merinci apa yang harus dibaca. Alquran hanya menegaskan, “Bacalah dengan nama Tuhanmu!’. Artinya, apa pun yang engkau baca, harus dilandasi oleh semangat mencari ilmu Tuhan dan menemukan kebenaran.

Sikap ilmiah juga ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada hari di mana putra Nabi, Ibrahim, meninggal terjadilah gerhana matahari. Sebagian sahabat menghubungkan kejadian ini dengan kematian putra beliau. Nabi segera mematahkan kecenderungan mistifikasi ini dengan menyatakan:

“Matahari dan bulan adalah dua tanda dari sekian tanda kebesaran Allah. Cahaya mereka tidak redup karena kematian seseorang. Jika engkau melihat gerhana bulan atau matahari, dirikanlah salat hingga gerhana itu hilang” (HR Bukhari-Muslim).

Nabi tidak membiarkan terjadinya penafsiran yang mengarah kepada tahayul. Dengan menyatakan bahwa gerhana adalah bagian dari tanda kebesaran Allah, Nabi menyuruh umatnya untuk berpikir ilmiah, membaca tanda, dan kemudian bersujud. Inilah semangat Islam. Maka, puasa adalah jalan takwa untuk semua. Puasa adalah ritual dengan kandungan nilai yang universal.

Inspirasi Ramadhan 1440 H

Oleh Ali Masykur Musa

(Ketua Umum PP ISNU-Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini