nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Air Minum Daur Ulang, Halalkah? Ini Penjelasan MUI

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 28 Agustus 2019 09:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 08 28 614 2097517 air-minum-daur-ulang-halalkah-ini-penjelasan-mui-Mkbm4TS0vi.jpg Air minum daur ulang, halalkah? (Foto: Lifeleisure)

PROFESOR Biologi dari George Washington University, Randall K Packer, menyebut manusia dapat bertahan hidup hingga 3 pekan tanpa makanan. Namun hanya dapat bertahan tanpa air minum maksimal selama satu pekan.

Ironisnya, populasi penduduk yang terus bertambah dan tumbuhnya industri, secara tidak langsung meningkatkan kebutuhan akan air minum. Hal ini ternyata tidak diikuti oleh pasokan atau sumber air yang memadai.

Minum air putih

Buktinya sudah banyak krisis air yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, bahkan dunia. Berawal dari fakta tersebut, para peneliti mulai melakukan inovasi untuk menciptakan sumber mata air baru, termasuk mengembangkan teknologi daur ulang untuk memproduksi air minum. Namun, bagaimanakah kehalalannya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Komisi Fatwa MUI dan Infokom MUI mengeluarkan Fatwa No.2 Tahun 2010. Berikut penjelasan lengkapnya:

Ketentuan Umum

1. Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan air daur ulang adalah air hasil olahan (rekayasa teknologi) dari air yang telah digunakan (musta’mal), terkena najis (mutanajjis) atau yang telah berubah salah satu sifatnya, yakni rasa, warna, dan bau (mutaghayyir) sehingga dapat dimanfaatkan kembali;

2.Air dua kullah adalah air yang volumenya mencapai paling kurang 270 liter.

Ilustrasi penyulingan air

Ketentuan Hukum

1.Air daur ulang adalah suci mensucikan (thahir muthahhir), sepanjang diproses sesuai dengan ketentuan fikih.

2.Ketentuan fikih sebagaimana dimaksud dalam ketentuan hukum nomor 1 adalah dengan salah satu dari tiga cara berikut;

a. Thariqat an-Nazh: yaitu dengan cara menguras air yang terkena najis atau yang telah berubah sifatnya tersebut, sehingga yang tersisa tinggal air yang aman dari najis dan yang tidak berubah salah satu sifatnya;

b. Thariqah al-Mukatsarah: yaitu dengan cara menambahkan air suci lagi mensucikan (thahir muthhahir) pada air yang terkena najis (mutanajjis) atau yang berubah (mutaghayyir) tersebut hingga mencapai volume paling kurang dua kullah; serta unsur najis dan semua sifat yang menyebabkan air itu berubah menjadi hilang;

Minum air putih

c. Thariqah Taghyir: yaitu dengan cara mengubah air yang terkena najis atau yang telah berubah sifatnya tersebut dengan menggunakan alat bantu yang dapat mengembalikan sifat-sifat asli air itu menjadi suci lagi mensucikan (thahir muthahhir), dengan syarat: 1. Volume airnya lebih dari dua kullah. 2. Alat bantu yang digunakan harus suci.

3.Air daur ulang sebagaimana dimaksud dalam angka 1 boleh dipergunakan untuk berwudhu, mandi, mensucikan najis, dan istinja, serta halal diminum, digunakan untuk memasak dan untuk kepentingan lainnya, selama tidak membahayakan kesehatan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini