Perkembangan zaman seakan mengharuskan penyempurnaan terhadap tulisan Alquran agar lebih mudah lagi untuk dibaca dan dipahami. Dari situlah muncul seseorang bernama Khalil bin Ahmad al-Farahidy yang menulis tentang titik serta kelemahannya.
Beliau juga menciptakan tanda hamzah, tasydid dan Isymam. Kemudian muncul lagi seseorang ahli bahasa bernama Abu Hatim as-Sijistany yang menguraikan panjang lebar tentang syakl dan titik. Penyempurnaan penulisan mushaf Alquran pada akhir abad ke-3 dapat disebut mencapai puncaknya.
Usaha penyempurnaan penulisan mushaf Alquran dilanjutkan lagi dengan memberikan tanda pada akhir ayat, pembagian Alquran atas 30 juz, pembagian juz atas hizb, dan pembagian hizb atas arba’ yang masing-masing menggunakan tanda-tanda khusus. Selain itu, pemberian nomer secara berurutan juga perlu dilakukan agar dapat mengetahui jumlah ayat yang terdapat dalam satu surat.
Salah seorang ahli khat (kaligrafi) bernama Khalid bin Abi al-Hayyaj yang terkenal dengan keindahan tulisannya juga turut serta dalam rangka penyempurnaan penulisan Al-Qur’an.
Pada waktu itu penulisan Alquran menggunakan khat Kufi sampai akhir abad ke-4. Kemudian pada awal abad ke-5, penulisan Alquran diganti menggunakan khat Naskhi yang sudah dilengkapi dengan baris, titik, tanda baca, tanda ayat, tanda juz, dan tanda lain yang dapat kita saksikan pada Alquran sekarang ini.
(Dyah Ratna Meta Novia)